Katekese

Apa Yang Benar dan Bagaimana Harus Beriman

Ensiklik pertama Paus Fransikus I “Lumen Fidei” membuka cakralawa pemikiran kita tentang pemahaman iman yang dewasa. Setelah sekian lama kita mengaku sebagai orang beriman, ada celah-celah yang sepenuhnya tidak kita mengerti berhubungan dengan iman. Hal ini dapat dibuktikan dengan keyakinan kita akan kebenaran yang cenderung sangat subjektif. Kebenaran subjektif yang dimaksud adalah kebenaran yang tidak dipahami oleh semua umat beriman secara seragam dan sama. Zaman modernisasi sekarang ini menganggap bahwa kebenaran yang nyata dan dapat dilihat wujudnya adalah teknologi. Keyakinan ini didukung oleh pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa kebenaran itu harus dapat membahagiakan, harus mampu meringankan beban, harus dapat dibagikan dan mampu memberi ketenangan. Kebenaran ini mengaburkan langkah kita untuk sampai kepada “kebenaran sejati” kebenaran yang sudah ada sejak dulu dan kebenaran yang tetap untuk masa depan dan selamanya.

Pengetahuan akan kebenaran merupakan pusat iman. Kita harus memiliki pemahaman yang benar tentang kebenaran. Apa yang kita mengerti tentang kebenaran adalah hasil dari terang iman. Iman yang benar akan membawa kita kepada kebenaran. Kalimat ini terkesan seolah-oleh permainan kata belaka. Akan tetap, memang demikianlah faktanya. Iman dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Ketika kita salah memahami kebenaran, itu menunjukkan bahwa kita pun salah memahami iman.

Sering muncul pertanyaan, ‘apa yang benar?’ dan ‘bagaimana harus beriman?’ Teks kenabian mengarah pada satu kesimpulan: kita membutuhkan pengetahuan, kita perlu kebenaran, karena tanpa ini kita tidak bisa berdiri teguh, kita tidak bisa bergerak maju. Iman tanpa kebenaran tidak abadi, tidak memberikan pijakan yang pasti. Iman tanpa kebenaran akan menjadi sebuah cerita yang indah, hanya akan menjadi madat yang mampu mengelabui kita untuk melewati segala penderitaan dan kesulitan hidup. Iman akan menjadi sebuah cerminan mimpi akan kebahagiaan yang tidak pasti. Dengan bahasa sederhana, Iman tanpa kebenaran akan menjadi sebuah kesanggupan kita membohongi diri dari kenyataan yang sedang terjadi. Sebuah kepura-puraan berkepanjangan.[1]
Adalah tidak mudah memahami kata-kata ini. Terasa akan menjadi sulit dicerna kalau kita berpijak pada dasar yang tidak kuat tentang iman. Oleh karena itu, berbicara mengenai “Dewasa dalam Iman” yang sering dikumandangkan pada Tahun Iman yang sedang berlangsung ini, haruslah berdasar pada hal-hal yang fundamental berhubungan dengan kebenaran iman. Pada intinya, ketika kita berpijak pada pondasi dan dasar yang kuat, iman dan kebenaran yang kita yakini tidak akan mudah digoncang oleh godaan-godaan nyata yang sedang bergulir saat ini. Kita tidak akan mudah tergiur dengan janji “Keyakinan Hidup Sukses” sebelum kita meyakini bahwa kesuksesan itu dicapai karena campur tangan Allah. Allah yang hidup dari awal hingga akhir, Ada melampaui ruang dan waktu, bukan allah yang telah direduksi kedalam kebahagiaan semu, yang diperoleh dari teknologi dan hura-hura. **Fidelis Harefa

[1] bdk. Encyclical Letter LUMEN FIDEI of… art. 24.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top