BKSN

BKSN 2012: (Pertemuan III) Membangkitkan Anak Muda di Nain

Pertemuan yang lalu kita sudah mendalami dua mukjizat yang diperbuat oleh Yesus, yakni menyembuhkan orang lumpuh dan mengusir roh jahat. Menyembuhkan kelumpuhan dan mengusir segala roh jahat yang menghambat terjadinya segala kebaikan. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan mendalami Bagaimana Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain.


Mukjizat ini adalah mukjizat yang bagi kita manusia adalah luar biasa. Hal yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia, yakni mengembalikan nyawa manusia, dilakukan oleh Yesus. Dari segi nilai dan bobotnya, mukjizat ini dapat kita katakan sesuatu yang luar biasa. Bersamaan dengan kekaguman ini, kita pasti merasa sulit membayangkan peristiwa yang sama akan terjadi pada zaman kita sekarang ini. Hampir tidak pernah kita temukan orang yang sudah meninggal dan sedang digotong ke liang kubur, hidup kembali. Oleh karena itu, jelaslah agak sedikit sulit kita membayangkan mukjizat ini dalam pendalaman kita ini.
Kendati dengan alasan di atas, jika kita memiliki iman yang teguh, tidak ada yang mustahil. Mari kita lihat kenyataan hidup kita sekarang ini. Sebagai ilustrasi, mari kita lihat kondisi Anak Muda dan Ibunya (Janda) yang kita baca dari KS Lukas 7: 11-17.
Manusia yang sudah tidak bernyawa (jenazah) jelas sudah tidak dapat kita katakan normal lagi. Hampir bisa dikatakan, dia hanyalah seonggok daging, yang tidak berjiwa. Karena tak berjiwa, jelas tak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sementara Ibunya, hanyalah seorang Janda. Janda dalam kalangan Yahudi berada dalam posisi lemah dalam masyarakat. Janda termasuk kelompok kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Dan situasi menjadi lebih parah karena anaknya meninggal. Jika anaknya tidak meninggal, kehidupannya masih lumayan kuat karena masih bisa menggantungkan hidupnya pada anaknya tersebut. Apa hendak dikata, anak tumpuan hidup itu pun meninggal. Inilah situasi yang dapat kita lihat dalam bacaan kali ini.
Yesus datang membawa kegembiraan. Yesus mengubah suasana duka menjadi kegembiraan. Yang tidak bernyawa, hidup kembali. Janda yang putus asa, berubah menjadi pribadi yang penuh harapan. Anak muda yang tak berdaya, kini menjadi berjiwa dan memiliki masa depan.
Pada masa sekarang, kita umat beriman tidak pernah luput dari kelemahan dan dosa. Namun, sekali lagi, kata-kata ini tidak boleh kita jadikan sebagai tameng untuk berpasrah. Kita perlu bangkit dari kelemahan itu. Kita perlu meninggalkan segala kelumpuhan yang ada, kita perlu mengusir roh jahat yang telah menguasai kita, dan kita perlu bangkit kembali.
Untuk bangkit kembali, memang sesuatu yang berat untuk dilakukan sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk memperoleh kebangkitan. Demikian sebaliknya, orang lain membutuhkan bantuan kita untuk bangkit kembali. Oleh karena itu, mukjizat yang dapat kita lakukan saat ini adalah, membantu sesama untuk bangkit kembali dengan berbagai cara. Kita hidup sebagai umat beriman harus saling mengingatkan agar sesama kita tidak terpuruk dan tenggelam dalam kelemahannya. Dengan saling mengingatkan, kita sudah melakukan mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus, yakni, membangkitkan orang mati. 

Sebagai umat beriman, yang bersaudara dalam Kristus, kita butuh untuk diingatkan, dan juga perlu untuk mengingatkan. Kita diharapkan untuk saling membangun dan menghidupkan dengan berbagai cara yang kita punya. Kita membutuhkan uluran tangan orang lain, demikian juga orang lain membutuhkan uluran tangan kita. Hanya dengan demikian, kita sudah bertindak seperti Yesus, yakni, mengubah kedukaan menjadi kegembiraan sejati. Mengubah ketakberdayaan menjadi berdaya dan memiliki masa depan.
Dari uraian di atas, beberapa pertanyaan reflesif berikut mungkin dapat membantu kita untuk mendalami tema pertemuan ketiga ini.
  1. Pernahkah kita merasa seperti anak muda, yang tak berdaya, tidak punya masa depan, tidak punya jiwa dan harapan karena tinggal seonggok daging lemas yang tidak punya pengharapan?
  2. Pernahkah kita seperti Janda yang tersingkir di kalangan masyarakat, miskin dan tidak punya apa-apa?
  3. Ketika kita membutuhkan uluran tangan orang lain membantu kita bangkit dari keterpurukan kita, adakah kita memperoleh bantuan?
  4. Pernahkah kita peka melihat situasi yang sama terjadi dengan orang lain? Apakah kita pernah bertindak seperti Yesus, yakni membantu mereka yang sedan jatuh untuk bangun dan bangkit kembali?
  5. Pernahkah kita melakukan hal sederhana sebagai umat beriman untuk saling membangkitkan dengan cara saling mengingatkan?
  6. Atau malah lebih ekstrim, pernahkah kita berperan bukan sebagai pembangkit, tapi malah sebagai pembunuh bagi sesama? Membunuh potensi sesama, membunuh kreatifitas sesama, membunuh perkembangan sesama sehingga dia menjadi jatuh tak berdaya seperti anak muda tadi yang menjadi jenazah?
Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top