Katekese

APP 2013 (Pert. I): Allah Menghendaki Manusia Bekerja

Gagasan Pokok


Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya. Allah menciptakan manusia secitra dengan Dia. Manusia ciptaan-Nya itu diperintahkan untuk bekerja: “…penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi…” (Kej 1:28). Allah menghendaki manusia menjadi rekan kerja-Nya. Oleh karena itu, dengan bekerja, manusia mengambil bagian dalam karya Allah, mengaktualkan dirinya sebagai citra Allah dan juga memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pertemuan pertama pendalaman APP 2013 didasarkan pada Kitab Kejadian 1: 26-29.
Ulasan Singkat

Manusia sebagai citra Allah harus bekerja. Dengan bekerja, manusia mengambil bagian dalah karya Allah. Dengan bekerja manusia memberi nilai pada dirinya sebagai manusia. Dengan bekerja, manusia menghargai kehidupan dan dengan bekerja manusia berpartisipasi dalam kehidupan sosial sebagai makhluk sosial.
Dalam kehidupan kita sekarang, masih ada yang cenderung mengutamakan nilai kerja daripada nilai manusia. Pekerjaan menjadi hal utama dan manusia di-nomor-dua-kan. Akibat dari pandangan ini, banyak manusia dinilai berdasarkan kerjanya. Lebih sering, pekerja yang mengandalkan fisik seperti petani, nelayan, buruh, tukang becak dan pekerja kasar lainnya dipandang rendah di kalangan masyarakat. Pekerja kantoran, pegawai negeri, pejabat dan pekerja yang mengandalkan keahlian, pikiran dan titel lebih dihargai dan dipandang sebagai kaum elit.
Ada juga penilaian berdasarkan hasil kerja. Pekerjaan yang menghasilkan sedikit tapi menguras banyak tenaga dipandang sebagai pekerjaan rendah. Pekerjaan yang hanya menggunakan sedikit tenaga, sedikit waktu, tapi menghasilkan keuntungan banyak dipandang sebagai pekerjaan kelas tinggi dan profesional.
Dari dua pandangan di atas, terlihat jelas bahwa nilai manusia sebagai citra Allah tidak dihargai. Manusia yang melakukan pekerjaan tidak bernilai. Pekerjaannya menentukan nilai atas dirinya. 
Penegasan

Semua manusia menerima tugas yang sama dari Allah. Tugas yang dimaksud adalah “…penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi…” Perintah yang sama untuk seluruh citra Allah. Tujuannya adalah bahwa “manusia” harus menjadi yang utama dan bukan “pekerjaan”. Apapun pekerjaan harus dinilai atas dasar “manusia yang mengerjakannya” bukan atas dasar “pekerjaan yang dikerjakan”.
  • Allah menciptakan manusia dengan memberinya akal budi. Manusia lebih tinggi dari ciptaan lainnya. Dengan akal budinya, manusia dimampukan untuk berpikir, dimampukan untuk membuat rencana dan bertanggung-jawab. Dengan akal budinya manusia sanggup membedakan hal-hal baik dan buruk. Oleh karena itu, manusia disebut citra Allah karena apa yang dimiliki oleh Allah ada dalam diri manusia.
  • Sebagai citra Allah, manusia menerima tanggung jawab dari Allah. perintah “…penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi…” harus dimengerti dengan baik. Perintah ini tidak memuat makna “suka-suka“. Manusia harus melanjutkan karya penciptaan Allah itu. Manusia harus menjadi penyempurna karya Allah di dunia ini. Manusia harus menjadi rekan Allah.
  • Allah menghendaki segala sesuatu baik adanya. Oleh karena itu, bila manusia bertentangan dengan kehendak Allah dalam melakukan pekerjaannya, manusia menjadi rival Allah. Tidak disebut sebagai rekan. Menguasai bumi dan segala isinya bertujuan untuk memelihara, menjaga keutuhan bumi, mengelola demi kesejahteraan manusia.
  • Dengan bekerja, manusia mempertanggung-jawabkan citranya sebagai gambar Allah. Manusia yang bekerja adalah manusia citra Allah. Oleh karena itu, bila terdapat manusia yang bermalas-malas dan tidak mau bekerja, dalam konteks ini tidak akan masuk sebagai rekan Allah.
Refleksi

Manusia bekerja sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Manusia bekerja sesuai dengan panggilan yang telah diterima secara cuma-cuma dari Allah. Citra Allah sejati bekerja sesuai dengan tugas yang dipercayakan kepadanya dan mengerjakannya dengan tujuan yang baik dan benar. Bila kita dipanggil sebagai sebagai pejabat, bekerjalah sebagai pejabat yang baik, jujur dan bertanggung-jawab. Bila kita dipanggil sebagai petani, nelayan, buruh, bekerjalah sesuai dengan profesi itu dengan baik, jujur dan bertanggung-jawab. Intinya, bekerja dengan jujur, baik dan bertanggung-jawab sesuai dengan panggilan kita masing-masing berarti kita sudah menjadi rekan Allah dalam mencipta dan menyelamatkan bumi yang dipercayakan kepada kita.
Pertanyaan Refleksif
  1. Apakah ada pekerjaan yang tidak berharga di mata Allah? Apakah ada manusia yang tidak berharga di mata Allah?
  2. Apakah kita bekerja bertujuan baik dan benar?
  3. Apakah ada pekerjaan yang dijamin baik dan benar? Sebaliknya, apakah ada pekerjaan yang dianggap kotor dan tidak baik?
MARI KITA MULAI SEKALI LAGI, KARENA SAMPAI SEKARANG KITA BELUM BERBUAT APA-APA?
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top