BOX

Damai Suatu Utopia (?)

Ilustrasi dari: photopanorama.wordpress.com

Damai, macam apakah sosoknya? Apakah ia adalah sebuah harga yang sangat mahal sehingga jutaan orang membicarakannya hanya sampai taraf ideal? Dan apakah damai itu begitu penting sehingga orang tak habis-habisnya mempersoalkannya, bahkan sampai ada badan internasional (PBB) yang dibentuk untuk mewujudkan sosok damai itu?

Damai yang menjadi ideal memang sejak dahulu hingga saat ini, semakin dikejar oleh setiap orang dan setiap bangsa di muka bumi ini. Ia didambakan karena memiliki daya yang memberi ketenteraman bagi setiap orang.

Bila kita menengok sejenak situasi dunia saat ini, maka ada alasan kuat kalau orang begitu merindukan terciptanya kedamaian. Soalnya, dimana-mana terutama di kawasan-kawasan  sentral seperti, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin, kini dicabik-cabik oleh pertikaian menahun dengan acaman kekuatan militer yang konfrontatif. Situasi demikian tentu tidak hanya menjadi keprihatinan lokal, melainkan lebih merupakan keprihatinan mondial. Sebab pertikaian yang semakin hari semakin brutal, justru akan dapat membawa pengaruh yang berjangkau luas dan berkecambah, menyulut reaksi frontal dari bangsa lain yang merasa ikut bertanggungjawab. Apalagi pertikaian itu dimotivasi oleh pandangan etnis dan agama yang seringkali dapat menjaring bangsa lain yang merasa (meminjam istilah Khairil Anwar) berasal dari “Kemah” yang sama, seperti kemah Agama atau kemah Ras.

Contoh paling nyata untuk hal ini, dapat dilihat dalam tragedi Bosnia yang tidak hanya dipandang melulu dari soal kemanusiaan, tetapi juga orang lalu menginterpretasikan masalah ini berdasarkan kemah agama. Itu makanya tragedi Bosnia yang nota bene lebih banyak penduduknya beragama Islam, mengundang perhatian OKI selain PBB untuk segera mengambil langkah-langkah praktis, kongkrit dalam menegakan perdamaian di sana.

***

Problem yang menarik perhatian para politisi dalam menangani perdamaian, memang selalu menarik untuk disimak. Sebab semakin intens pertemuan yang diselenggarakan oleh para pemimpin bangsa, untuk membicarakan bagaimana kedamaian ditegakkan, semakin damai menjadi semacam bayangan yang menggoda untuk melanggengkan konflik.  Akibatnya pertemuan-pertemuan dan perundingan-perundingan yang diadakan lebih banyak bersifat lingkaran setan dari pada menampakkan wujud damai yang sesungguhnya. Dalam perspektif ekonomis, pertemuan dan perundingan model ini, mengundang cap terhadap PBB hanya sebagai “Lembaga Bursa” yang lebih banyak menularkan ragam masalah dan penderitaan ketimbang kedamaian.

Memang kita tidak menyangkal fungsi kontrol PBB, tetapi de facto ada pihak tertentu yang mengendalikan PBB dalam rel “kepentingan diri”, sehingga citra sejati PBB tercoreng, lalu orang cenderung meragukan fungsi dan peran PBB. Bila fungsi kontrol dan peran PBB semakin hari diragukan, maka jelas persatuan para bangsa pun akan mulai terganggu.

***


Bila demikian maka kecemasan kita akan menjadi lebih majemuk. Sebab kalau PBB sebagai satu-satunya medium efektif yang diharapkan menjadi penegak damai telah kehilangan keampuhannya, maka agaknya sulit untuk menegakkan damai yang diimpikan oleh semua bangsa. Melihat kenyataan demikian kita boleh bertanya, untuk apa PBB tetap mempertahankan status quonya?

Kita memang tidak menghendaki PBB dibubarkan, tetapi barangkali yang sangat perlu dibuat PBB saat ini adalah kembali menyadari “tujuan tunggal” yang disandangnya, sambil berusaha “melimbah” diri dari pengaruh negara-negara adi kuasa yang cenderung mempertaruhkan kepentingannya dengan memperalat PBB.

Selama PBB masih dijadikan sebagai ajang kepentingan dan keuntungan negara-negara tertentu, damai yang dirindukan akan tetap menjadi utopia. Dan kalau damai tetap menjadi utopia, maka kita akan tetap berduka sambil menyanyikan lagu-lagu requiem untuk mereka yang tewas dalam peperangan, dari pada menyanyikan lagu-lagu gembira ria lantaran damai telah merajai segala-galanya. **P. Frieds Meko, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top