BOX

Pembenci yang Tertawan Dalam Kasih Bunda

“Rosario lambang suci pengalah setan dan nafsu pun musuh yang kejam.”

Syair lagu bapak C. Lilo Mukin ini, bagiku terlalu berlebihan. Hati kecilku selalu bertanya dan menggugat, “Mana mungkin, untaian biji-biji plastik atau kayu itu dapat menjadi senjata yang ajaib yang punya daya pamungkas terhadap dorongan nafsu, godaan setan bahkan musuh yang kejam? Manakah hubungan logisnya? Rasanya sebilah pedang jauh lebih berdaya, ketimbang untaian Rosario”.

Sikap kritisku ini, muncul ketika saya masih frater tingkat II. Saya selalu merasa benci menjelang bulan Mei dan Oktober. Soalnya, pada bulan-bulan ini setiap jam 07.00 malam, para frater datang mengelilingi arca Bunda Maria di halaman tengah seminari tinggi untuk berdoa Rosario bersama.

Saya pribadi, melihat kegiatan ini sebagai kegiatan, “buang waktu”. Lebih tepat saya berdoa brevir yang lebih dialogis, hidup dan memberi inspirasi, daripada berdoa Rosario yang sangat monoton dan membosankan, bahkan membuat mengantuk.

Selama tiga tahun saya menyembunyikan dan merahasiakan sikap benciku ini. Kalau toh, sempat ikut berdoa Rosario itu hanya sebagai ekspresi ketaatan saja pada aturan komunitas, bukan kesadaran dari dalam batinku. Walaupun demikian hati kecilku selalu saja benci dan memberontak. Pemberontakan dalam batinku membuat saya tidak pernah berkeinginan untuk memiliki Rosario, karena bagiku itu tidak penting. Saya lebih mengutamakan membaca Kitab Suci dan berdoa brevir atau bermeditasi.

Tetapi kebencianku ini ternyata tidak bertahan. Kasus lama mulai menjebak kesombonganku. Hal ini berawal dari tragedi kepalaku tertindih buah kelapa, sebulan sebelum berangkat ke Ledalero untuk menjalani masa novisiat selama dua tahun. Tragedi itu membuat hilang kesadaran dan terancam menumpang “kapal hitam” menuju kandungan bumi. Nampaknya harapan hidup lebih lama sepertinya tidak mungkin. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat ke Ledalero.  Baru setelah tahun ke III di Ledalero, sakit kepalaku mulai kambuh tak tertahankan.  Hampir setiap jam 09 pagi dan pukul 15.00 sore, kepalaku selalu sakit disertai deraian airmata.  Kenyataan ini mempengaruhi seluruh proses belajarku. Semuanya berjalan pas – pas, malah ngos-ngosan.

Atas dasar pertimbangan ini, saya akhirnya dikirim ke RS Elisabet Semarang sebagai seorang pasien dengan ”kepala keropos” yang disinyalir ada gumpulan darah di dalamnya dan kalau tidak segera dioperasi bisa menjadi kanker. Di RS. Elisabet, saya ditempatkan dekat paviliun mereka yang kecelakaan lalu lintas dan sejenisnya. Secara psikologis, ditempatkan berdekatan dengan para pasien kecelakaan ini saya menjadi takut. Di anganku meliuk pikiran, kalau sampai kepalaku dioperasi mungkin saya akan cacat, entah tidak dapat bicara dengan baik atau lumpuh atau pincang seumur hidup.

Dalam keadaan haru biru pikiranku, saya hanya pasrah. Dan dalam keadaan pasrah, saya berangan tentang penyembuhan yang sering terjadi di Gua Maria di Lourdes – Perancis.  Saya lalu terdorong untuk membuat doa novena mohon kesembuhan dengan perantaraan Bunda Maria.

Akhirnya suatu sore, saya memberanikan diri meminta bantuan seorang suster perawat untuk mencarikan seutas Rosario dan buku doa novena Salam Maria. Setelah memperoleh Rosario dan buku Novena, malamnya saya mulai berdoa novena dengan intensi tunggal, mohon agar kepala saya tidak dioperasi.

Tiga hari sesudah itu, saya diperiksa lagi secara intensif oleh empat dokter spesialis, dokter saraf/Tulang, psikiater, dokter gigi dan dokter mata. Pemeriksaan terakhir, harus melalui CT Scan  kepala saya. Ternyata, setelah kepala saya discaning hasilnya menakjubkan. Dokter tidak mempunyai alasan untuk mengoperasi kepala saya. Saya ingat persis, ketika dokter mengunjungi saya Ia memegang pundak saya dan berkata,  “Frater…bersyukurlah pada Tuhan, karena frater tidak dioperasi”.

