Frame

Membangun Rasa Keagamaan Dalam Diri Anak (Sensus Religius)

Kita semua tahu bahwa iman mengandung tiga aspek/ranah yakni kognitif (pengetahuan/pemahaman), affektif (penghayatan) dan konatif-psikomotoris (perwujudan/pengamalan). Ketiga aspek iman ini sudah pernah dibahas dalam rubrik Suara Gembala ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita sekalian untuk menggali lebih dalam aspek kedua yakni affektif (penghayatan) dalam kaitan dengan upaya membangun rasa keagamaan (sensus religiosus) dalam diri anak.

Dalam diri seorang anak khususnya usia balita aspek yang memainkan peran paling penting adalah aspek affektif. Hal ini disebabkan karena aspek kognitifnya belum cukup berkembang. Seorang anak belajar mengenal sesuatu lewat perasaannya. Itu sebabnya kita menyaksikan perilaku anak yang selalu mencoba sesuatu dengan menggunakan mulutnya. Semua yang dijumpai, coba dimasukkan ke dalam mulut. Dengan mulutnya seorang anak belajar mengenal segala sesuatu lewat cita rasa dalam mulutnya. Seorang anak mengenal / mengeksplorasi segala sesuatu lewat perasaannya (ranah affektif).

Hal yang sama berlaku dalam iman. Seorang anak mengenal iman agama lewat perasaannya. Anak tidak atau belum memahami semua aktivitas keagaman yang dilakukannya, tetapi apa yang dilakukan anak, membekaskan perasaan tertentu khususnya rasa tenteram dan damai dalam dirinya. Dengan kata lain tindak keagamaan yang dilakukan terhadap anak atau oleh seorang anak, membangun rasa keagamaan (sensus religius) dalam dirinya. Aspek affektif sangat berperan pada usia anak dan karena itu ikut menentukan kepribadian (iman) seorang anak di kemudian hari. Sehingga ada sebuah pepatah yang mengatakan, “apa yang kita taburkan pada usia anak, akan dituai ketika dewasa”. Dalam artian apa yang kita tanamkan pada usia anak akan sangat berpengaruh terhadap kepribadiannya ketika dewasa nanti.

Kita menaburkan iman dalam ranah affektif atau perasaan seorang anak dan apa yang kita tanamkan dalam perasaan, akan tertanam dalam bawah sadarnya dan nanti secara otomatis tanpa disadari akan berpengaruh terhadap kepribadiannya. Karena itu pada usia anak kita tidak memberi pengetahuan tentang iman, tetapi membangun rasa keagamaan lewat pembiasaan aktivitas iman tertentu. Anak memang tidak memahami apa yang dilakukan terhadapnya atau dilakukannya, tetapi apa yang dilakukan pasti menyentuh perasaannya dan akan mengembangkan rasa keagamaan di dalam hati sang anak. Membuat tanda salib pada dahi anak, mengajak anak berdoa di hadapan patung bunda Maria atau Hati Kudus Yesus dan lain-lain aktivitas iman, kalau dibiasakan secara terus-menerus akan menanamkan rasa keagamaan pada diri anak. Rasa keagamaan itu akan menciptakan kedamaian dan ketenteraman dalam diri seorang anak dan tanpa disadari akan terus mendorong sang anak untuk mengulangnya demi terciptanya rasa tenteram dan damai di hatinya.

Sejauh mana dampak rasa kegamaan terhadap iman seseorang dapat kita saksikan dari sharing pengalaman iman orang yang pernah meninggalkan Gereja Katolik. Ada seorang ibu yang meninggalkan Gereja Katolik dan pindah ke agam lain karena mengikuti sang suami. Menurut pengakuannya, dia tidak pernah merasa tenang dan damai karena meninggalkan bunda Maria. Perasaan negatif itulah yang kemudian mendorong ibu itu dan suaminya untuk kembali ke Gereja Katolik. Masih banyak pengalaman orang Katolik yang berpindah agama dan tidak menemukan kebahagiaan, akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam Gereja Katolik. Pengalaman iman seperti itu membuktikan betapa rasa keagamaan punya makna dan peran yang amat penting terhadap iman seseorang. Kiranya hal ini kita maklumi bersama dan mendorong kita untuk mengembangkan rasa keagamaan itu dalam diri anak-anak kita lewat pembiasaan berbagai aktivitas iman untuk anak-anak kita. Apa yang kita taburkan dalam diri anak, akan dituai ketika ia dewasa. Semoga! P. Alex Dato’, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top