Lagu Liturgi

Lagu Liturgi Tidak Sama Dengan Lagu Rohani

Pemahaman yang benar tentang Liturgi akan memberi warna tersendiri dalam segala perayaan yang kita laksanakan. Pada tulisan-tulisan yang lalu, telah dijelaskan satu persatu tentang Liturgi. Kali ini, kita diajak untuk melihat perbedaan antara Lagu Liturgi dengan Lagu Rohani. Ada kalanya, kita memilih lagu-lagu dalam Perayaan Ekaristi berdasarkan cita rasa “lagunya enak”, “meriah” dan kriteria lainnya.

Lagu Liturgi adalah lagu yang diciptkan khusus untuk liturgi. Lagu Rohani adalah lagu yang diciptakan untuk kegiatan non liturgis seperti pertemuan karismatik, hiburan rohani, lagu pentas dan lain-lain. Pusat Pelatihan Musik Liturgi (PML) memberikan beberapa gambaran perbedaan Lagu Liturgi dan Lagu Rohani sebagai berikut:

  • Lagu Rohani mirip dengan manisan, dapat dinikmati namun tak cukup untuk memberi makan pada badan kita. Lagu Liturgi mirip dengan makanan bergizi, tidak selalu enak, namun perlu agar badan kita sehat dan kuat.
  • Lagu Rohani lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri atau situasi manusia daripada ingin mendengar suara Tuhan. Lagu Liturgi mengutamakan Sabda Allah dan menjawabnya dalam melaksanakan kehendak Allah secara nyata.
  • Lagu Rohani mengutamakan pujian kepada Allah (sering hanya di bibir) tanpa ambil pusing tentang konsekuensinya. Lagu Liturgi berpangkal dari hormat kepada Allah, dari kepentingan Allah (Kerajaan Allah) dan pelaksanaannya.
  • Lagu Rohani tak jarang termasuk “kitsch” atau seni palsu yang memberi kesan seni namun ternyata murahan. Lagu Liturgi tak jarang merupakan suatu tantangan, lagu dan syair yang kurang enak di telinga merangsang suatu tanggapan dari kita, dan inilah seni yang sejati.
  • Lagu Rohani praktis selalu berbentuk bait (monolog). Lagu Liturgi memakai juga bentuk sahut-menyahut, aklamasi, bentuk khusus misalanya “Kemuliaan” (dialog.
Pembedaan-pembedaan di atas tentu berdasarkan kriteria. Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
Kriteria Lagu Liturgi:
  1. Harus main peranan dalam liturgi, merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral. (SC 112).
  2. “Adalah Liturgi” atau “mengiringi liturgi”.
  3. Mengikutsertakan umat karena Liturgi “memupuk kesatuan hati”. (SC 113, 114, 121; MS 5, 15, 16)
  4. Syair terutama tentan penyelamatan Allah, maka diambil/diolah dari Kitab Suci atau dari teks Liturgi (SC 121).
  5. Syair sebagai pegangan untuk hidup sebagai orang Kristen; dipupuk iman para peserta dan hati mereka diangkat kepada Allah, untuk mempersembahkan penghormatan yang wajar kepada-Nya dan menerima rahmat-Nya secara lebih melimpah. (SC 33).
  6. Syair lebih penting daripada lagu. (SC 112)
  7. Khidmat, bermutu tinggi/seni sejati (Paus Pius X), merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. (SC 7).
  8. Bersifat Gerejani (“kami”/”kita”) atau dengan kata lain “lagu umat”.
  9. Liturgi dan lagu liturgi sering “menantang”, memuat kejutan, karena Allah memang lain dengan manusia. Perbedaan ini menuntut konsentrasi/serius dan sikap sopan dari manusia.
Kriteria Lagu Rohani:
  1. Diciptakan untuk keperluan perorangan/devosi/pentas/pertemuan rohani/pendidikan (Sekolah Minggu) atau sebagai backgroun musik (MS 53).
  2. Syair berpangkal dari/dan membahas pengalaman atau perasaan manusia.
  3. Syairnya bebas (ungkapan sikap hati).
  4. Bersifat perorangan (“aku”/”saya”).
  5. Tujuan untuk menghibur, melepaskan ketegangan.
  6. Dihindari tema yang berat (“salib”, “menyangkal diri”)
  7. Bagus namun sering tak bermutu.
  8. Melodi musik lebih penting daripada syair.
  9. “The singer” (penyanyi) jauh lebih penting dari pada lagu, “not the song”. Dengan kata lain lebih bertujuan untuk komersial.
Kita sadar bahwa pengetahuan akan Liturgi tidaklah sama dan merata untuk seluruh umat. Oleh karena itu perlu diberi penjelasan agar ada keseragaman pengetahuan dalam hal ini. Sering kita melihat dalam Perayaan Ekaristi zaman ini, yang lebih ditonjolkan adalah “paduan suaranya” atau “kelompok koornya” bukanlah keterlibatan umat dalam liturgi. Jelas ini sangat jauh dari pengertian liturgi yang sesungguhnya. Semoga dengan tulisan ini kita semakin diperkaya lagi terutama bagaimana ber-Liturgi dengan baik.
Sumber: Panduan Menjadi Dirigen Yang Baik, PML Yogyakarta 2013.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top