Kelompok Kategorial

Legio Maria Palangka Raya

Legio Mariae merupakan kerasulan awam Katolik yang didirikan oleh Frank Duff di Dublin Irlandia 7 September 1921. Legio Maria kini telah berkembang pesat dan dapat ditemukan hampir di setiap negara di dunia serta mempunyai anggota aktif hampir 3 juta orang. Di Keuskupan Palangka Raya telah berdiri satu Kuria “Bunda Pemersatu” di Sampit membawahi 36 presidium, dengan jumlah anggota  305 orang anggota aktif  dan 42 orang anggota auksilier.

Di Palangka Raya Legio Maria pernah ada yang dibentuk pada tanggal 6 Maret 1988 dengan nama presidium “Ratu Para Rasul” pendirinya diantaranya P. Norbet Betan, SVD sebagai Pembimbing Rohani, Sr. Lidwina, SFD sebagai Ketua, Bpk. Yusuf Wahyu sebagai Wakil Ketua dan Anasthasia Wahyu (alm) sebagai Bendahara. Presidium ini juga menjalankan karya kerasulan paroki diantaranya mengunjungi umat yang sakit, mengantar komuni. Namun presidium ini hanya bertahan 1 tahun 2 bulan, pada tanggal 18 Mei 1989 tidak ada kegiatan lagi alias tidur panjang.

Berbekal restu dari Pastor Paroki Katedral P. Lukas Huvang Ajat, MSF dan Bapak Uskup Keuskupan Palangka Raya, maka sekelompok awam yang sebelumnya pernah aktif sebagai legioner diantaranya Wilhelmus Y. Ndoa, Yusuf Wahyu, Al. Sudirman, Yulianus Dani Nahar, Wiwik Handayani, Elisabeth (Sr. Elisabeth, SPC) mulai membentuk/menghidupkan kembali kerasulan doa dan karya Legio Mariae dibawah koordinasi Pastor Paroki, dengan nama Presidium “Maria Bunda Kita” yang ditandai dengan rapat perdana tanggal 03 Desember 2002, dan pastor pembimbing rohani pertama Rm. Agustinus Sunarya, SVD. Melalui Legio, kaum awam menjadi terbiasa untuk berkarya dalam paroki dalam persatuan yang erat dengan imam (Pastor paroki setempat). Seorang legioner sebaiknya selalu menjalankan tugas-tugasnya seperti yang tertuang dalam Buku Pegangan diantaranya:

  1. Rapat dan doa rutin satu minggu sekali. 
  2. Menjalankan tugas yang diberikan oleh perwira saat rapat dan dilaporkan pada rapat berikutnya. (lihat/baca karya Legio Mariae)
  3. Setiap hari mendoakan Katena Legionis. 
  4. Para legionerpun  diwajibkan mampu  menyimpan rahasia berkenaan dengan yang didengar dalam rapat maupun keterangan yang diperoleh dalam melakukan tugasnya. 

Dengan dimekarkannya paroki Katedral menjadi 2 paroki, presidium “Maria Bunda Kita” turut dimekarkan yaitu Presidium “Maria Bunda Penolong Abadi” paroki Yesus Gembala Baik. Kini di Paroki Katedral telah ada 4 presidium, 2 presidium Senior dan 2 presidium Yunior, dengan jumlah anggota 78 orang, dan auxilier 15 orang.

Karya Legio Mariae

Legio Mariae atas rekomendasi pastor Paroki Katedral kala itu (P. Lukas Huvang Ajat, MSF) dan Pastor Pembimbing Rohani (Rm. Agustinus Sunarya, SVD), mengawali karyanya:

  1. Mendata umat baik yang sakit, lansia/jompo, Keluarga Miskin dan keluarga yang bermasalah. Data ini disampaikan kepada Pastor paroki dan Pastor Pembimbing Rohani. Dengan data yang ada, banyak informasi tentang umat dapat diperoleh.
  2. Atas saran Pastor Pembimbing, maka karya Legio Maria lebih difokuskan pada pelayanan orang Sakit. Setelah mendapatkan data, ternyata informasi memberi keterangan bahwa ada umat sakit dan lansia/jompo yang hidupnya berada di tengah-tengah keluarga non Katolik yang belum terlayani dengan maksimal bahkan ada yang tidak terlayani.
  3. Kunjungan ke Lembaga  Pemasyarakatan di Jalan Tjilik Riwut km. 2,5 dan Rumah Tahanan km.4,5. Legioner bersama para suster, pastor, frater yang berkarya di wilayah paroki katedral datang berkunjung setiap minggu  untuk mengadakan ibadat dan pelayanan komuni kudus. 
  4. Karya-karya Legio Mariae tidak terbatas pada umat katolik saja, melainkan juga umat non katolik. Dalam tugasnya para legioner melayani umat yang sakit sampai pada memasuki pada sakrat maut dan memandikan jenazahnya.  Ke empat karya legio tersebut berjalan sampai dengan sekarang.
  5. Membentuk sekaligus mendampingi (pembinaan)  presidium-presidium baru di paroki-paroki (Dekenat Palangka Raya dan dekenat Barito) yang belum ada Legio Marianya. Atas usaha ini, sekarang telah terbentuk beberapa presidium seperti di Kuala Kapuas (2 presidium), Pulang Pisau (2 presidium), Muara Teweh (3 presidium), PIR Butong (3 presidium) Kuala Kurun (1 presidium). 
  6. Setiap minggu ke-3 dalam bulan dilaksanakan rapat kuria ke Sampit. 
  7. Setahun Sekali pertemuan/rekoleksi di alam terbuka. 
  8. Tiga bulan sekali misa bersama 5 presidium dalam kota. Kegiatan external diantaranya pemekaran/pembentukan presidium baru, menghadiri rapat kuria, pertemuan dewan legio regio kalimantan, Pertemuan Dewan Senatus, Rekoleksi/retret/pembinaan, dll.
Jadwal Doa dan Rapat

  1. Presidium Maria Bunda Kita Senior, dilaksanakan pada hari Selasa, Pk. 17.00 WIB di Sakristi gereja lama (Gedung Serba Guna sekarang)
  2. Presidium Maria Ratu Para Rasul Senior, dilaksanakan pada hari Rabu, Pk. 17.00 WIB di STIPAS.
  3. Presidium Bunda Maria yang tak Bernoda Yunior, dilaksanakan pada hari Jumat, Pk. 17.00 WIB di Seminari.
  4. Presidium Maria Ratu Para Imam Yunior, dilaksanakan pada hari Jumat, Pk. 17.00 WIB di Seminari.
  5. Presidium Maria Bunda Penolong Abadi – YGB Senior, dilaksanakan setiap hari Senin, Pk. 17.00 WIB di Kantor Komisi Keuskupan.
Kadangkala tidak mudah bagi legioner untuk melakukan karyanya. Begitu banyak hambatan atau tantangan baik itu berasal dari diri sendiri maupun situasi setempat. Menjadi legioner berarti ada ketulusan dan kegembiraan dalam sikap dan tindakan, tidak usah menghitung-hitung untuk memberikan yang terbaik, namun mempersembahkan semuanya kepadaTuhan. **C. Wiwik Handayani.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top