Suara Gembala

Berhala-berhala Zaman Sekarang

Kita telah sepakat dan menyetujui serta mengakui bahwa kita beriman. Konsekuensi dari pengakuan itu adalah dengan ikut dan taat pada segala perintah-perintah yang telah diberikan kepada kita. Seperti kita ketahui bahwa kita memiliki hukum dalam beriman, di antara semuanya itu, hukum yang terutama adalah “kasih”. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Dalam Perayaan Ekaristi di Basilika Bunda Kita Yang Dikandung Tanpa Noda di Aparecida (Shrine of Our Lady of Aparecida, Brasil (24/7), Paus Fransiskus dalam homilinya mengingatkan umat beriman bahwa ada banyak godaan-godaan yang menggeregoti iman kita saat ini. Lebih tepat disebutkan dengan istilah berhala-berhala zaman sekarang. Berhala-berhala yang di maksud adalah uang, kesuksesan, kekuasaan dan kesenangan. (bdk. Homili Bapa Suci dalam teks Bahasa Inggris). Berhala-berhala ini telah menggantikan posisi Allah sehingga menimbulkan rasa kesepian dan kekosongan hati. Kesepian dan kekosongan hati membawa manusia pada keputusasaan berkepanjangan dan lupa untuk kembali kepada Allah yang adalah sumber harapan.

Paus Fransiskus, pada kunjungannya ke Brasil dalam rangka penyelenggaraan Hari Pemuda Sedunia dengan tegas mengingatkan bahwa Kaum Muda kita jauh lebih cepat terpengaruh sehingga lupa diri dan kehilangan masa depan. Oleh karena itu, orang tua dan Gereja harus memberi perhatian khusus, pendampingan dan dukungan untuk selalu mengarahkan mereka ke jalan Tuhan.

Meskipun homili ini disampaikan oleh Bapa Suci di Brasil dengan situasi yang sedang bergulir di sana, homili ini berlaku untuk semua umat beriman, termasuk kita yang ada di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa berhala-berhala yang disebutkan di atas pun telah menggerogoti iman kita. Hal ini dapat dilihat indikasinya dalam setiap gerak, pelayanan dan tindakan-tindakan dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dalam Gereja dan bernegara. Begitu kuat berhala-berhala ini menarik perhatian kita sehingga lupa akan keutamaan yang harus kita perjuangkan.

Sebagai orang beriman, mari kita menjadi “mediator cahaya iman”, meskipun kita mengalami derita dan kesulitan-kesulitan (bdk. Lumen Fidei, 57). Ini bukanlah madat atau candu yang membuat kita seolah-olah dininabobokan oleh istilah-istilah menarik yang menjanjikan masa depan yang abadi. Hal ini adalah sebuah keharusan bagi kita sebagai orang beriman. **Kairos

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top