Frame

ADVEN II (A): Pilih Harta atau Selamat, Keadaan Kritis

Bacaan: Yes 11:1- 10; Rm 15: 4 – 9; Mat 3: 1 -12
“Persiapkan jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Dalam sebuah peristiwa kebakaran di Jakarta, ada seorang bapak ditemukan mati bersama barang-barang yang mau diselamatkan. Pada hal sebelumnya orang sudah berteriak memanggil bapak itu untuk segera keluar, karena api sudah makin membesar dan hanya dalam hitungan detik rumah itu akan dilalap habis oleh si jago merah. Saat begitu kritis ia masih memikirkan harta bendanya. Akibatnya tidak hanya harta bendanya, tapi nyawanya pun ikut melayang. 

Ilustrasi dari covesia.com

Pada hari Minggu kedua Adven kita ditempatkan pada saat dan situasi yang amat kritis. Kita berada dalam situasi seperti bapa yang diceritakan tadi. Pilih harta atau selamat. Bagi Yohanes Pembaptis situasinya sudah amat kritis. Karena itu Yohanes Pembaptis tidak main-main dalam memperingatkan bangsa Israel. Kapak sudah tersedia pada batang pohon. Kalau tidak menghasilkan buah pertobatan berarti binasa. Pisau sudah ditodongkan di batang leher kita. Mau bertobat atau mati. Tobat atau nyawa. Itu berarti tobat sudah tidak bisa ditunda lagi.

Yohanes Pembaptis tidak sekedar mengancam. Seruannya itu lahir dari sebuah hati yang penuh kasih, karena betapa Yohanes Pembaptis sangat mendambakan supaya kita pun menikmati Kerajaan Allah yang akan segera datang itu. Kerajaan Allah adalah Kerajaan kasih, sukacita dan damai sejahtera. Nah, kerajaan Allah dalam artinya yang demikian hanya bisa terwujud dalam hidup kita, dalam keluarga kita, kalau kita sungguh-sungguh bertobat atas dosa-dosa kita.

Kerajaan Allah akan terwujud dalam keluarga kita, kalau kita berusaha memperbaiki sikap dan perilaku kita terhadap satu sama lain. Boleh jadi selama ini kita begitu emosional entah terhadap suami, isteri atau anak-anak. Sehingga dalam keluarga kita sering terjadi keributan yang menyebabkan Kerajaan Allah tidak bisa hadir dalam keluarga kita. Nah, sekarang waktunya untuk bertobat, berusaha mengendalikan emosi supaya terhindar keributan dan pertengkaran. Maka kerajaan Allah akan terwujud dalam keluarga kita. Akan tercipta suasana penuh damai seperti dilukiskan oleh nabi Yesaya hari ini. Serigala tinggal bersama domba. Macan tutul tidur bersama kambing. Anak bisa bermain dengan ular biludak dlsb.

Dalam Lingkungan dan Paroki Kerajaan Allah itu akan hadir di tengah kita, kalau ada paritisipasi aktif setiap kita. Di lingkungan pasti akan tercipta suasana yang dinamis, penuh ketawa dan optimisme kalau ada kebersamaan, ada partisipasi aktif semua warga Lingkungan. Begitu juga di Paroki kita, pasti akan tercipta suasana yang menggembirakan kalau umat ikut berpartisipasi aktif misalnya dalam koor, tatib dan tugas-tugas liturgi yang lain. Partisipasi itu hanya mungkin terjadi kalau kita mau bertobat, meninggalkan kepentingan ego kita dan tidak membiarkan diri terus dicengkeram ego kita, tanpa mau berkorban dan mengorbankan sedikit waktu untuk kepentingan bersama.

Pada tingkat masyarakat dan nasional akan terwujud kesejahteraan dan kedamaian kalau kita sebagai orang Katolik, murid Kristus terus-menerus bertobat, membaharui sikap dan perilaku kita, menegakkan kejujuran dan keadilan, disiplin dan tanggungjawab. Kalau demikian kita sudah memberikan kontribusi bagi hadirnya Kerajaan Allah di tengah masyarakat dan bangsa kita. Mari kita tanggapi seruan Yohanes Pembaptis: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan. Luruskanlah jalan bagi-Nya”. Amin. **P. Alex Dato’L, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top