Katekese

Imamat Kristus Menurut Surat Kepada Orang Ibrani

Pendahuluan

Surat ini ditulis oleh sesorang yang hidup sesudah Paulus. Surat ini tidak mempunyai judul. Surat ini hanya berjudul Surat kepada Orang Ibrani, yang diduga dikirim oleh penulis yang tinggal diluar Palestina, dan ditujukan kepada orang-orang kristen yang berlatarbelakang Yahudi di Korintus. Orang kristen Yahudi ini ini sedang mengalami kebingungan karena iman mereka sedang mengalami cobaan. Mereka sedang berada pada masa sulit, banyak menderita (10:32): dipenjara, dirampas harta miliknya, diganggu seperti halnya saudara-saudara mereka di gereja-gereja yang baru didirikan (bdk I Tes 2:14). Hal ini berlangsung cukup lama, dan semakin berat dan orang-orang itu menjadi lemah dan goyah (12:3-4, 12). Masih ditambah lagi, mereka mempunyai keragu-raguan mengenai iman dan praktek-praktek keagamaan (13:9; bdk. 3:6; 4:14; 10: 22-25).

Isi Pokok Teologi Imamat Kristus dalam Surat Ibrani

Orang kristen Yahudi ini ini sedang mengalami kebingungan karena iman mereka sedang mengalami cobaan. Mereka sedang berada pada masa sulit, banyak menderita (10:32): dipenjara, dirampas harta miliknya, diganggu seperti halnya saudara-saudara mereka di gereja-gereja yang baru didirikan (bdk I Tes 2:14). Hal ini berlangsung cukup lama, dan semakin berat dan orang-orang itu menjadi lemah dan goyah (12:3-4, 12). Masih ditambah lagi munculnya keraguan dalam komunitas mereka untuk melaksanakan praktek-praktek keagamaan (13:9; bdk. 3:6; 4:14; 10: 22-25). Untuk menyakinkan umat dengan menghadirkan Kristus sebagai satu-satunya pengantara keselamatan iman, mendasari munculnya beberapa tema teologis pada surat ini.

Kedudukan Nama Yesus 1:5 – 2:18

Bagian ini, pengarang Surat Ibrani membandingkan Kristus dengan para malaikat. Tema ini diletakan pada akhir bagian pembukaan (1:1-4), yakni kietka ia  menyatakan bahwa Putera lebih tinggi dari malaikat (1:4). Afirmasi ini kemudian dibicarakan secara meluas dalam 1:5-2:18. Dinyatakan di dalamnya superioritas Yesus sebagai mediator Sabda (1:5-14), otoritas Sabda keselamatan yang disampaikan melalui Putera (2:1-4). Perbandingan Yesus dengan malaikat (2:9) bukan menjadi alasan meragukan keilahiannya. Inkarnasi Yesus (2: 5-9) dan solidaritasnya dengan manusia (2:10-18) penting bagi tercapainya penebusan. Kristus adalah Putera Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dan sebagai pengantara antara Allah dengan manusia (Ibr 1:1-6).

  • Putra Allah  bertahta sebagai Raja untuk selama-lamanya (1:5-14). Di sini pengarang mengingatkan manusia untuk mengakui dan menerima kekuasaan-Nya ( 2:1-4);
  • Putera Allah Bersatu dengan Manusia melalui sengsara-Nya ( 2:5-1Dengan menderita sengsara, Ia mau mengungkapkan solidaritas-Nya dengan manusia, dan melalui kemenangan-Nya atas maut, Ia mentransformasikan kefanaan kita guna masuk ke dalam kemuliaan-Nya yang abadi.

