BOX

Bis Dat Qui Cito Dat

Suatu hari dalam perjalanan ke kota Malang, di salah satu lampu merah seorang anak cewek berusia kira-kira 8 tahun mendekat ke mobil kami, sambil menyodorkan kaleng memohon sepeser uang. Karena sayalah yang menyetir, maka spontan saya menurunkan kaca mobil dan memberi Rp. 4.000. Setelah saya kembali menaikan kaca, salah seorang teman yang persis duduk di belakang saya mengatakan, “Fritz… lain kali jangan mengulangi cara itu lagi, karena dengan itu engkau ikut mendukung orang menjadi malas dan tidak berjuang untuk hidupnya”.

Mendengar protes temanku, saya merasa sedih karena berbuat baik koq diprotes. Saya membayangkan kalau saya menolak untuk berbuat baik, apakah ia juga akan protes? Kalau ia juga protes atas sikapku untuk menolak berbuat baik, maka itu berarti saya terperangkap dalam situasi “maju kena, mundur kena”. Saya berada dalam persimpangan kebimbangan untuk menyatakan dorongan hati supaya berbuat baik atau menolak untuk berbuat baik.

Saya selalu berpikir apakah berbuat baik itu mempunyai daya desktruktif (merusakkan) orang yang menerima kebaikan kita? Maka, model kebaikan seperti apakah yang membuat orang menjadi rusak saat menerima kebaikan itu? Apakah model kebaikan seperti yang saya lakukan terhadap anak perempuan di lampu merah tadi dikategorikan dalam kebaikan desktruktif?

Kalau memang kebaikan itu mempunyai daya desktruktif, maka saya memang berdosa berat. Saya bisa dicap penjahat “berhati rembulan”. Berbuat baik seperti pancaran sinar bulan purnama yang memberi cahaya bagi orang yang berjalan di dalam kegelapan, tetapi oleh orang lain sinar itu dinilai mengandung daya laser yang mematikan. Apa memang demikian?

Kalau direfleksikan lebih dalam, semua bentuk perbuatan baik mempunyai daya konstruktif (membangun), membuat orang yang menerima kebaikan itu mengalami suatu bentuk “hidup baru”. Sebab orang yang sedang malang hidupnya dan mengharapkan bantuan kita, ibarat orang yang sedang dalam keadaan “mati suri”. Dalam keadaan mati suri, ia mengalami hidupnya bagaikan tirai gelap yang membentang dan menghadang langkahnya, untuk berjuang normal seperti orang lain lakukan dalam hidupnya.

Ketika orang dalam keadaan malang seperti ini, lalu kita membiarkan hati menjadi beku dan tidak tergerak oleh belaskasihan, maka jelas tangan tidak akan terulur bagi dia yang barangkali sedang menatap kita dengan penuh harapan, sambil meneteskan airmata deritanya. Apakah kita tega menyaksikan pemandangan kemanusiaan yang buram seperti ini? Kalau kita tega, orang lain mungkin akan bertanya, mutu hati seperti apakah yang dimiliki oleh orang itu? Sejauh mana nilai iman tentang “kasih” yang telah mengalir dalam sekujur tubuhnya menggugah hatinya?

Konon, Muder Teresa Calcuta dicelah oleh seorang wartawan dengan mengatakan “Ibu Teresa adalah malaikat suci yang ke luar dari neraka”. Beberapa tahun kemudian si wartawan itu berkunjung ke Calcuta dan bertemu secara pribadi dengna Ibu Teresa. Dalam pertemuan itu, ia bertanya kepada Ibu Teresa, “Mengapa Ibu tidak memberikan kail kepada orang miskin, tetapi justru memilih memberikan ikan asin? Apakah itu tidak membuat mereka semakin malas dan tidak kreatif untuk berjuang sendiri?” Mendengar pertanyaan yang jujur dan polos dari sang wartawan itu, Ibu Teresa hanya menjawab singkat “Kewajiban saya adalah memberikan roti kepada mereka yang hampir mati di depan saya. Setelah mereka kenyang, silahkan anda atau pemerintah boleh memberikan pacul bagi mereka untuk bisa bekerja seperti yang anda harapkan”.

Ibu Teresa selalu berpegang teguh pada prinsip “Bis dat qui cito dat” (orang yang memberi dengan cepat memberi dua kali). Prinsip ini mengandung makna spiritual yang dalam. Ketika kita tidak merasa berat (enggan) dan cepat bertindak memberi bantuan kepada sesama, sebetulnya nilai perbuatan baik kita bersifa ganda. Dengan tulus memberi bantuan, kita sudah bertindak dua kali. Pertama, kita menyelamatkan orang yang menerima bantuan kita dengan ancaman “kematian” karena tindihan kesulitan dan penderitaannya. Kedua, kita memberi makna kepada kehadiran kita sebagai hadiah bagi sesama. Jadi, sekali memberi selalu membawa efek timbal-balik. Baik yang menerima bantua, maupun yang memberi, sama-sama mengalami kepuasan dan rasa bahagia.

Saat ini kita hidup dalam suatu dunia yang sangat menjunjung tinggi individualisme. Ketika orang menjadi individualis, muncul sikap ekstrim yakni egois, sehingga kadar kepedulian terhadap sesama pun akan rendah bahkan tidak ada sama sekali. Orang egois akan membangun rasionalisasi sebelum memberikan bantuan.

Seorang yang memprotes bantuan adalah contoh paling nyata dari pribadi egois yang membangun rasionalisasi, yang tampak masuk akal tetapi justru itu sama dengan membiarkan orang “mati” dengan tahu dan mau. Kita tentu bukanlah pribadi yang merasa nikmat menyaksikan orang lain menderita tanpa mengulurkan tangan kasih bagi mereka bukan?”**Rm. Fritz Meko, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top