Frame

Bersama Berdoa dan Berdoa Bersama

Dalam rangka mengikuti tahibsan imamat ponakan saya di Budapest, Hongaria, saya berkesempatan untuk menyaksikan hidup keagamaan umat Katolik di Hongaria. Saya ingin mensharingkan satu pengalaman kecil ketika mengikuti perayaan Ekaristi di gereja Katolik Hongaria. Beberapa kali saya mengikuti perayaan Ekaristi bersama umat. Meskipun saya tidak mengerti bahasanya, namun saya bisa menghayati isi dan makna perayaannya. Satu hal yang bagi saya mengesankan adalah mereka “bersama berdoa dan juga berdoa bersama”.

Kesan pertama adalah mereka bersama berdoa. Semua orang yang hadir dalam gereja terlibat aktif dalam segala doa yang melibatkan umat (demikian jga dalam menyanyi). Seperti misalnya“Saya mengaku” yang diucapkan sebagai pernyataan tobat di awal misa, “Aku Percaya”, “Bapa Kami” dlsb. Mereka bersama berdoa dengan suara yang lantang. Tidak ada yang cuek atau ngobrol dengan teman atau asal buka mulut tanpa suara yang kedengaran. Mereka sungguh berpartisipasi aktif dalam setiap bagian perayaan. Mereka menghayati liturgi Ekaristi dalam arti yang sesungguhnya yakni sebagai perayaan atau tindakan umat. Ekaristi bukan hanya perayaan seorang imam melainkan perayaan seluruh umat. Umat adalah peraya Ekaristi. Karena itu partisipasi aktif umat adalah suatu keharusn. Umat tidak sekedar hadir dalam perayaan liturgi Ekaristi dan hanya menjadi pendengar atau penonton, bersikap acuh tak acuh. Yang penting, sudah memenuhi kewajiban hukum, setiap hari Minggu ke gereja. Tidak penting arti dan maknanya bagi hidup sehari-hari.

Kesan kedua adalah mereka berdoa bersama. Mereka mengucapkan doa secara perlahan dan bersama-sama, tidak saling mengejar atau berlomba siapa yang bisa lebih dahulu selesai. Mereka sepertinya mengikut semboyan bus kota, “Sesama bus kota jangan saling mendahului”. Dalam berdoa bersama terkesan mereka ingin menghayati makna setiap kata yang diucapkan. Kata-kata yang diucapkan tidak sekedar sebagai rangkaian bunyi tanpa makna, tetapi bunyi yang penuh makna untuk kehidupan.

Dengan “bersama berdoa dan berdoa bersama”, mereka menunjukkan kadar penghayatan imannya. Karena perayaan Ekaristi sesungguhnya adalah sebuah perayaan iman. Dalam perayaan Ekaristi kita merayakan misteri iman kita akan wafat dan kebangkitan Kristus. Kristus yang telah mengorbankan dan menyerahkan diri-Nya bagi kita yang kita sambut dalam Komuni kudus. Sehingga setiap kita kembali dari Gereja membawa Kristus dalam diri kita dan kita berada dalam Kristus. Hidup kita menjadi hidup Kristus dan hidup Kristus harus menjadi hidup kita juga.

Saya sharingkan pengalaman ini sebagai suatu inspirasi bagi kita agar kita pun dapat “bersama berdoa dan berdoa bersama” dan dengan demikian dapat merayakan Ekaristi kudus dengan penuh makna. Kita terlibat aktif dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga aktif bersama-sama. Jangan sampai selama perayaan Ekaristi berlangsung ada yang sibuk ngobrol dengan teman atau main sms atau diam membisu, cuek, tidak peduli.

Saya pernah menyaksikan dari altar dua orang ibu yang sepanjang misa berada di depan pintu gerbang gereja, membelakangi altar dan asyik ngobrol. Samasekali tidak peduli dengan apa yang sedang berlangsung dalam gereja. Terlebih pada saat konsekrasi ketika Kristus sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur, mereka sedikit pun tidak bergeming untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap Kristus. Pemandangan seperti itu sungguh melukai rasa keagamaan saya. Saya harus tahan diri agar tidak sampai berdosa pada saat yang paling sacral seperti itu.

Tindakan seperti itu menyalahi maksud dan tujuan kita datang ke gereja. Kalau untuk ngobrol, main sms, orang tidak harus ke gereja. Di rumah pun hal itu dapat dilakukan. Kita datang ke gereja untuk memuji dan memuliakan Allah. Kalau begitu kita harus terlibat aktif. Selanjutnya keterlibatan kita juga harus dilakukan bersama-sama. Setiap kata yang diucapkan harus bisa dihayati maknanya. Dan itu hanya mungkin kalau diucapkan secara perlahan, tidak seperti orang yang sedang berlomba. Bagaimana kita hadir dalam perayaan Ekaristi akan sangat berpengaruh terhadap penghayatan iman kita dan sekaligus menujukkan kualitas iman kita. Semoga mutu iman kita ditingkatkan lewat keterlibatan kita secara aktif dalam perayaan Ekaristi.
** P. Alex Dato’ L., SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top