Imam Melkisedek (Yesus melebihi Musa) (3:1-4:13)

  • Yesus, Imam Besar yang patut kita imani, karena Ia adalah Putera Allah 3:1-6. Dalam bagian ini Kristus Imam Besar dibandingkan dengan Musa. Namun Musa dikenal sebagai pelayan Allah, sementara Yesus adalah Putera Allah yang diutus Bapa ke dunia. Maka kita harus mendengar dan beriman kepada-Nya, sebab iman kepada-Nya merupakan awal pengharapan kita untuk masuk ke dalam kediaman ilahi (3:1-6);
  • Yesus Kristus adalah Imam Besar yang berbelas kasih dan peduli kepada manusia 4:15 – 5:10. Sebagai imam yang peduli dan berbelaskasihan, Kristus melaksanakan tugas-Nya lewat sengsara. Ia mengurbankan diri-Nya bagi manusia. Ia berkurban bukan untuk diri-Nya sendiri sebab Ia tidak berdosa (4:15) melainkan untuk menebus dosa manusia. Untuk mencapai kepenuhan panggilan imamat-Nya, Yesus melewatinya dengan penderitaan dan ketaatkan penuh cinta kepada Bapa (9:12).

Yesus Imam Agung yang Sempurna (Berbelas Kasih dan Setia) (5:1-10:39)

Imam yang berbelaskasih dan penuh iman menjadi kata kunci pada bagian kedua ini (3:1-5:10). Penulis mengarahkan perhatian pada kepenuhan iman Yesus (3:1-6) dan mengajak pendengar untuk menyatakan iman seperti itu juga (3:6b-4:14). Selanjutnya memaparkan peneguhan dengan menarik perhatian pendengar pada pembicaraan seputar penderitaan Yesus sebagai Imam Agung yang penuh belaskasih dan setia melayani Allah (4:15-5:10).

Otoritas Kristus sebagai Imam Agung mempunyai dua syarat utama. Pertama: Yesus mempunyai kemampuan untuk berhubungan antara manusia dan Allah. Dia adalah Imam yang menjadi pengantara antara manusia dengan Allah. Dan hanya Dialah yang berkenan dihadapan Allah. Hubungan dengan Allah hanya terjamin bila imam menjaminnya berkenan kepada-Nya. Kedua: Yesus mempunyai solidaritas dan loyalitas kepada manusia. Imam Agung sebagai wakil manusia sungguh terlibat, solider terhadap suka dan duka manusia. Dengan keterlibatan seperti itu Yesus mampu menjadi perantara manusia dengan Allah Bapa. Syarat ini diwujudkan dalam hidup Yesus dengan menanggung seluruh beban kehidupan manusia, yaitu dengan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai “hamba” manusia, sampai wafat di salib.

Imam besar Yesus Kristus bukan hanya setia tetapi juga berbelas kasih. Ia solider terhadap derita manusia, bahkan Ia berani menanggung segala kelemahan dan dosa manusia. “Sebab imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,  sebaliknya sama dengan kita. Ia juga dicobai, hanya tidak berbuat atau jatuh kedalam dosa (4:15).

Solidaritas-Nya dengan manusia merupakan basis bagi tugas imamat, yang harus menjadi pengantara manusia dengna Allah. Syarat ini merupakan syarat utama, dan syarat ini secara istimewa dipenuhi Yesus. Imam Besar dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusi dalam hubungan mereka degan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa” (5:1).

Ciri pertama (utama) sifat imamat baru ialah solidaritas dengan manusia (5:1-2). Tragedi kehiduapn manusa telah disandang secara lahir dan batin, itulah yang menjadikan-Nya sungguh-sungguh solider dengan manusia. “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang dideritan-Nya” (5:8).

Ciri kedua bahwa imamat-Nya bukan karena prestasi pribadi dan prakarsa manusia, melainkan ditetapkan oleh Allah, dipanggil secara khusus oleh Allah (5:4). Ciri ini terpenuhi juga dalam diri Yesus. Ia tidak menganggap diri layak pada Allah, melainkan dimuliakan oleh ketaatan-Nya (5:5-6).

Ciri ketiga adalah imamat baru terlaksana dalam silih. Bukan korban dan persembahan lahiriah yang menjadi ciri silih imami, melainkan korban pemulih dosa, kejahatan diri, dan hati yang hancur karena menyadari kegagalan di hadirat Allah. Kalau kita kenakan  pada diri Yesus Kristus, maka akan tampak dalam sengsara dan wafat-Nya.

