Katekese

Ekaristi Sumber Berbagi

Pada pertemuan III Pendalaman APP 2011, kita mendalami Ekaristi Sumber Berbagi. Saya secara umum mengajukan pertanyaan ini: Mengapa Ekaristi itu Sumber Berbagi? Beberapa hal penting dapat dicatat tentang Ekaristi ini.

  1. Dalam Ekaristi ditujukan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah teladan sejati dalam hal berbagi. Dia datang ke dunia untuk berbagi. Pada malam terakhir, sebelum Dia beralih dari dunia ini, Dia memecahkan roti yang adalah tubuh-Nya sendiri. “Inilah tubuh dan darah-Ku yang dikurbankan bagimu. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”. Dengan ini Yesus mewariskan kepada kita cara berbagi yakni dengan memecahkan roti.
  2. Ekaristi adalah sakramen istimewa karena merupakan sumber rahmat yang sangat besar. Dalam Ekaristi kita menerima sumber rahmat itu sendiri, yaitu Yesus Kristus dalam kodratnya sebagai manusia dan sebagai Allah sendiri. Perjumpaan dengan Allah secara pribadi inilah yang merupakan sumber dari rahmat-rahmat lain yang siap dianugerahkan oleh Allah. Dalam perayaan Ekaristi, dengan menerima Hosti kudus, maka disitulah terkandung potensi energi ilahi yang mampu mengubah diri kita menjadi manusia baru, yang terbuka dan mendengarkan Sabda Tuhan. Dengan demikian, Ekaristi merupakan sumber rahmat untuk menjadi manusia baru dengan habitus baru yang mau dan berani berbagi dengan sesama.
  3. Di dalam Ekaristi, kita menjadikan Karya Keselamatan Allah sebagai bagian dari diri kita sendiri, karena kita mempersatukan diri dan dipersatukan dengan Kristus yang menjadi Kurban satu-satunya yang dipersembahkan kepada Allah- yaitu Kurban yang menyelamatkan umat manusia. Dengan demikian, liturgi Ekaristi menjadi sumber doa dan tujuan doa kita. Karena itu, Ekaristi dikatakan sebagai puncak kehidupan Gereja, kesempurnaan kehidupan rohani dan arah tujuan dari segala sakramen Gereja.
  4. Ekaristi juga mengingatkan kita bahwa tidak ada Keselamatan jika tidak ada Salib; dan di dalam Kristus semua salib kita menyumbangkan arti bagi Keselamatan. Di dalam Ekaristi, kita dipersatukan dengan Kristus dan ikut ambil bagian di dalam penderitaan-Nya agar dapat pula mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya.
  5. Di dalam Ekaristi, Kristus menyatakan pemenuhan janjiNya ketika berkata, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari sorga. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya… Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:35,51,54,57). Dengan mengambil rupa roti, Yesus membuat Diri-Nya menjadi sangat kecil, meskipun sesungguhnya, bahkan surga-pun tidak cukup untuk memuat DiriNya. Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan menjadi seorang hamba… sama dengan manusia. Dan… sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, dan sampai mati di kayu salib (Fil 2: 5-8).
  6. Di dalam Ekaristi, Tuhan memberikan kasih dan rahmat pengudusan-Nya kepada kita, yaitu pada saat kita berpartisipasi dengan aktif di dalamnya, dengan mengakui bahwa Ia adalah Tuhan, dan kita membiarkan Ia mengasihi kita dan memberikan rahmat-Nya kepada kita sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya. Sebaliknya, kitapun memberikan segenap diri kita kepada Tuhan. Rahmat pengudusan Tuhan akan mengubah kita menjadi orang yang paling berbahagia, karena dapat memberikan diri kita kepada Tuhan dan sesama. Kita yang lemah dan berdosa dapat diubah Tuhan menjadi kudus, dan dimampukan oleh-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan kasih yang di luar batas pemikiran manusia. Dan di sinilah kemuliaan Tuhan dinyatakan!

Poin-poin penting tersebut di atas mengandaik sebuah persekutuan. Persekutuan dengan Allah dan Sesama. Berpartisipasi dalam perayaan ekaristi berarti kita juga turut berbagi. Dalam perayaan Ekaristi, persembahan seluruh umat diperstukan dengan persembahan Kristus. Dalam Ekaristi, roti yang dimiliki oleh umat beriman, dipersatukan dengan roti kehidupan yakni tubuh dan darah Kristus yang kemudian dipecahkan dan dibagikan.

Kesimpulannya, kita diberi, maka kitapun harus memberi. Kita memberi tidak harus menunggu harta yang berlimpah, tetapi kita harus bisa memberi dan berbagi dalam kekurangan kita. Bagaimana cara kita berbagi dalam kekurangan? Pertanyaan inilah yang menghantar kita sampai pada tema yang ketiga. Model berbagi dalam kekurangan adalah teladan Kristus yang dimeteraikan dalam perayaan Ekaristi. Kristus sendiri rela membagi-bagikan tubuh-Nya kepada kita sebagai wujud pemberian diri secara total. Oleh karena itu, kita harus menjadi Ekaristi menjadi contoh, model dan sumber berbagi dalam kehidupan kita sebagai umat beriman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top