BOX

Bahaya Tergiring Menjadi Liar

Seorang paman becak, sambil mendayung becaknya dan membawa saya menuju RKZ Surabaya, berseloroh katanya, “zaman sekarang ini lebih banyak menggiring kita untuk menjadi liar dalam hidup dan dalam berperilaku”. Saya kaget dengan selorohan si paman becak ini. Lalu saya bertanya kepadanya tentang maksud pernyataannya. Dengan enteng ia menjawab: “Lah… masa’ Romo tidak tahu. Coba lihat, di mana-mana orang tidak saling menghargai lagi. Anak-anak sekarang cenderung tidak menghargai orangtuanya, yang muda tidak menghargai yang tua, rakyat bisa menghujat pemimpinnya. Tata krama, etika dan sopan santun sepertinya tidak lagi diperhatikan dalam hidup dan pergaulan setiap hari”.

Ternyata, ungkapan hati si paman becak ini mengingatkan saya akan apa yang pernah dikatakan oleh Robert Holden bahwa “zaman modern ini ditandai dengan perjuangan untuk menyetarakan segala derajat hidup, akibatnya sikap segan, hormat, etis dan sopan santun sepertinya tidak lagi mendapat tempat dalam tatakrama dan pergaulan setiap hari”. Apa yang dikatakan si Paman Becak dan Robert Holden tampak benar. Kita dapat menyaksikan propaganda “kesetaraan” menjadi unsur penting yang selalu dibicarakan dalam media masa dan media elektronik. Orang mati-matian memperjuangkan kesetaraan atas Hak Azasi Manusia (HAM). Dengan bersandar pada HAM seorang anak dapat menuntut dan menggiring orangtua atau gurunya di hadapan polisi hanya karena dikasari, dijewer atau dipukul dalam rangka mendidiknya. Warga masyarakat rame-rame menghujat dan mencaci maki pemimpinnya karena dinilai melanggar HAM. Tatanan etika dan sopan santun menjadi “hancur luluh” karena tergilas oleh konsep HAM yang begitu dijunjung tinggi oleh setiap lapisan umur.

Pertanyaan adalah satu: “apakah ada grand design  sistematis yang sengaja digelindingkan untuk merusak tatanan adat, tradisi, etika dan sopan santun, yang beribu-ribu tahun dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat? Kalau keadaan sudah seperti ini, apakah ada solusi atau therapy untuk menyelematkan bahaya pudarnya nilai-nilai budaya, adat, tradisi, etika dan sopan santun?

Konsep sosiologi baru yang diperjuangkan sekarang adalah adanya “satu dunia dengan tatanan baru” yang menginginkan keseragaman dalam segalanya. Satu agama, satu ideologi, satu mata uang, satu bank, satu negara, satu pemerintahan, dll. Perjuangan untuk mengunggulkan konsep ini semakin hari semakin terasa kuat, sehingga negara-negara yang berdaulat pun akhirnya perlahan kehilangan kekuatannya.

Banyak negara terdikte dan terjajah dari segi ideologi, ekonomi dan politik sehingga mereka terposisi dalam kondisi “melambung” tanpa arah, seperti sebatang gabus ringan di atas permukaan samudera yang terombang-ambing ke sana ke mari. Dalam keadaan melambung seperti inilah, sebuah negara diatur “sesuka hati” dan didikte sehingga kedaulatannya cenderung melemah dan hilang.

Dalam hubungan dengan situasi “melambung” ini, secara ideologis terjadi plantasi nilai-nilai baru dan asing yang cenderung merusakan tatanan tradisi, adat, etika, sopan santun termasuk tatanan hidup iman dan spiritual. Penanaman nilai-nilai baru ini secara sistematik dapat dilakukan melalui jalur pendidikan yang dirancang dalam kurikulum yang menekankan ilmu-ilmu eksakta tetapi mengurangi ilmu-ilmu humaniora (sejarah, agama, budi pekerti, moral Pancasila, dll). Dengan demikian anak didik menjadi cerdas secara intelek tetapi bisa berperilaku “liar” karena kurang mendapat penanaman nilai-nilai dasar yang baik. Dengan kata lain, anak tidak dihantar untuk berakar dalam tradisi, budaya, etika, sopan santun dan imannya.

Dari segi politik, terjadi proses penghapusan seara sengaja terhadap kearifan-kearifan lokal dan ideologi paten yang menjadi khas bangsa kita misalnya: hilangnya sistem hidup masyarakat yang menjunjung tinggi solidaritas, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat dan terakhir adanya gejala untuk menghapus Dasar Negara Pancasila. Sasarannya adalah supaya generasi muda dibuat untuk tidak cinta tanah air (a-patriotis) untuk boleh menghujat para pemimpinnya, untuk tercabut dari akar budaya sehingga menjadi “generasi pelampung”.

Ini fakta yang semakin hari semakin kuat beroperasi. Mestinya mencemaskan dan menakutkan. Maka therapy dan solusi yang harus diambil lembaga-lembaga seperti keluarga, sekolah dan Gereja adalah berusaha menyadari gejala sosial ini, sambil berjuang untuk menanamkan nilai-nilai dasar, tradisi, adat, etika, moral, cinta tanah air dan berakar dalam iman sehingga generasi muda nantinya menjadi warga negara Indonesia yang beriman, bertakwa, beradat, bermoral dan cinta negerinya sendiri. Tanpa kerja keras dari semua lembaga ini, kita hanya akan menciptakan “generasi pelampung” yang kehilangan citra diri, jati diri, etika dan moralitas serta spiritualitas hidup yang matang. ** P. Frieds Meko, SVD.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top