Frame

Gereja Ortodoks

Sejak tanggal 18 Januari 2013 yang lalu, Gereja Katolik sejagat memulai Pekan Doa Sedunia untuk persatuan umat Kristen. Pekan doa ini diadakan berkaitan dengan bencana perpecahan yang menimpa Gereja Katolik dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik. Perpecahan itu tentu bertentangan dengan kerinduan Yesus akan persatuan di antara para murid-Nya seperti diungkapkan Yesus dalam doa-Nya pada perjamuan malam terakhir. Gereja yang pertama memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma adalah Gereja Ortodoks pada tahun 1054. Untuk itu kita perlu mengenalnya dan karena itu kami turunkan dalam tulisan ini.

Gereja Ortodoks merupakan federasi Gereja-Gereja otokefal (bhs Yunani = mempunyai “kepala sendiri”) di negara-negara Eropa Timur, khususnya Rusia dan negara-negara di pesisir timur Laut Tengah. Pada masa pertentangan kristologis abad ke-4 dan ke-5 Gereja-Gereja ini tetap berpegang pada iman yang benar (bhs.Yunani = orthodox). Iman yang benar (ortodoks) itu berkaitan dengan ajaran tentang Kristus seperti tercantum dalam Syahadat yang dihasilkan oleh Konsili Nikea I (thn 325) dan kemudian ditegaskan kembali dalam Konsili Kalsedon I (thn 381). Syahadat ini kita kenal sampai saat ini sebagai Syahadat panjang atau Syahadat Nikea-Kalsedon. Pada konsili Efesus tahun 431 para bapa Konsili menetapkan bahwa rumusan Syahadat Nikea-Kalsedon itu sudah final dan dilarang untuk dirubah dengan ancaman anathema (bhs. Latin: kutukan)  atau ekskomunikasi (= pengucilan seseorang dari Gereja Katolik).

Pada Konsili Toledo III di Spanyol pada tahun 589 para bapak Konsili merubah Syahadat Nikea-Kalsedon dengan tambahan “Filioque” (bhs Latin: “dan Putera”). Tambahan itu pada kalimat: “Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia berasal dari Bapa “dan Putra”. Tambahan itu dimaksudkan untuk menekankan keilahian dan kesetaraan Putra dan Bapa guna menentang ajaran sesat Arianisme yang mengajarkan bahwa Yesus adalah firman yang diciptakan oleh Bapa. Sri Paus meskipun pada awalnya menentang tambahan itu, akhirnya setuju dan mendukungnya. Tambahan itu dilawan dengan keras oleh Gereja Timur, khususnya ketika Photius menjadi Batrik Konstantinopel selama akhir abad 9, baik atas dasar teologi maupun karena penambahan itu melanggar larangan Konsili Efesus untuk mengubah Syahadat. Penambahan itu menjadi alasan utama terjadinya skisma – perpecahan – antara dua Gereja pada abad 11 dan sejak itu tetap merupakan halangan utama untuk terjadinya penyatuan kembali. Gereja Timur menamakan diri Gereja Ortodoks karena anggapan bahwa merekalah yang masih berpegang pada ajaran benar atau asli tentang Kristus seperti tercantum dalam Syahadat Nikea-Kalsedon.

Sebab-sebab lain terjadinya perpecahan pada abad 11 sangat kompleks, antara lain teologi di bagian timur lebih spekulatif; kristologinya cenderung bersifat mistik; ibadat menekankan ritus dan doa dalam bahasa tertentu. Gereja-Gereja Partikular di bagian timur erat hubungannya dengan kekuasaan duniawi (kaisar, tsar…), sehingga cenderung menjadi Gereja-Gereja nasional: Simfonia antara agama dan pemerintahan dijaga dan dijalin selalu. Sebab perpecahan juga bercorak politis: Perkembangan ini dimulai dengan meningkatnya kedudukan Uskup Byzantium, setelah kota ini menjadi ibukota Kekaisaran Romawi (326). Para kaisar menggunakan Uskup ibukota sebagai alat untuk memanfaatkan Gereja demi kepentingan politik kekaisaran. Akhirnya Uskup Konstantinopel menjadi yang paling tinggi kedudukannya di bagian timur, walaupun masih mengakui bahwa Paus di Roma memiliki kedudukan terhormat dalam seluruh Gereja. Namun demikian, perbedaan dalam banyak bidang semakin luas (cara hidup rohaniwan, bahasa ibadat, tgl hari-hari raya…), sehingga hal-hal sepele menjadi dalih untuk perpecahan total dalam Skisma Timur pada tahun 1054. Paus dan Batrik sama-sama salah. Keadaan itu dikuatkan oleh berbagai anti-Konstantinopel para kesatria barat dalam Perang Salib (abad-13).

Sejak tahun 1054 Gereja Ortodoks tidak lagi mengakui kepemimpinan Uskup Roma atau Paus atas Gereja seluruhnya. Gereja Ortodoks terdiri dari empat Gereja Batrik kuno (Konstantinopel, Aleksandria, Antiokia dan Yerusalem), Batrik baru (Moskow, Belgrad, Sofia dan Bukarest), beberapa Gereja otokefal (Yunani, Georgia, Siprus, Ceko, Slowakia, Polandia, Albania dan Sinai), beberapa Gereja otonom, yang belum seluruhnya independen (Tiongkok, Jepang dan Finlandia) serta banyak propinsi gerejani di seLuruh dunia. Sebagian besar umat Kristen ini (k.l. 150 juta) terpaksa puluhan tahun lamanya hidup di bawah tekanan penganiayaan rezim komunis-ateis di Rusia dan negara-negara Balkan.

Dalam hal ajaran, seluruh Gereja Ortodoks mengakui tujuh Konsili Ekumenis pertama (325-787), – Syahadat Nikea-Konstantinopel dan berpegang pada ajaran-ajaran Bapa-Bapa Gereja, khususnya yang berbahasa Yunani. Maka, dalam hal pokok tiada perbedaan dengan Katolik. Perbedaan sekunder yang mencolok adalah: penolakan (1) ajaran bahwa “Roh Kudus tidak hanya berasal dari Bapa melainkan juga dari Putra” (= filioque; latin), (2) ajaran tentang Maria yang terkandung tanpa noda, (3) ajaran tentang primat dan yurisdiksi Uskup Roma atas seluruh Gereja dan sifat kebal-salahnya bila secara resmi menegaskan ajaran tentang iman dan susila yang mengikat Gereja, (4) Tiada pimpinan Gereja universal, baik dalam hal ajaran maupun dalam hal tata-tertib gerejani.

Perbedaan-perbedaan sekunder dapat kami kemukakan beberapa sebagai berikut. Hari Raya Natal dirayakan pada Hari Raya Penampakan Tuhan (bukan pada 25 Desember), rohaniwannya boleh menikah, tanda salib dari bahu kanan ke kiri (bukan kiri ke kanan), kedua kaki Yesus pada salib lurus atau tidak silang di atas yang lain. Semoga dengan tulisan ini kita dapat lebih memahami bencana perpecahan pertama dalam sejarah Gereja Katolik dan semoga kita tak henti-hentinya berdoa untuk penyatuan kembali. ** P. Alex  Dato’ L., SVD Sumber:1.  Ensiklopedi Gereja; 2. Konsili-Konsili Gereja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top