BOX

Maunya Pintar dan Benar (?)

Suatu saat di tahun 1998 dalam perjalanan ke salah satu kampung di pedalaman Kalimantan Tengah, saya bertemu dengan seorang bapak yang mengaku bernama Jagau. Ia seorang petani tulen. Setiap hari ia menoreh karet, kadang berburu babi hutan dan dagingnya dijual untuk membayar uang sekolah anaknya yang sedang kuliah di Universitas Palangka Raya.
Dari ceriteranya, ketahuan bahwa ia pernah sekolah di SGB Kuala Kapuas, tetapi tidak selesai karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Ia akhirnya pulang kampung dan memilih menjadi seorang petani karet.

Semakin banyak orang pintar semakin banyak masalah (?)

Dari sekian banyak ceritera, saat menyinggung tentang  peran guru dan sistem pendidikan sekarang ini, ia spontan mengatakan ”…wah…payah, sekarang ini dunia pendidikan kita makin canggih dan menghasilkan banyak orang pintar, tetapi coba lihat,  semakin banyak orang pintar – semakin banyak masalah yang membuat dunia ini lebih  kacau. Mestinya, kalau ada banyak orang pintar justru dunia kita harus lebih baik dan damai. Tetapi ini semua terbalik seratus persen. Di mana-mana orang saling mengibuli satu sama lain, banyak orang pintar tega memperdaya masyarakat kecil yang bodoh. Sepertinya semakin pintar seseorang semakin ia kehilangan hati nurani – nya.  Mereka memang pintar berpikir tetapi tidak benar dalam bertindak”.

Mendengar pernyataan pak Jagau ini, diam – diam saya mengagumi karena ternyata ia sangat kritis menilai realitas paradoks yang terjadi di zaman kita ini. Pendapat Jagau hampir sama dengan pendapat Jacob Sumardjono dalam artikelnya di Kompas yang ditulis beberapa tahun lalu. Sumardjono mengatakan ”Orang zaman sekarang lebih suka dibilang pintar daripada dibilang benar”.

Sumardjono pasti punya alasan mengatakan demikian. Dalam arti tertentu ia benar. Kecemerlangan dunia pendidikan saat ini, sungguh menghasilkan begitu banyak orang pintar yang diharapkan mampu membawa perubahan dan kemajuan  dalam masyarakat dengan wajah yang manusiawi. Namun dalam kenyataan muncul banyak persoalan yang ironisnya dilakukan oleh orang – orang yang mempunyai sederatan titel, baik di depan maupun di belakang namanya. Orang – orang model inilah yang biasanya lebih suka disebut pintar daripada dibilang benar. Kesadaran akan tata nilai moral, seolah hilang ditelan kejeniusan pikiran mereka (?).

Sekolah atau lingkungan yang salah  

Di batas kenyataan ini, kita ingin bertanya : Siapa yang salah ? Sekolah atau lingkungan ? Kalau sekolah yang salah maka tudingan Ivan Illich benar, bahwa sebenarnya tidak perlu ada sekolah karena sekolah menciptakan banyak orang ”pembuat masalah”. Tetapi kalau dibilang lingkungan yang salah, maka benarlah si Erich Fromm,  bahwa masyarakat moderen adalah masyarakat yang tidak waras, karena sulit dimengerti bagaimana mungkin masyarakat yang penuh dengan berbagai orang macam pintar,  tetapi justru semakin banyak masalah yang nampaknya tidak dapat diatasi dengan kemampuan para orang pintar itu sendiri (?). Masyarakat sebagai lahan ekspresi kemampuan yang diperoleh dari sekolah ternyata dijadikan sebagai tempat ekspresi perilaku yang menyimpang dan menyulitkan hidup orang lain.

Kita lalu ”terhempas” dalam persimpangan kebimbangan sambil ”mengelus” dada dan bertanya dalam hati  ”kalau demikan wajah dunia menjadi suram seperti ini, maka apa yang mesti kita lakukan ?  Toh…..kita sendiri menyaksikan betapa begitu banyak muncul ribuan sekolah berlebel  Nasional Plus dan Internasional dengan konstruksi kurikulum yang sangat mencengangkan tetapi sekaligus membingungkan. Para orang tua menjadi bingung memilih sekolah untuk putera – puterinya.

Yang jelas, semua sekolah pasti punya tawaran ”transferensi nilai” yang khas untuk para muridnya, makanya para orang tua mesti jeli memilih agar anaknya yang ”tamatan” sekolah itu dapat menjadi manusia yang pintar tetapi sekaligus benar. Ini mengandaikan sekolah itu sungguh mempunyai konstruksi kurikulum yang berimbang dalam mentransferensi nilai – nilai eksakta, sosial maupun humaniora. Kecenderungan meniadakan  atau mengurangi nilai – nilai humaniorna akan menyebabkan anak –anak menjadi pintar tetapi bisa menjadi tidak benar dalam perilakunya kelak sebagai seorang sarjana di tengah masyarakat.

Seperti apakah wajah generasi muda kita kelak 

Kalau mau supaya generasi kita kelak menjadi ”Generasi yang pintar dan benar”  maka baik keluarga maupun sekolah harus bekerjasama. Kalau di sekolah, sudah pasti bahwa para guru telah berusaha untuk membuat anak-anak menjadi pintar dengan  metode penyajian ilmu yang canggih, maka diharapkan setiap keluarga perlu membantu menanamkan nilai – nilai humaniora berupa etika, moral, agama, budi pekerti kepada anak-anaknya untuk mengimbangi kurikulum sekolah yang cenderung mengurangi ilmu – ilmu humaniora yang dapat membentuk karakter anak – anak didik.

Memang disadari bahwa keluarga – keluarga moderen, saat ini hampir tidak mempunyai waktu untuk lebih lama bersama anak karena tuntutan karier. Mereka bekerja mulai pagi sampai malam, akibatnya anak- anak lebih banyak ditemani nenek, opa atau para pembantu rumah tangga. Ini kesulitan sekaligus masalah  yang menuntut ke-arifan orang tua untuk menentukan waktu yang tepat agar ada kesempatan bersama anak – anak sambil memberikan bimbingan dan nasehat yang bertujuan untuk membentuk karakter dasar mereka.

Hanya dengan cara ini maka bisa  ditebak, generasi masa depan tentu akan memiliki kecerdasan (pintar) tetapi sekaligus juga beriman dan memiliki karakter serta integritas moral yang baik dan benar. Dan justru generasi seperti inilah yang kita harapkan di dalam dunia moderen yang serba kompleks dan lumayan membingungkan ini.

Para orang tua hendaknya berusaha membangun ke-arifan dalam menentukan sekolah dan mengatur waktu bersama anak – anak agar mereka tetap merasa, bahwa walaupun orang tua jarang ada bersama, namun  detak kehangatan mereka tetap dialami dalam ”kesendirian” yang hanya ditemani seorang opa, oma atau pembantu rumah tangga. **P. Frieds Meko, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top