Frame

ADVEN I (A): Menanti Kedatangan Yesus Dalam Hidup Sehari-hari

Bacaan: Yes2:1- 5; Rm 13:11- 14a; Mat 24:37 – 44
“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”

Kita memasuki masa Adven, masa penantian kedatangan Yesus. Adven biasanya dimaknai dan dihayati sebagai masa untuk menantikan kelahiran Yesus atau kedatangan Yesus di hari raya Natal. Penghayatan makna Adven seperti itu memang benar. Namun perlu diingat juga bahwa Yesus sebetulnya datang setiap saat dalam hidup kita. Dan kalau Yesus datang pasti membawa berkat dan keajaiban. Keajaiban itu tidak harus terjadi dalam hal-hal yang luar biasa atau spektakuler, tetapi bisa juga dalam hal-hal yang biasa, namun bisa dialami secara luar biasa. Ada sebuah kisah tentang Maria Ratna yang mungkin bisa membantu kita untuk lebih memahaminya.

Maria Ratna (65 tahun), ibu dari 6 anak dan nenek dari 13 cucu, tinggal sendiri sejak suaminya meninggal. Rumahnya berukuran 2,5 x 2,5 m di daerah Pendongkelan, Jakarta, yang disewanya dengan harga Rp. 125.000 / bulan. Ruangannya sangat sederhana, ada kasur lusuh dengan beberapa bantal dan guling. Di atas meja pendek dekat kasur, ada Kitab Suci yang katanya ia baca setiap malam. “Saya sering merasa bahagia tak berhingga belakangan ini. Saya sangat bersyukur karena keadaan saya sekarang ini jauh lebih baik dari waktu-waktu yang lalu. Saya merasa mukjizat datang setiap hari dalam hidup saya. Mukjizat itu ialah kesehatan, kedamaian hati, dan menerima dengan ikhlas apa yang harus  saya jalani saat ini. Memang hanya itu yang saya minta dari Tuhan”, katanya. Maria menyambung hidupnya sehari-hari dengan mengemis di perempatan Coca-cola, Jakarta Pusat. (“Ketika Natal Tiba”, Kompas, 26 Des 2004).

Maria Ratna mengalami mukjizat dari Tuhan bukan dalam hal yang luar biasa, tetapi dalam hal-hal keseharian yang biasa. Kesehatan, kedamaian, menerima kenyataan, itu hal-hal yang amat biasa. Namun dalam terang iman ia mengalaminya secara luar biasa. Dalam terang iman ia melihatnya sebagai mukjizat dari Tuhan. Kenyataan iman itu punya makna, ibu Maria Ratna setiap hari mengalami kedatangan Tuhan dalam gubuknya yang sederhana, membawa berkat dan melakukan mukjizat. Pengalaman keajiban Tuhan itu hanya bisa terjadi, karena ibu Maria Ratna selalu berjaga-jaga, senantiasa menanti kedatangan Tuhan dalam keseharian hidupnya. Sikap berjaga-jaga itu terutama ia lakukan dengan meluangkan waktu membaca Kitab Suci setiap malam. Dengan membaca Kitab Suci setiap malam, ia mempertajam kepekaan imannya. Sehingga ia semakin peka terhadap kedatangan dan karya kasih Tuhan dalam hidupnya sehari-hari.

Menanti berarti berjaga-jaga. Kalau kita menanti kedatangan Yesus, kita harus berjaga-jaga. Yesus datang pada waktu yang tidak dapat diduga seorang pun. Yesus juga datang dalam wujud yang tidak dapat dipahami. Karena itu hal yang sangat dibutuhkan adalah kepekaan iman. Kepekaan iman akan kedatangan Yesus dalam hidup kita sehari-hari harus dibina atau ditempa secara terus-menerus. Caranya pun bisa bermacam-macam. Kita bisa melakukannya dengan meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa, membaca dan merenungkan sabda-Nya, mengikuti kegiatan di lingkungan. Sehingga mata iman kita semakin sensitif terhadap kehadiran dan karya Tuhan dalam keseharian hidup kita, namun kita bisa mengalami dan menghayatinya secara luar biasa dengan penuh sukacita. Hari baru dan matahari yang terbit setiap hari, meskipun sangat biasa, namun dalam terang iman dapat kita terima dengan penuh sukacita sebagai satu mukjizat dari Tuhan. Begitu juga dengan kesehatan, kedamaian batin dan pengalaman lainnya dapat kita terima dan hayati secara luar biasa.

Kepekaan iman dapat dibina dan ditempa lewat perbuatan amal kasih, karena Yesus datang dalam wujud sesama yang membutuhkan kepedulian kasih kita. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Mat 25:40. Perbuatan amal kasih kita lakukan dengan suatu kesadaran iman bahwa sesungguhnya perbuatan itu kita lakukan untuk Yesus sendiri. Kalau demikian, kita sebetulnya sudah menyambut kedatangan Yesus dalam hidup kita. Kalau kita memberi dengan penuh rasa syukur dan sukacita, kita juga pasti akan mengalami berkat dan keajaiban kasih-Nya dalam hidup kita.

Hal terpenting dalam masa penantian atau Adven adalah menanti kedatangan Yesus dalam hidup sehari-hari. Kalau setiap hari kita menanti kedatangan Yesus, kita juga siap untuk menyambut kedatangan Yesus di hari raya Natal dan kedatangan-Nya kedua di hari akhirat. Semoga di hari Natal ketika Yesus datang mengunjungi hati setiap kita, Ia menemukan pintu hati yang terbuka siap menyambut kedatangan-Nya. Semoga kita tidak menolaknya seperti bangsa Israel di Betlehem yang menutup pintu rumahnya bagi Maria dan Yosef. Semoga Yesus lahir di hati kita masing-masing. Selamat menantikan kedatangan dan kelahiran Yesus! ** P. Alex Dato’L, SVD.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top