Ungkapan  dokter ini, bagaikan mimpi. Saya tidak percaya, soalnya rujukan untuk masuk RS. Elisabeth seakan memberi kepastian bahwa kepala saya mesti dioperasi. Apalagi, selama itu juga saya selalu mual, muntah dan pusing disertai sakit kepala yang tak tertahankan. Tetapi, apa yang dikatakan dokter, membangkitkan suatu keyakinan akan adanya campur tangan “Dia yang tak kelihatan”.

Saya percaya dengan sunguh-sungguh bahwa kesembuhanku semata-mata karena belas kasihan Ilahi. Saya menganggap kesembuhanku sebagai hadiah berharga dari seorang Bunda yang dahulu saya benci setengah mati. Saya lalu sadar bahwa saya adalah pembenci yang kini tertawan dalam kasih sang Bunda. Ternyata, saya tidak dibiarkan untuk ”hancur-lebur” dalam arus kebencianku yang muncul karena merasa diri sudah hebat belajar filsafat. Saya sungguh malu. Tetapi di batas kesadaran akan rasa malu – ku ini, saya pasrah mengakui kesombonganku. Ternyata saya bukanlah apa-apa.

Karena telah merasa tertawan dalam kasih Bunda Maria, maka mulai saat itu hingga sekarang saya “Jatuh Cinta” padaNya. Doa Rosario tidak lagi kuanggap sebagai doa monoton yang tidak berarti, melainkan sebagai doa yang sangat ampuh dan mempengaruhi hidupku. Dan doa Rosario yang mulanya saya anggap tidak penting, kini saya rasakan sebagai senjata ajaib yang sanggup menghalau godaan, penderitaan dan musuh dalam berbagai bentuk.

Saya lalu ingat bahwa syair lagu bapak C. Lilo Mukin di atas, yang secara rasional sepertinya tidak masuk akal. Tetapi dari segi iman, memiliki kebenaran yang sulit dijelaskan secara akali.  Akhirnya dari peristiwa yang saya alami ini, saya boleh mengatakan bahwa manusia pada batas tertentu, sulit menjelaskan secara rasional peristiwa-peristiwa yang ia alami dalam hidupnya.

Hanya iman yang dapat menjawab kebuntuan itu. Santo Tomas Aquinas pun menyadari hal ini, karena itu ia pernah berkata: “Iman yang menolong budi karena indra tak mencukupi.” Ini berarti, rencana Tuhan pada manusia selalu menakjubkan dan sulit diduga oleh manusia sendiri.  Hanya iman yang menolong manusia untuk memahami dan menerima apa yang sering tidak dapat ditampung oleh otaknya.

Setelah merenungkan, jalan hidupku yang ”tertatih-tatih” dengan mencemaskan rentang usia, entah akan panjang atau pendek lalu merenungkan ziarah studi saya dengan ”prestasi rata-rata” entahkah saya akan layak menjadi imam atau tidak layak, dan merenungkan bila nanti menjadi imam apakah akan menjadi imam yang dibanggakan atau justru akan disebalkan ?

Bertolak dari semua refleksi ini, saya akhirnya merenung panjang dan memutuskan dengan yakin untuk mengambil motto tahbisan, KASIHSETIAMU AJAIB (Mz. 17 : 7). Sebab saya menyadari bahwa cinta Sang BUNDA – lah  yang dapat membawa saya keluar dari segala ”situasi batas” – yang  sempat membuat saya ngos-ngosan menjawabi panggilan untuk menjadi seorang imam (gembala).

Untungnya kasih sang Bunda lebih dahulu menaklukan kebencianku padanya. Kalau tidak,  mungkin saya sudah lama menjadi debu atau pupuk untuk serumpun rumput di dekat pusaraku, atau kalau masih diisinkan hidup, mungkin saya hanya seorang penghuni kampung tanpa daya untuk berpikir lebih panjang tentang apa itu hidup dan misteri-misteri yang tersimpan di dalamnya.  Dan sungguh, ternyata KasihsetiaNya memang terlalu ajaib bagiku hingga sekarang ini.  **

P. Fritz Meko, SVD 
Ketua Komisi Komunikasi Provinsi SVD Jawa
tinggal di Soverdi Surabaya
(Di Simpang Peristiwa 237)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top