Edukasi

Kepemimpinan Kristiani

Dalam situasi dan kondisi tertentu setiap orang pasti menjadi bagian dari suatu bentuk kebersamaan atau organisasi seperti keluarga, di mana mau tidak mau orang harus memainkan peran sebagai pemimpin. Ada beberapa proses tampilnya soerang pemimpin. (1) Seseorang bisa tampil sebagai pemimpin karena ia lahir dengan bakat untuk menjadi pemimpin. (2) Seseorang bisa tampil sebagai pemimpin sebagai hasil pendidikan dan pelatihan. (3) Seorang pemimpin itu “dibuat sendiri” (self-made).
Menurut Stephen R. Covey dan banyak penulis terkenal lainnya, “Pemimpin tidak dibuat dan tidak dilahirkan, tetapi dibuat sendiri”. Kepemimpinan adalah sebuah “fungsi” dari pilihan; dengan kata lain, kepemimpinan terkait erat dengan pilihan. Seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik, kalau ia sendiri dapat memimpin dirinya sendiri berdasarkan pilihan-pilihan yang dibuatnya. 
Ada beberapa paham tentang kepemimpinan sebagai berikut:
1. Ken Blanchard & Phil Hodges: Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi (cara berpikir, perilaku, perkembangan orang) untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan mencakup bimbingan dan dorongan kepada orang lain. Kepemimpinan berusaha mengembangkan karakter yang dibutuhkan dalam diri orang. Dua hal terpenting adalah pertama, mempengaruhi orang lain entah secara positif maupun negatif. Kedua, pilihan personal tentang cara dan untuk apa pengaruh itu digunakan. Dalam pilihan yang dibuat, terletak mutu dan moralitas dari kepemimpinan seseorang, apakah untuk kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan orang yang dipimpin (self-centered atau other-centered), melayani atau dilayani.
2. Stephen R.Covey: Kepemimpinan  adalah mengkomunikasikan kepada orang lain nilai dan potensi mereka secara amat jelas sehingga mereka bisa melihat hal itu dalam diri mereka. Pandangan seperti itu sudah lama dihayati dan diamalkan oleh banyak orangtua dalam mendidik anaknya. Pendidikan atau education berasal dari bahasa latin educatio. Educatio berasal daari kata kerja educare yang secara harafiah berarti menghantar (ducere) keluar (ex). Pendidikan berarti membantu anak didik mengetahui dan mengeluarkan potensi yang dimilikinya. 
Kepemimpin berarti membantu orang lain untuk mengenal seperangkat nilai yang menjadi arah hidupnya dan sekaligus memberdayakan untuk dapat memimpin diri sendiri. Orang seperti itu adalah orang yang bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Tanggungjawab (responsible): dapat memberikan jawab terhadap nilai tertentu atau dapat memperhitungkan (accountable) nilai tertentu dalam setiap sikap dan perilakunya. 
Kepemimpinan berarti memberdayakan orang lain. Kepemimpinan itu membantu orang lain untuk menentukan arah hidupnya sendiri (menjadi lokomotif) berdasarkan potensi yang ia miliki. Ia tidak lagi menjadi korban (victim) masa lampaunya, lingkungannya atau situasinya saat ini. Ia dapat dan harus menjadi lain (to make difference). 
Kepemimpinan berarti mengilhami orang lain untuk menemukan suara panggilannya yakni kerinduan terdalam untuk menjalani kehidupan yang hebat, yang agung, dan memberi sumbangan nyata – untuk sungguh-sungguh merasa penting, untuk membuat perbedaan yang benar-benar nyata. Bandingkan Yoh 10:10. Orang menjalani hidupnya sesuai dengan arah (visi) yang dipilihnya sendiri. Kepemimpinan model ini adalah kepemimpinan yang melayani.
3. Kepemimpinan Kristiani: adalah memberdayakan orang dengan teladan, bimbingan, kepedulian, pengertian, kepekaan, kepercayaan, penghargaan, dorongan, peneguhan dan berbagi visi (Robert Greenleaf). Kepemimpin Kristiani berawal dari hati dan pikiran (=sikap). Kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan pelayanan (servant leadership) mengikuti teladan Kristus. Dengan kata lain seorang yang mau menjadi pemimpin, ia harus memimpin seperti Yesus (Lead like Jesus). Inti dari kepemimpinan Kristiani adalah pelayanan yang rendah hati dan sikap yang paling penting adalah sikap seorang pelayan. 
Menurut Dr. Paul J. Meyer: “Sikap terpenting adalah sikap seorang pelayan. Orang yang mencapai sukses besar dalam bisnis adalah mereka yang secara konsisten mengembangkan sikap seorang pelayan … Mengembangkan sikap pelayan di segala bidang kehidupan, merubah diri anda. Ia merubah cara anda berhubungan dengan orang lain di rumah, dalam bisnis anda, dalam semua kontak sosial dan dalam hidup rohani anda” (Developing a Servant Heart).
Pemimpin-pemimpin yang sangat efektif dinilai sangat berhasil karena mereka secara konsisten menganggap dirinya sebagai pelayan. Mereka ingin melayani orang lain karena mereka mencintai orang lain. 
Ada beberapa ciri pemimpin yang mempunyai hati seorang pelayan:
  1. merasa disemangati oleh apa yang mereka lakukan.
  2. senantiasa penuh entusias terhadap hasil yang dicapai oleh pelanggan atau anggota teamnya.
  3. menatap hari esok penuh pengharapan.
  4. selalu berusaha membangun suatu organisasi yang aktif.
  5. selalu dikelilingi oleh anggota team yang positif dan produktif

Seorang pemimpin pelayan yang efektif berfokus pada:
  1. memberdayakan (empowering) orang lain dengan memberi mereka tanggungjawab yang jelas, mengkomunikasian arti pekerjaan yang dilakukan, menyediakan kesempatan bagi pengembangan pribadi dan peningkatan ketrampilan, mengakui nilai dan pentingnya setiap anggota team.
  2. membebaskan (freeing) orang untuk menggunakan talenta, pemikiran, pandangan dan ketrampilan problem-colving yang kreatif.
  3. melayani (serving) orang lain dengan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan dan perkembangan dirinya (people-oriented quiet power).

Refleksi:
Kasih adalah fondasi dari kepemimpinan pelayanan – kasih kepada Allah yang tercermin dalam pelayanan kepada sesama. Kasih yang telah mendorong Yesus untuk membasuh kaki para murid-Nya. Kasih juga telah mendorong Yesus untuk menderita di Taman Zaitun dan Kalvari. Kepemimpinan Kristiani yang sejati tidak pernah memperhitungkan ongkos yang harus dibayar dan tidak punya ukuran pembatas.
Robert Greenleaf: Pemimpin pelayan pertama-tama adalah seorang pelayan. Itu mulai dengan perasaan alami bahwa ia ingin melayani. Melayani adalah paling pertama. Kemudian secara sadar ia memilih untuk menjadi memimpin. Orang seperti itu pasti jauh berbeda dengan orang yang lebih dahulu menjadi pemimpin karena dorong untuk mendapatkan kuasa atau meteri. Untuk orang seperti itu melayani merupakan pilihan kedua sesudah kepemimpinan dibangun.
P. Alex Dato’L, SVD
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top