Katekese

Pendewasaan Iman Menyongsong 50 Tahun Parokiku

Drs. Wilhelmus Y. Ndoa, M.Pd

Usia 50 tahun, adalah satu fase kehidupan yang sungguh dewasa, mapan dan stabil. Demikian pula dalam kehidupan beriman, usia ini menunjukkan kedewasaan iman yang semakin kuat dan mengakar. Iman yang dewasa adalah iman yang mandiri dan dapat mempertanggungjawabkan baik terhadap Tuhan dan sesamanya seiring dengan berjalannya waktu yang cukup panjang. Lalu bagaimana dengan kehidupan imanku, di Parokiku, di Lingkungan dan termasuk di Keluargaku? Untuk mencapai iman yang dewasa tentu harus melalui pembinaan iman, pengajaran, siraman rohani, dan lain sebagainya, yang kita sebut “berkatekese”.

Berkatekese adalah menyampaikan ajaran Yesus oleh umat bagi calon-calon permandian. Dalam Gereja Purba, berkatekese lebih dimengerti sebagai penyampaian segala macam pengetahuan tentang ajaran gereja yang sifatnya ilmiah dan moralistis, penuh semangat kebaktian dan tertutup. Dengan ini ditegaskan bahwa melalui katekeselah iman akan semakin terarah dan terang.

Apakah paroki kita yang sudah berusia 50 tahun ini masih membutuhkan katekese? Sebagai umat beriman Katolik, kita harus secara terus-menerus mengupayakan agar iman yang sudah diterima didewasakan, terutama dalam hal penghayatannya melalui perbuatan-perbuatan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita melihat tantangan zaman yang serba canggih sekarang ini. Pasti pertanyaan muncul, bagaimana cara dan upaya mendewasakan iman kita saat ini? Kita perlu belajar dari pola hidup Gereja Perdana (Kis 2: 41-47) dengan melihat kecocokannya pada zaman kita sekarang. Hidup sebagai umat yang dewasa harus senantiasa berliturgi, mewartakan Sabda Allah, bersekutu, melayani dan pada akhirnya sanggup dan berani memberi kesaksian. Tahun emas ini seyogyanya menjadi saat yang tepat untuk memberikan kesaksian setelah sekian lama kita berusaha mendalami iman kita.

Usia 50 tahun ini bukanlah saat untuk mempertanyakan siapa yang bertanggungjawab dalam mengembangkan iman. Dengan kata lain bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan. Sebagai umat Katolik yang sudah setengah abad disirami dengan pembinaan rohani, kita harus sudah mampu mandiri, membina iman sendiri dengan cara belajar dan mencari pengetahuan iman yang lebih banyak. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin canggih sangat mendukung dalam hal ini. Kita bisa membaca majalah-majalah rohani, buku-buku rohani dan buku-buku yang mengajarkan hal-hal pokok iman. Kita tidak boleh menunggu penjelasan dari para pastor dan katekis. Sikap ketergantungan justru membuat iman kita lemah dan tak berdaya.

Selamanya kurun waktu 10-20 tahun terakhir, paroki telah banyak memberikan dirinya, dalam pelayanan terutama bidang pewartaan, liturgi dan pelayanan sosial seperti : pendalaman Iman, Pendalaman Liturgi,Pembinaan Sakramern-sakramen seperti Komuni pertama, Krisma, Kursus Perkawinan, Pendidikan Katekumen, Pewartaan Lewat Mimbar, Pengetahuan melalui teks Warta Paroki dan berbagai bentuk pendampingan. Ini patut kita syukuri. Ini menjadi tanda bahwa dengan berbagai cara, diupayakan agar senantiasa kita semakin kuat dalam beriman.

Dalam kurun waktu ini juga kita semakin kaya terutama dalam melihat partisipasi umat. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada umat yang belum terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan. Tetapi dalam kenyataan ada cukup banyak yang terlibat, ada kemandirian dalam finansial, tenaga pastoral cukup memadai,
sarana/prasarana sangat memadai, ada banyak potensi umat yang dapat dikembangkan.

