BULINAS

Liturgi Yang Menyembuhkan (II)

Pengantar

Pada tulisan saya yang lalu, saya sudah membicarakan tentang Liturgi Yang Menyembuhkan (I) yakni Sakrament Tobat. Pada topik ini, saya membicarakan tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit dalam rangka mendalami topik Bulan Liturgi Nasional 2011, yakni Liturgi Yang Menyembuhkan (II).

Di mana pun juga kita akan berjumpa dengan kesakitan atau kematian. Ada orang yang sakit dan sudah beberapa waktu sembuh kembali. Ada juga orang yang sakit berat dan tidak sembuh lagi sampai menghadapi maut.

Bila mana kita sendiri sakit, maka kita mencari penyembuhan dengan berbagai cara, sebab kita ingin hidup terus. Siapa yang ingin cepat meninggal? Dalam keadaan sakit berat, dunia sekitar kita pandang secara lain. Beberapa kondisi berikut yang kita hadapi:

  • Kita harus melepaskan tugas sehari-hari sedangkan teman-teman masih bersekolah, bekerja, bermain terus dan lain-lain.
  • Kita dapat merasa kesepian, hanya terikat pada tempat tidur.
  • Kita akan bergantung pada orang lain, yang membawa makanan dan minuman.
  • Kita menantikan kedatangan orang, sebab kita butuh perhatian.

Kalau demikian, kita manaruh pengharapan dari mana? Mana yang terutama, dari sesama atau dari Tuhan?[ref name=”Buku Katekese Liturgi”]Buku Katekese Liturgi 2011, hlm. 53-54[/ref]

Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit:

  1. Pengurapan Orang Sakit dalam Perjanjian Lama sering dimaksudkan sebagai obat yang dapat menyembuhkan. Oleh karenanya, tidak mengherankan kalau para rasul dalam perjanjian baru, meneruskan tradisi itu dengan mengoleskan minyak kepada orang sakit untuk menyembuhkan mereka.
  2. Sakramen Pengurapan Orang Sakit biasa diberikan kepada orang yang berada dalam bahaya maut karena sakit keras, luka berat dan lanjut usia. Sakramen ini bukan diperuntukkan bagi mereka yang ada di ambang kematian saja, tetapi juga kepada orang-orang yang mengalami sakit akibat hal-hal tertentu. Oleh karenanya, setiap umat beriman, mendapatkan kemungkinan menerima sakramen ini beberapa kali dalam hidupnya.
  3. Sakramen ini sama dengan sakramen yang lain yakni bukan suatu jimat yang mengandung kesaktian untuk menangkis bahaya maut. Sakramen ada tanda dari Kristus yang hadir sebagai Penyelamat.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka alangkah baiknya pengertian yang salah terhadap sakramen ini selama ini dihilangkan. Masih banyak umat yang menganggap bahwa dengan menerima sakramen pengurapan orang sakit, ia akan segera meninggal dunia. Tidaklah demikian harus dimengerti. Mari kita mengartikannya sebagai sakramen penyembuhan yang bisa menyelamatkan jiwa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top