Frame

Hari Raya Semua Orang Kudus

Pada tanggal 1 November Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Hari raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Katolik Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usahanya menyebarkan iman Katolik. Di lingkungan Gereja Katolik Barat, khususnya Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadat untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah gereja yang dipersembahkan kepada St Maria bersama para rasul. Pesta ini kemudian berkembang dan menjadi populer dengan “Hari Raya Semua Orang Kudus”, yang dimaksudkan untuk menghormati para Kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum dan yang tidak diakui secara resmi oleh Gereja.

Dalam Perjanjian Baru semua orang Kristen disebut “kudus”. Sebab rahmat ilahi mengikutsertakan mereka dalam kekudusan ilahi berkat iman akan Yesus Kristus dam pembaptisan dalam Roh Kudus (bdk Lk 3,16;Kis 1:5.9.13; Rm 8:27, 1Kor 1:2; Ef 1:1). Sejak abad ke 2 gelar “orang kudus” dikenakan pada para martir yang mati syahid demi iman akan Yesus Kristus. Pada abad ke 4 gelar itu juga diberikan kepada para pertapa, uskup yang hidupnya saleh. Baru pada abad ke 10 penggelaran seseorang menjadi kudus (kanonisasi) harus melewati sebuah proses dalam Kuria Roma. Proses itu terus berlanjut sampai saat ini.

Proses kanonisasi didahului dengan proses beatifikasi dan penyelidikan secara seksama menyangkut kesucian, keutamaan-keutamaan yang patut diteladani, dan mukijzat-mukjizat yang terjadi dengan perantaraannya. Ketika calon orang kudus itu diunggulkan karena keutamaan-keutamaan yang ia miliki dan karenanya ia pantas dihormati, maka calon itu diberi sebutan “venerabilis” yang berarti patut dihormati. Namun penghormatan kepada calon tersebut masih terbatas dalam lingkungan tertentu, entah Keuskupan atau biara. Selanjutnya calon itu diberi gelar “beato” (pria) atau “beata” (wanita), kalau terjadi minimal dua mukjizat dengan perantaraannya. Beatifikasi seseorang dilakukan oleh Sri Paus setelah sebuah penelitian saksama terhadap peristiwa yang dilaporkan sebagai mukjizat (minimal dua). Tentu saja peristiwa itu harus dibuktikan oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan bahwa peristiwa itu terjadi tanpa campur tangan manusia atau dengan kata lain peristiwa itu terjadi semata-mata karena kuasa Allah berkat doa dari calon orang kudus itu. Beatifikasi itu telah terjadi begitu cepat terhadap ibu Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes Paulus II. Langkah terakhir adalah kanonisasi atau penggelaran kudus setelah terjadi minimal empat mukjizat dengan perantaraannya.

Banyak orang kudus dihormati sebagai pelindung biara, gereja, keuskupan, kota dan negara tertentu. Waktu dibaptis dan juga waktu diterimakan Skr. Krisma setiap orang Katolik memilih seorang kudus sebagai pelindung yang menjadi panutan dan pendoa. Ketika lahir, setiap orang menerima sebuah nama. Pada umumnya orangtua memberikan sebuah nama yang pasti punya makna tertentu. Pada waktu seseorang dilahirkan kembali dalam pembaptisan dan penerimaan Skr. Krisma, setiap orang memilih nama seorang kudus menjadi namanya.

Nama orang kudus itu diharapkan menjadi idola, yang kepribadian serta keutamaan-keutamaan yang dimilikinya pantas diteladani. Untuk itu tiap orang diharapkan mengenal biografi orang kudus itu teristimewa kebajikan-kebajikan yang menghias kepribadiannya guna menjadi inspirasi bagi pengembangan kepribadiannya. Selain itu orang kudus itu kiranya dijadikan sebagai pendoa. Kita bisa berdoa langsung kepada Tuhan, tapi dapat juga meminta orang kudus pelindung kita untuk mendoakan kita. Semoga para kudus mendoakan kita agar kita pun dapat mempertahankan iman kita sampai akhir pertandingan di dunia ini dan kelak bersatu dengan mereka di surga. Semoga!  **P. Alex Dato’ L., SVD – Sumber: 1. Orang Kudus Sepanjang Tahun. 2. Ensiklopedi Gereja, 3. The Catholic Encyclopedia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top