Katekese

Fidelis Harefa, BKSN 2016 (3): Bersaksi dan Mewartakan Dalam Gereja [Kis. 18:1-8]

Pertemuan pertama dan kedua Pendalaman Kitab Suci telah memberikan kita pemahaman tentang siapa model kita dalam mewartakan dan bersaksi. Hal ini akan lebih jelas bila melihat kembali tema pertemuan pertama pada artikel berjudul BKSN 2016 (1): Yesus, Model Pewarta Sejati [Luk4:16-21] yang telah dipublikasikan beberapa minggu lalu oleh Kairos.

Pertemuan kedua mengajak kita untuk memulai pewartaan dan kesaksian dalam keluarga, seperti Yesus yang memulai kesaksian dan pewartaannya di Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Agar pendalaman kita tentang tema ini tetap ada kesinambungannya, baik juga untuk membaca lagi dua artikel yang dipublikasikan oleh Kairos terkait dengan tema pertemuan kedua. Fidelis Harefa, BKSN 2016 (2): Bersaksi dan Mewartakan Dalam Keluarga (Kol. 3 : 12-27) dan Victorinus Raja Odja, BKSN 2016 (2): Bersaksi dan Mewartakan Dalam Keluarga (Kol. 3 : 12-27) adalah dua artikel yang kami maksudkan.

Setelah kita memulainya dalam kelompok kecil, sekarang pada pertemuan ketiga, kita secara bertahap memasuki kelompok yang semakin besar. Pada pertemuan ketiga ini, kita melihat bagaimana kita sebagai umat pilihan bersaksi dan mewartakan dalam Gereja. Kisah Rasul Paulus menjadi bahan bacaan yang sangat tepat untuk kita renungkan bersama. Dalam Kis. 18: 1-8, kita dapat merenungkan bagaimana Rasul Paulus dengan semangat yang berapi-api mewartakan dan bersaksi di Korintus. Selain itu, kita juga dapat menemukan bagaimana Rasul Paulus menerima penolakan atas kehadirannya.

Suasana setelah Pertemuan Kedua Pendalaman Kitab Suci selesai
di Lingkungan St. Theresia Paroki St. Maria Palangkaraya

Oleh karena itu, pertemuan ketiga ini berusaha mengetengahkan dua informasi penting bagi kita yakni: (1) Semangat dalam bersaksi dan mewartakan harus dibangun sedemikian rupa tanpa kenal lelah dan putus asa, karena (2) dalam bersaksi dan mewartakan, ada kalanya kita mendapatkan penolakan dari orang-orang di sekitar kita. Tentang penolakan, Yesus telah mengingatkan kita akan hal itu. Jangankan di tempat asing atau di tempat lain, menurut Yesus, sesungguhnya seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya (bdk. Luk. 4:24). Ini berarti bahwa dalam membangun semangat untuk bersaksi dan mewartakan, kita harus mengantisipasi adanya penolakan karena model kita sendiri, yakni Yesus telah mengingatkan hal itu.

Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak putus asa bila mendapatkan penolakan? Pertemuan ketiga ini memberikan tiga hal penting yang harus diperhatikan, yakni:

  1. Persatuan ke dalam komunitas. Semangat kita akan selalu dikuatkan bila kita tetap bersatu dalam komunitas. Dalam komunitas kita akan memperoleh peneguhan dan nasehat. Dengan saling berbagi dalam komunitas, kita akan menjadi kaya sehingga menjadi lebih kuat bila menghadapi penolakan. Bila terpisah dari komunitas, kita tidak akan mendapat kekuatan. Maka, dalam pertemuan ketiga ini, komunitas yang dimaksud adalah persekutuan dalam Gereja.
  2. Saling menolong dan mendukung dalam pemberitaan. Saling menolong adalah suatu tradisi, bukan hanya dalam tradisi Gereja tetapi juga kita temukan dalam tradisi lokal. Di Indonesia, kita kenal istilah gotong-royong, merupakan representasi dari sebuah tradisi saling menolong yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Tradisi mulia ini harus tetap dipertahankan agar kita mampu menghadapi suatu penolakan dalam bersaksi dan mewartakan.
  3. Tidak menyerah. Paulus telah memberikan contoh bagi kita tentang semangat ini. Ketika Paulus ditolak di Korintus, dia tidak lari dari Korintus. Dia tetap berada di Korintus dan masuk kembali dalam komunitas. Komunitas menjadikan Paulus semakin kuat dan tetap mewartakan Injil. Bila kita ditolak, janganlah kita lari keluar dari komunitas. Meskipun kecewa dan tersakiti karena penolakan, tetaplah dalam komunitas dan jangan menjadi orang luar yang terpisah dari komunitas. Dengan tetap berada dalam komunitas, kita akan mendapatkan pencerahan baru dan semangat yang baru.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh umat pilihan dalam bersaksi dan mewartakan, terutama dalam konteks kehidupan menggereja zaman sekarang adalah:
  1. Dalam bersaksi dan mewartakan, kita bekerja sebagai tim, tidak sendirian. Paulus telah memberikan contoh tentang hal ini.
  2. Perlu menyadari bahwa pada zaman sekarang, kesadaran umat pilihan untuk bermisi masih sangat rendah. Panggilan untuk bersaksi dan mewartakan seolah-olah diserahkan kepada mereka yang telah memilih jalan hidup khusus seperti para imam dan biarawan-biarawati. Akibatnya, panggilan dan militansi untuk mewartakan dan bersaksi tentang Kristus masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, pada pertemuan ketiga ini, kita harus membuang jauh-jauh pemikiran yang selalu melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.
  3. Kesaksian dan Pewartaan yang sangat sederhana adalah dengan secara konkret menghidup rahmat dan peran Roh Kudus sebagai konsekuensi logis dari pengikut Kristus yang telah dipanggil untuk mewartakan.
Semoga poin-poin yang telah kami sajikan ini dapat menjadi permenungan yang membantu lancarnya pertemuan ketiga dalam Bulan Kitab Suci Nasional 2016. 
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top