Kendala-kendala Yang Dihadapi Saat Ini 

Beberapa hal berikut adalah merupakan hambatan, tantangan yang sering kita temui dalam upaya pendewasaan iman:

  1. Ada saja umat terlalu sibuk dengan dirinya (bekerja, tugas kantor, usaha) hampir tidak sempat mendalami imannya melalui kegiatan yang diadakan oleh paroki (seperti yang diharapkan).
  2. Pemahaman/Penyadaran tentang pentingnya Pengetahuan iman/agama masih dirasa kurang.
  3. Kurangnya bahan katekese/pendalaman iman untuk umat dari pastor/imam.
  4. Katekese lewat renungan, homili dan kotbah dirasakan kurang, monoton,(skill individu).
  5. Ada santa/santo baru dalam gereja Katolik (HP,TV, internet, facebook) dunia baru yakni dunia maya. Hal-hal yang baru sangat menarik sehingga umat tidak menyadari lagi kesakralan liturgi. Ada saja yang berinternet ria, buka facebook, chatting pada saat mengikuti perayaan Ekaristi dan pendalaman iman.
  6. Kurangnya tersedia pustaka rohani /buku-buku rohani. Tentu juga hal ini sangat berhubungan dengan minat baca yang kurang.
  7. Ada persaingan dakwa, pewartaan, katekisasi, antar agama.

Tantangan-tantangan di atas harus diketahui dan disadari agar kita bisa membenahinya. Kelemahan yang tidak dikoreksi akan menjadi batu sandungan secara terus-menerus hingga akhirnya tidak ada perubahan. Tetapi bila disadari dan ada upaya untuk membenahinya, saya yakin segala sesuatu bisa berjalan dengan baik.

Disamping kendala, hambatan, ada juga hal-hal yang memggembirakan bahwa umat sudah dapat mengungkapkan iman/ekspresi agamanya dengan bebas, tanpa tekanan, melalui perayaan Ekaristi mingguan/harian, Doa-doa pribadi (relasi denganTuhan). Kita patut bersyukur karena dalam dekade ini sudah banyak terbentuk kelompok-kelompok kategorial yang aktif. Hadirnya Kelompok Membaca Kitab Suci, Legio Maria, PDK, KTM, Peguyuban Lansia dan kelompok lainnya adalah bukti bahwa sudah terjadi perkembangan dalam iman. Pelaksanaan rekoleksi, meditasi lewat pendalaman iman/Kitab suci di ingkungan/
komunitas juga menjadi pendukung yang baik.

Harapan dan Cita-cita Setelah 50 Tahun

Ada banyak harapan yang menjadi impian kita bersama. Tentu ini berhubungan erat dengan keadaan zaman yang makin berkembang. Hidup di tengah sosial yang telah dirasuki oleh demam teknologi, Gereja tidak boleh ketinggalan. Gereja harus sanggup melihat hal-hal baru yang lagi ngetrend saat ini. Melalui itu, pewartaan gaya baru dapat dilaksanakan. Contoh: pewartaan melalui media elektronik (TV, Radio), media online (Forum, Website, Jejaring Sosial), media cetak (bulletin, majalah dan sebagainya).

Perlu juga untuk diperhatikan kesinambungan dari pembinaan-pembinaan yang telah dilaksanakan selama ini (dimensi mistagogi). Contohnya Pembinaan Keluarga: selama ini, sudah dimulai dengan memberikan Kursus Perkawinan. Ada baiknya kursus untuk keluarga berlanjut hingga terwujud dalam bentuk pendampingan keluarga, pendampingan Lansia dan sebagainya. Umat harus sadar bahwa hidup mati kegiatan rohani umat sangat bergantung kepada partisipasi seluruh umat. Oleh karena itu, salah satu harapan yang penting adalah keterbukaan dan kesediaan umat untuk lebih terlibat secara aktif. Paroki ini adalah milik kita semua. Mari kita membangun bersama satu hati satu pelayanan menuju paroki yang mandiri, dewasa dan bertangung jawab iman terhadap Tuhan. **Drs. Wilhelmus Y. Ndoa, M.Pd.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top