Digital

Menjadi Konsumen dan Operator Komunikasi Sosial

Hari Komunikasi Sedunia ke-44, 16 Mei 2010 yang lalu mengetengahkan sebuah tema menarik yakni, “Imam dan Pelayan Pastoral di dunia digital: Media Baru demi pelayanan Sabda”. Dalam perayaan itu, Bapa Suci Benediktus XVI berpendapat: “Komunikasi digital, adalah suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para Imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Menyangkut kita semua, di zaman globalisasi seperti sekarang, kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial”.[1]

Menjadi konsumen dan operator komunikasi sosial pada era multimedia saat ini bukanlah hal yang langka. Hampir semua orang dapat melakukannya tidak terbatas waktu dan tempat. Pertukaran informasi terjadi bukan dalam hitungan bulan, minggu, hari dan jam lagi. Sekarang boleh dikatakan semua terjadi dalam hitungan detik antara banyak orang sebagai komunikator (informan) dan banyak orang sebagai sasaran komunikasi (pengguna informasi).

Permasalahan ditemukan ketika sebuah pertanyaan diajukan. Sejauh mana iman menerangi hidup kita sebagai konsumen dan operator komunikasi sosial? Dampak dari perkembangan pesat piranti media baru, terjadilah pergeseran nilai-nilai budaya dan gelombang ini lebih banyak melanda kaum muda. Kecemasan orang tua menjadi bertambah. Bukan itu saja, selain kaum muda, orang dewasa pun diterpa oleh dampak perkembangan ini. Keretakan sebuah keluarga diawali oleh sebuah komunikasi yang salah. Komunikasi jarak jauh melalui facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya jauh lebih menarik dan mengasikkan dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan anggota keluarga yang duduk berhadapan muka. Keakraban keluarga menjadi berkurang karena tercipta sebuah dunia baru dimana jarak yang jauh menjadi dekat, yang dekat semakin tidak jelas.

Menghadapi situasi seperti ini, Gereja harus mampu menjembatani Media Sosial ini untuk meneranginya dengan terang iman. Paus Beneditktus XVI menegaskan: “Menggunakan teknologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu, dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpang siurnya aneka ragam ‘jalan tol’ yang membentuk ‘ruang maya’, dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap zaman, termasuk di zaman kita ini”[2].

Konvergensi media tengah terjadi pada zaman kita ini. Teknologi multimedia dan internet memungkinkan media cetak dan elektronik (radio dan TV) berfusi menjadi ujud baru. Mendengarkan radio dan menonton TV dapat dilakukan dengan media mini yang satu dan sama seperti selular, gadget dan komputer. Media cetak, kini dapat diakses lewat ‘iPad’. Siaran radio dan TV dapat diakses secara online (audio dan video streaming). Pendek kata, konvergensi media merupaka terobosan luar biasa yang melahirkan model media baru.

Pelayanan Pastoral harus bisa masuk dengan caranya sendiri melalui media-media ini. Imam dan pelayan pastoral lainnya tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan media. Mereka harus punya waktu untuk menyesuaikan keahlian dengan perkembangan era multimedia. Pandangan yang dulu “internet adalah tabu” harus disingkirkan karena istilah ini tidaklah tepat. Media-media ini akan sangat bermanfaat untuk pewartaan Sabda Allah bila digunakan sesuai dengan fungsinya. Kita harus menjadi konsumen dan operator komunikasi yang berdasarkan pada keimanan. Dengan demikian, kita akan masuk ke dalam sebuah tradisi baru komunikasi yang semakin luas, masuk ke dalam komunitas yang semaki besar dalam terang iman yang dalam. **Fidelis Harefa

[1]Errol Jonathans, IMAN DAN PEWARTAAN DI ERA MULTIMEDIA, Seri Filsafat Teologi Widya Sasana No. 19
[2]Ibid
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top