BULINAS

Liturgi dan Kesehatan

Setelah kita memahami apa yang dimaksud dengan liturgi pada pertemuan kedua Bulan Liturgi Nasional 2011, kita membicarakan hubungan antara Liturgi dan Kesehatan.

Kesehatan manusia bukan sekedar vitalitas badaniah atau hanya dipahami dalam arti kesehatan badan. Konsep tentang kesehatan mesti dipahami secara holistik sebagai kesejahteraan badan, mental, spiritual dan sosial yang seutuhnya dan sepenuhnya. Dengan konsep ini kita dapat memahami bahwa liturgi berhubungan erat dengan dengan masalah kesehatan.[ref name=”liturgi dan kesehatan”]Bahan Katekese Liturgi Bulan Liturgi Nasional 2011, hal. 24[/ref]

Sebelum kita melanjutkan pendalaman ini, kita melihat sejenak apa yang dimaksud dengan kesehatan.

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. [ref name=”wiki”]Wikipedia: Definisi Kesehatan[/ref]

Orang yang sehat berarti tidak sakit atau tidak mempunyai hambatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang sehat pasti dapat meraih segala keinginannya karena dia tidak mempunyai kesulitan ekonomi, gangguan jiwa, keterasingan dan bahkan dia mampu menciptakan sesuatu yang baru demi memenuhi kebutuhannya. Sebalikanya, bila orang tidak sehat, dia akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam aspek-aspek yang disebutkan di atas.

Tentu kita bertanya, apa hubungannya dengan Liturgi yang sedang kita dalami bersama. Ada tiga hal yang dapat kita lihat berhubungan dengan Liturgi dan Kesehatan.

1. Kesehatan Peraya Liturgi   ——–>  Liturgi

Seperti telah kita ketahui bahwa “Liturgi merupakan partisipasi kita dalam doa Kristus”. Oleh karena itu, partisipasi kita menuntut pengorbanan, kesanggupan, kelayakan dan keinginan kita untuk melakukannya. Dari uraian ini, kita dapat melihat bahwa kesehatan peraya liturgi sangat mendukung kegiatan liturgi. Karena peraya liturgi tidak mempunyai gangguan dalam jiwanya, tidak mempunya beban dalam pikirannya, tidak mempunyai masalah pada fisiknya, tentu saja dia dapat berpartisipasi dengan baik dalam liturgi. Sebagai contoh: dia sanggup bernyanyi dengan baik, sanggup berdoa dengan lantang, sanggup menjadi pelayan liturgi, sanggup menempatkan diri dan mengambil sikap liturgi seperti berdiri, berlutut, membungkuk dan lain sebagainya.

Kalau demikian, bagaimana dengan orang sakit? Gangguan kesehatan yang dimiliki pun sangat berpengaruh terhadap liturgi. Peraya liturgi yang sakit mempunyai kerinduan tinggi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat liturgi. Mereka percaya bahwa dengan demikian mereka akan memperoleh kesembuhan berkat penyelenggaraan ilahi, kemurahan ilahi dan peneguhan ilahi.

Baik orang sehat, maupun orang tidak sehat tetap mempunyai peranan dan pengaruh penting dalam liturgi itu sendiri. Dan tentu saja, semua harus bertitik tolak dari kesegaran, kesehatan dan kedalaman imannya.

2. Liturgi   ——->  Kesehatan

Liturgi menyajikan “santapan” yang “bergizi tinggi”  bagi umat beriman. Liturgi adalah sumber dan puncak kehidupan Gereja. Dari padanyalah umat menimba kekuatan, buah-buah rahmat yang dibutuhkan untuk kesehatan jiwa dan raganya. [ref name=”sc”]Sancrosanctum Concilium (SC), art. 13[/ref] Dalam liturgi, umat beriman mendapatkan santapan “Sabda” yakni Firman Tuhan dan santapan dengan menu Tubuh dan Darah Krsitus.

Selain itu, liturgi juga menyajikan kesembuhan bagi umat beriman yang ditandakan dalam Sakramen Tobat dan Pengurapan orang sakit. Begitu kayanya liturgi kita sehingga kebutuhan kita pun terjawab di dalamnya bila kita ber-liturgi dengan baik dan tepat.

3. Kesehatan Peraya   <——->  Liturgi   <———> Peraya Liturgi

Orang yang mereyakan liturgi, menimba kesehatan dari liturgi itu sendiri. Dan akhirnya, kesehatan itu membuat dia mampu untuk melakukan usaha-usaha yang tepat untuk mendapatkan kesehatan yang sempurna. Liturgi menjadi inspirasi untuk usaha-usaha kesehatan peraya. Pola hidup, pola pikir, pola tingkah laku dapat diobah ketika dalam liturgi disajikan santapan “Sabda” yang mencerahkan, menyadarkan dan mewartakan. “Nemo dat quot non habet” adalah istilah dalam bahasa Latin yang mengatakan bahwa “tidak ada seorang pun sanggup memberikan sesuatu yang dia tidak miliki”. Agar kita dapat memberikan sesuatu tentang kesehatan bagi umat beriman, kita harus terlebih dahulu memiliki kesehatan itu. Karena kita sudah dianugerahi kesehatan oleh Dia Sang Pemberi Kesehatan, maka kita pun wajib membagikan kesehatan itu kepada orang lain. Semua usaha-usaha yang kita tempuh dalam mendapatkan dan membagikan kesehatan, berinsiparisikan Liturgi yang baik dan tepat.

Berdasarkan tiga hal di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa betapa pentingnya Kesehatan untuk Liturgi dan Liturgi untuk Kesehatan. Kesehatan dalam pengertian “kesempurnaan” ini hanya diperoleh dengan cara berpartisipasi dalam doa dan karya Kristus.

Beberapa kalimat singkat berikut dapat menjadi insipirasi dalam mengembangkan materi ini:

  1. Kerusakan yang terjadi di mana-mana, bertentangan dengan kehendak Allah saat dia menciptakannya “baik adanya”. Oleh karena itu, mari kita perbaiki dengan mengambil bagian dalam usaha dan karya Allah itu sendiri melalui Liturgi.
  2. Perpecahan, peperangan, saling mengucilkan dan lain-lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial, adalah akibat dari kelalaian kita. Marilah kita membangun kembali kesatuan itu dengan berpartisipasi dalam kebersamaan seturut teladan Kristus, melalui Liturgi. Dalam Liturgi, kita dipersatukan. Kita menjadi satu dan tidak ada pembedaan golongan, kelas, kasta dan lain-lain.
  3. Bila anda ekstrim menerima istilah “Sakit adalah akibat dari dosa”, marilah sekarang kita mendapatkan penyembuhan yang datang dari pada-Nya, melalui Liturgi yang baik dan benar.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top