Katekese

BKSN 2013 (IV): Keluarga Sebagai Sarana Menuju Kesucian

Pertemuan ke-4 pendalaman Kitab Suci BKSN 2013 mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk menyadari bahwa tempat pertama dan utama untuk membantu manusia mencapai kekudusan adalah keluarga. Kekudusan atau kesucian ini terwujud dalam kehidupan yang saleh dalam relasi yang erat dan harmonis dengan Tuhan, serta dalam perilaku yang sesuai dengan kehendak-Nya. Adanya suasana kehangatan kasih dalam relasi yang akrab dan harmonis dengan sesama merupakan jalan menuju kesucian (Keluarga Bersekutu Dalam Sabda, BKSN 2013, hal. 27).

Beberapa poin berikut dapat membantu kita untuk mewujudkan keluraga yang sanggup menjadi sarana menuju kesucian. Poin-poin tersebut merupakan rangkaian tema-tema yang disajikan dalam pendalaman BKSN 2013.

  1. Keluarga harus beriman dengan meneladani Abraham dan Sarai. Beriman berarti mendengarkan sabda Tuhan dan siap sedia untuk melaksanakannya.
  2. Keluarga yang beriman, harus berakar pada sabda, seperti Zakharia dan Elisabet. Berakar pada sabda berarti mengutamakan sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Setelah beriman, berakar pada sabda, keluarga harus bersekutu dalam iman dan sabda itu. Iman yang sudah tumbuh harus dikembangkan dalam keluarga sehingga seluruh anggota keluarga bersama-sama tumbuh dalam iman dan sabda yang sama.
  4. Dengan demikian, keluarga yang beriman, berakar pada sabda dan bersekutu dalam sabda akan menjadi keluarga yang baik. Keluarga tersebut dapat menjadi sarana mencapai kesucian.
Dari poin-poin di atas, kita dapat melihat bahwa pertemuan-pertemuan yang kita laksanakan selama pendalaman Kitab Suci ini saling berkaitan dan saling mendukung. Oleh karena itu, kesetiaan kita untuk menghadiri empat pertemuan menjadikan kita lebih paham secara mendalam akan tema umum KELUARGA BERSEKUTU DALAM SABDA yang dipilih oleh LBI sebagai tema BKSN 2013.
Agar keluarga kita dapat menjadi sarana menuju kesucian, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 5:21-6:4) memberi ajaran dan nasihat kepada suami-istri dalam perkawinan dan nasihat kepada anak-anak serta orang tua. Dalam surat ini, Paulus menekankan cinta kasih dan kerendahan hati dalam hubungan suami dengan istri, orang tua dengan anak, anak dengan orang tua, anak dengan saudaranya. Teladan utama adalah Kristus sendiri yang telah mencintai jemaatnya, umatnya sampai rela berkorban.
Tidaklah cukup hanya beriman saja, juga tidak hanya sebatas berakar pada sabda. Keluarga kristiani harus sanggup mewujudkan kesucian dengan cara bersekutu dalam keluarga (berdoa bersama, makan bersama, rekreasi bersama) sehingga di antara anggota keluarga terpelihara komunikasi yang membangun iman. Pertemuan ke-4 ini lebih menekankan hal-hal yang berhubungan dengan katekese keluarga. Paulus memberi nasehat kepada suami, kepada istri, kepada orang tua dan kepada anak. Bila mentaati nasehat-nasehat tersebut, Paulus mengatakan bahwa ada keselamatn sebagai sebuah janji yang akan didapatkan.
Agar lebih memudahkan kita dalam mendalami Kitab Suci pada pertemuan ke-4 ini, beberapa pertanyaan berikut dapat membantu kita:
  1. Adakah salah satu di antara nasehat-nasehat Paulus dalam teks Kitab Suci yang menggugah hati anda? Tergugah karena sudah melaksanakan sepenuhnya, atau justru sebaliknya?
  2. Bagaimana kita menghayati nasehat-nasehat Paulus tersebut dalam keluarga kita, yang saat ini hidup di zaman yang serba canggih?
  3. Apa yang dapat kita lakukan agar nasehat-nasehat ini tetap terpelihara dalam keluarga? Barangkali ada cara-cara yang dapat membantu? (Sharing)
  4. Sejauhmana janji pernikahan diaktualkan kembali dalam keluarga? Mungkin ada contoh-contoh yang lebih memperkaya pengalaman kita.
Pertanyaan-pertanyaan di atas membantu kita untuk meresapi semua nasehat-nasehat Paulus. Semoga sharing-sharing iman yang kita bagikan kepada sesama dapat menumbuhkan iman keluarga yang semakin kuat sehingga bersama-sama terarah kepada kesucian. Selamat berbagi. **Fidelis Harefa
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top