Katekese

Berapa Kali Kita Membuat Tanda Salib Dalam Perayaan Ekaristi?

Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan disampaikan oleh seorang bapak dalam suatu Pendalaman Iman. Mengejutkan karena penanya adalah seorang aktivis gereja dan banyak terlibat dalam banyak hal berhubungan dengan kegiatan-kegiatan gereja. Tapi, adalah suatu kewajaran kalau pertanyaan seperti ini muncul karena tidak semua umat mengetahui tentang hakekat Perayaan Ekaristi.

Dalam tradisi gereja, setiap ibadat, doa atau sembahyang, baik dalam kelompok besar sampai pada doa pribadi, selalu diawali dengan membuat tanda salib dan diakhir dengan membuat tanda salib juga. (+Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus). Penjelasan tentang tanda salib akan dibicarakan nanti pada topik lain.

Perayaan Ekaristi (Misa) adalah suatu perayaan yang satu dan utuh. Walaupun Perayaan Ekaristi mempunyai bagian-bagian yakni ritus pembuka, ibadat sabda, liturgi ekaristi dan ritus penutup, semua bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan yang utuh yakni Perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, tidak perlu kita membuat banyak tanda salib. Tanda salib dalam Perayaan Ekaristi hanya dua kali saja, yakin mengawali dan mengakhiri perayaan. Tanda salib awal adalah ketika Imam membuka perayaan dan tanda salib kedua adalah ketika Imam menyampaikan berkat dan perutusan.

Praktek yang Salah

Bukan hanya dari kalangan umat yang membuat kesalahan dalam hal ini. Kadang-kadang kita temukan seorang pastor mengakhiri Homili dengan mengajak umat membuat tanda salib. Hal itu dilihat oleh umat sebagai sesuatu yang benar. Sesungguhnya itu adalah praktek yang salah karena tidak dibenarkan menurut prinsip perayaan yang satu kesatuan dan utuh seperti dituturkan di atas. Setelah Konsili Vatikan II, tradisi-tradisi ini diluruskan kembali dan ditetapkan bahwa cukup dua kali saja membuat tanda salib. Walaupun dikemudian hari, beberapa teolog mencari makna tanda salib-tanda salib yang lain, yang dibuat oleh imam dan umat lain dalam perayaan, tapi mereka membahasakan sebagai “tanda salib devosional“.

Efek dari Penjelasan ini

Di beberapa tempat, di mana dilaksanakan perayaan Misa, ada saja umat yang meninggalkan gereja setelah menyambut komuni kudus dan tidak menunggu hingga Pastor memberi berkat dan pengutusan. Ini berarti umat tersebut tidak mengikuti Perayaan Ekaristi secara utuh. Oleh karena itu, agar kita tetap dikatakan mengikuti Perayaan Ekaristi secara utuh, setiap umat diwajibkan untuk tetap dalam perayaan dari awal ketika Imam membuka perayaan dan pada akhir ketika ditutup dengan pemberian berkat.

Semoga bermanfaat. *Kairos

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top