Ciri-ciri imamat Kristus 5:11 – 10:39

  • Imamat Mesianis Kristus (7:1-28). Imamat Melkisedek sebagai model imamat Kristus: Raja Adil, Raja Damai dan Imam Abadi. Imamat Kristus dibandingkan dengan imamat kaum Levi. Imamat kaum Levi berada di bawah imamat Kristus. Kepenuhan imamat Kristus adalah berkat pengurbanan-Nya, yang karena pengurbanan itu, Kristus diangkat ke hadapan Bapa. Di sinilah kepenuhan Imamat Kristus, yaitu berkat pengurbanan-Nya, Ia menjadi pengantara manusia kepada Allah (8:1-9:28).
  • Kristus adalah pokok Keselamatan (10:1-18). Berkat pengurbanan-Nya, Kristus mempersembahkan diri-Nya secara radikal untuk membersihkan manusia dari dosa. Melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib dan kematian-Nya Kristus menyelamatkan manusia. Maka hanya melalui iman kepada Kristus manusia akan sampai kepada Allah. Oleh karena itu, manusia dipanggil untuk mendekati Allah hanya melalui dan dalam diri Kristus (10:19-39). 

Kesaksian Iman Orang Kristen: Kesetiaan kepada Krsistus melalui ketekunan

Di sini dibicarakan seputar kualitas kepenuhan iman dan ketekunan yang kukuh yang diperlukan oleh jemaat dalam mempertahankan  iman Kristianinya di tengah dunia. Karakter ini dinyatakan dalam akhir bagian ketiga: “Sebab kamu memerlukan ketekunan” (10:36). Dan “Tetapi kita adalah  orang-orang percaya” (10:39). Kata kunci ketekunan  dan kepenuhan iman  dikembangkan dalam bagian keempat ini. Bagian ini terbagi atas dua uni, 11:1-40, karakter iman, dan 12: 1-13 ketekunan. Iman merupakan faktor utama dalam aktivitas religius. Penulis mengambil contoh iman dari para leluhur Israel (Abel, Henokh, Abraham, Musa dan Bapa-Bapa bangsa (11:1-40). Ketekunan mereka itu diharapkan menjadi contoh yang baik untuk putera-putera Allah dalam mengimani Kristus. Kita harus bergerak menuju tujuan, yaitu Kristus sendiri.
Keteguhan itu harus terungkap di tengah penderitaan. Iman akan Yesus berarti ikut menderita bersama Kristus. Kita harus tetap teguh dalam iman akan Kristus sebab Kristus telah memberi contoh keteguhan itu (12:1-13)

Komunitas Orang Beriman (12:14-13:21).

Merupakan kesimpulan dari kotbah berkaitan dengan pelaksanaan pastoral. Penjelasan diintegralkan dengan pengajaran serta insturksi yang mendahului dan mengikutinya. Buah-buah dari kasih dan kesetiaan
Setiap orang harus berusaha untuk memperoleh Kerajaan Kebangkita (12:14-28), yaitu hidup damai, cinta kasih dan keadilan. Selain itu, perlunya sikap-sikap penuh pengurbanan dalam hidup sebagai orang kristen yang bertitik tolak dari pengurbanan dan penderitaan Kristus (13:7-19). Hubungan yang harus dipertahankan dengan memandang kenyataan surgawi  (12: 14-29).

Penutup  (13:20-21)

Penulis surat Ibrani menginterpretasikan status Yesus sebagai Putera Allah dengan istilah imamat. Dengan interpretasinya yang dinyatakan dalam bentuk kotbah yanb berisikan p enjelasan dan nasihat/ajakan, penulis ingin meneguhkan kepercayaan umat, berani menanggung konsekuensinya. Allah tetap menyelamatkan mereka melalui Yesus Kristus yang adalah Imam Agung. Yesus Putera Allah yang adalah Imam Agung itu dapat menelamat kan mereka sekarang dan di masa datang, dalam penderitaan yang mereka alami. Dengan demikian, penulis inin agar pendengar mendengarnya sampai pada kesimpulan untuk tetap percaya dan bertekun dalam iman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top