Katekese

Makna Puasa Harus Nyata

Umat Katolik di seluruh dunia sebentar lagi akan memasuki Masa Prapaska atau lebih dikenal dengan istilah Masa Puasa. Masa Puasa berlangsung selama 40 hari, yakni mulai dari Hari Rabu Abu sampai dengan Hari Kamis Putih.

Setiap kali Pendalaman Iman dan atau Pendalaman APP, banyak Umat Katolik bertanya tentang model puasa yang bagaimana yang tepat dan sesuai dengan ajaran iman. Kita bisa saja memahami pantang dan puasa secara hukum yang berlaku yang diatur dalam Hukum Gereja (misalnya: Kan. 1245 s.d. Kan. 1253), tetapi, praktisnya bagaimana kita menghidupi puasa itu sendiri?

Setiap orang mewujudnyatakan puasa secara berbeda, terutama dalam cara. Yang kita kenal dalam Gereja Katolik tentang puasa adalah masa di mana kita masuk pada masa kita melakukan “sekali makan kenyang dalam sehari”. Sekali makan kenyang adalah penyederhanaan dari praktek puasa. Dan ini adalah praktek lahiriah yang dapat dilakukan dan juga dapat dilihat oleh orang lain.

Apa maksud dari Sekali Makan Kenyang? Setiap orang membutuhkan energi dalam hidup kesehariannya. Energi itu dapat diperoleh melalui makan, meskipun banyak cara lain, tapi makan adalah yang terutama. Untuk mendapat energi itu, orang harus “makan kenyang”. Kalau 3 kali sehari makan kenyang, selama masa puasa dimaksudkan cukup sekali makan kenyang  dan 2 kali makan dengan ukuran setengah porsi dari “makan kenyang”.

Kalau demikian, semua orang bisa saja menciptakan situasi seperti ini dalam keluarga bukan? Apakah makna mengurangi porsi makanan pada “dua kali makan lainnya?” Selama masa puasa adalah saatnya kita mengambil kesempatan untuk berbagi. Berbagi dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kalau dalam sehari kita dapat membelanjakan Rp. 30.000,- untuk 3 kali makan, artinya dengan melakukan puasa, kita dapat menyisihkan Rp. 10.000,- yang nantinya menjadi hasil dari puasa kita dan diserahkan dalam Amplop Aksi Puasa pada hari Jumat Agung.

Puasa kita akan lebih terasa maknanya bila kita mengumpulkan sedikit, tapi setiap hari dibandingkan kita menyerahkan besar, tapi hanya sekali. Maksudnya, ada kecenderungan untuk menyerahkan sejumlah uang pada Hari Jumat Agung sebagai Hasil Aksi Puasa, tapi itu bukan dari praktek penyisihan setiap hari. Meskipun hal itu tujuan tetap baik, yakni berbagi dengan sesama, tapi untuk diri, seperti tidak ada makna puasa itu secara batiniah. Oleh karena itu, dari uraian di atas, kita harus bisa memaknai puasa: “BERGUNA DAN BERMAKNA UNTUK DIRI SENDIRI DAN JUGA UNTUK ORANG LAIN”.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top