Slides

Kriteria Imam Idola: Kesetiaan Kepada Kristus dan Gereja-Nya

Tahbisan imam menjadi awal seseorang masuk ke tataran hirarki yang dimaksudkan untuk pelayanan pastoral. Tahbisan berasal dari bahasa Latin ordinatio, yang artinya “memasukkan seseorang ke dalam “ordo”, yaitu kelompok yang dalam keseluruhan menjalankan fungsi tertentu, memiliki jabatan tertentu. Fungsi tersebut adalah fungsi pelayanan yang berdimensi tritugas, yaitu mengajar, menguduskan, dan mengembalakan umat beriman (LG 25, 26, 27). Tritugas inipun juga merupakan tindakan kolektif yaitu dalam kesatuan dengan dewan para uskup. Efek dan hasil dari tahbisan, yaitu dimasukkannya yang tertahbis ke dalam dewan para uskup, memungkinkan yang tertahbis menjalankan fungsinya secara resmi, mewakili Gereja semesta. Tahbisan imam, dilihat dari segi efeknya, tertahbis juga dimasukkan ke dalam kesatuan dengan para uskup, dan imam berindak sebagai “pembantu yang arif untuk uskupnya” (bdk. LG 28).

Petugas tertahbis memfokuskan pelayanannya pada perayaan sakramen-sakramen, utamanya Ekaristi, karena Ekaristi menjadi perayaan jemaat sebagai kesatuan. Tahbisan yang memberikan hak dan kewajiban menjalankan fungsi sakramental membedakan dengan petugas tak tertahbis, meski baik yang tertahbis maupun yang tak tertahbis bersama-sama menjadi pelaku dalam perayaan Ekaristi. Vatikan II juga telah memperluas arti dan makna perayaan Ekaristi sebagai perayaan umat, yang tidak lagi mempersempitnya pada tindakan konsekratoris (dengan kuasa Roh Kudus menjadikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus) pelayan tertahbis. Dengan menekankan actuosa participatio (keikutsertaan aktif) seluruh umat, maka “batas wewenang dan hak” antara petugas tertahbis dan tak-tertahbis dalam perayaan Ekaristi menjadi semakin tipis. Namun tak dapat disangkal, bahwa pihak tertahbis tetap lebih berperanan.

Berdasarkan pokok-pokok ajaran Gereja itu maka seorang imam bisa menjadi idola, apabila ia menunjukkan kesetiaannya dalam segi-segi terkait:

  1. Kesetiaan dalam panggilan, tetap menjalankan imamatnya sampai akhir hayat; walau berat, penuh perjuangan dan penuh tantangan yang membawa resiko kehidupan, batu uji keunggulan seorang imam idola adalah: tetap setia pada imamatnya.
  2. Kesetiaan dalam tritugas pelayanan, sebagai fokus kegiatannya sehari-hari, terus memperdalam dan menghidupinya demi meningkatnya pelayanan tersebut. Pelayanan sakramental dan hal-hal yang berkaitan dengan iman harus menjadi pusat perhatian dan mendapat prioritas dalam menjalankan tugas-tugasnya. Hal-hal lain yang bisa membantu tugas pelayanan boleh saja dikerjakan, tetapi tidak boleh mengaburkan tugas pokoknya. Imam idola tidak boleh dan tidak bisa diukur dengan hebatnya khotbah, pandainya mencari dana untuk pembangunan, menarik bagi kaum muda atau kelompok kategorial lainnya, berhasilnya meningkatkan sosial-ekonomi umat, dll. Imam idola ditentukan oleh kesetiaannya menjalankan tugas pelayanan iman yang menjadi panggilan sesuai dengan tahbisannya.
  3. Kesetiaan dalam memenuhi janji tahbisannya yang diwujudnyatakan dalam pelaksanaan sebaik-baiknya dalam gaya hidup dan tindakan-tindakan kongkrit sehari-hari: ketaatan kepada uskup, pimpinan lainnya, hidup sederhana, mengutamakan kaum miskin, dan hidup dalam kemurnian (selibat) dan selaras dengan kaidah-kaidah yang sudah ada dalam tradisi Gereja Katolik.

Dengan demikian seorang imam idola bukanlah imam yang mendapatkan banyak “wah” karena prestasinya yang hebat karena memiliki bermacam-macam ketrampilan dan disukai, disanjung-sanjung oleh banyak umat. Bisa saja imam idola justru seorang imam yang sederhana, yang dengan tekun dan setia menjalankan tugas imamatnya dan tak banyak orang yang mengenalnya. Tepatlah kata-kata yang perlu dipegang teguh oleh semua imam: Anda dipanggil pertama-tama untuk menjadi imam yang setia dalam pelayan Gereja, bukan imam yang sukses di mata dunia, yang populer, yang disanjung-sanjung banyak umat. Imam idola yang sempurna adalah Kristus sendiri, Sang Imam Agung, yang taat kepada kehendak Bapa. Ia memberikan contoh teladan melayani sampai sehabis-habisnya demi keselamatan umat-Nya. Semua imam selayaknya mengidolakan imam Yesus Kristus yang menjadi pusat hidup imamatnya.

+ Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF,
Uskup Keuskupan Palangka Raya
Palangka, 10 Mei 2013.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top