BKSN

BKSN 2013 (II): Keluarga yang Berakar pada Sabda Allah

Pada pertemuan pertama pendalaman Kitab Suci BKSN 2013 yang lalu, kita sudah mendalami bagaimana seharusnya keluarga yang beriman itu. Dalam pertemuan pertama, Abraham dihadirkan sebagai figur dan teladan bagi kita dalam beriman. Abraham memilih sikap mendengar dan siap sedia melaksanakan panggilan Tuhan tanpa tawar-menawar.

Pertemuan kedua ini mempertegas tema pertemuan pertama. Kiranya pertanyaan lain muncul yakni: Bagaimanakah seharusnya keluarga yang beriman itu? Pertemuan kedua mencoba menjawabnya dengan tema: Keluarga beriman adalah keluarga yang berakar pada Sabda Allah. Pertemuan kedua ini menghadirkan keluarga Zakharia dan Elisabet sebagai teladan keluarga yang berakar pada Sabda Allah.

Setiap keluarga Katolik diharapkan hidup berdasarkan pada Sabda Allah. Namun, Sabda Allah sering kali tidak begitu jelas dan sering dikaburkan oleh suara-suara lain. Sebagai pegangan hidup, Sabda Allah harus bersaing dengan norma-norma, aturan-aturan, atau tradisi yang ada dan berlaku dalam masyarakat, sehingga tidak mengherankan jika keluarga-keluarga katolik kurang taat dan melanggar Sabda Allah, namunt tak menyadarinya (BKSN 2013, Keluarga Bersekutu Dalam Sabda, hal. 11).

Dengan pertanyaan di atas dan diperkuat oleh gagasan pokok pertemuan kedua ini, kita semua diajak untuk merenungkan sejauhmana kita mengutamakan Sabda Allah sebagai pedoman hidup. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan kita di dunia ini diatur oleh hukum, norma, peraturan dan adat istiadat. Oleh karenanya, dalam menjalani hidup kita harus bertarung untuk mempertimbangkan banyak hal agar apa yang kita putuskan, apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan hukum, norma, peraturan dan adat istiadat. Sebagai orang Katolik yang beriman, pernahkah kita mempertimbangkan sesuatu, lebih mengutamakan kehendak Tuhan daripada kehendak manusia? Ini yang selalu menjadi pertanyaan berulang dalam pertemuan kedua ini.

Keluarga Zakharia dan Elisabet dengan tegas dan berani mengatakan bahwa semua yang mereka lakukan haruslah berdasarkan Sabda Allah. Contoh: ketika Zakharia dan Elisabet mendapatkan seorang anak, mereka harus menamainya Yohanes karena demikianlah disabdakan oleh Allah. Meskipun banyak pertimbangan budaya, adat dari sanak saudara yang tidak mendukung pemberian nama Yohanes, dengan berbagai alasan yang masuk akal, Zakharia dan Elisabet tetap menjunjung tinggi apa yang telah dikatakan oleh Tuhan.

Bagaimana dengan kita yang mengaku beriman? Adakah kita memiliki ciri khas sebagai umat beriman dalam setiap kegiatan kita? Misalnya dalam hidup bernegara, adakah kita menunjukkan ciri khas orang beriman dalam menjalani kehidupan bernegara, berpolitik, berorganisasi dan lain sebagainya? Atau kita tidak berani karena takut kehilangan perhatian negara (pemerintah), takut kehilangan perhatian publik, takut kehilangan pengaruh, sehingga meskipun kebijakan dan peraturan yang berlaku sesungguhnya bertentangan dengan suara hati kita, lalu kita diam saja dan mengaminkannya sebagai kebijakan yang benar?

Apakah kita terlalu menjunjung tinggi tradisi, baik dalam keluarga maupun masyarakat sehingga nilai-nilai kebenaran Sabda Allah menjadi tidak jelas lagi? Atau kita hanya sanggup melebur dalam bias berbagai macam aturan agar kita mendapatkan posisi aman, sehingga kita tidak berani mengatakan apa yang sebenarnya menurut Sabda Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk dijawab. Inilah perjuangan kita sebagai orang beriman. Inilah pertarungan kita sebagai orang yang telah menerima pembaptisan dalam Kristus. Inilah tugas kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam mewartakan Sabda-Nya.

Semoga dengan pendalaman Kitab Suci pertemuan kedua ini, kita memperoleh semangat baru dalam memaknai keberadaan/kehadiran kita sebagai umat Katolik yang beriman dalam hidup bernegara, bermasyarakat, bergereja dan terutama dalam kehidupan keluarga kita. **Fidelis Harefa

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top