Edukasi

Pentingnya Keteladanan Dalam Pendidikan

Akhir-akhir ini, dunia pendidikan kita diramaikan oleh ide-ide cemerlang dari pengamat pendidikan, pelaku pendidikan dan para pengelola pendidikan di negeri ini. Pendidikan Karakter menjadi “trend topic” dalam menentukan arah dan pola pendidikan saat ini. Pendekatan-pendekatan pengetahuan pun dipilih berdasarkan kebutuhan. Pembahasan mengenai NILAI PRIORITAS yang harus dijalankan dan diseminarkan di sana-sini. Koridor moral, psikologis, budi pekerti, kepribadian menjadi tempat dan lahan galian para ahli untuk menyukseskan topik yang sedang popular ini.

Setelah dibekali dengan berbagai teori, dasar-dasar pengajaran dan metode yang sudah terpola, tenaga kependidikan di dunia pendidikan menemukan satu masalah vital dalam melaksanakan Pendidikan Karakter ini. Mulai terasa bahwa ada ruang kosong yang tak terisikan, ada sisi gelap yang tak diterangi, ada komponen yang hilang dan susah mencari gantinya. KEHADIRAN FIGUR atau keteladanan menjadi masalah utama.

Kita sanggup berteriak dengan lantang tentang KEJUJURAN, MORAL YANG SEHAT, BUDI PEKERTI, dan hal lainnya yang berhungan dengan perkembangan kepribadian, tetapi susah untuk menyebutkan satu pribadi yang menjadi FIGUR sebagai sarana mempertajam bahan ajaran. Menemukan figur yang real, dekat, hidup yang hadir KINI DAN DI SINI, adalah sebuah kesulitan yang hampir tak punya solusi. Apa yang akan terjadi?

Peserta didik mulai berimajinasi sendiri. Menciptakan angan tanpa model. Peserta didik bingung menentukan idola. Ujung-ujungnya, mulailah mengatakan Persetan dengan Pendidikan Karakter.

Siapa peserta didik itu? Kita, anak-anak kita dan cucu kita adalah peserta didik yang dimaksud. Pola-pola pengajaran baru berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Akan tetapi, pola-pola itu pun menemukan masalah dalam dirinya sendiri karena diantara kekayaan sarana dan prasarana yang menunjang, ada satu sisi yang hilang dan sangat vital yakni FIGUR.

Idola Anak-anak Kita

Saya pernah bertanya kepada seorang anak, yang sedang duduk di bangku SD, Kelas I, tentang cita-citanya kelak kalau sudah besar. Spontanitas anak ini membuat saya terkejut ketika dia menyebutkan salah satu nama artis yang sering tampil di Layar Televisi. Artis yang dia maksud adalah seorang bintang Televisi Indonesia, yang bila tampil selalu didampingi oleh gadis-gadis cantik dan pelakon karakter campuran pria-wanita. Tanpa menyebut nama artis itu dan juga tanpa membahas lebih dalam tentang alasan sang anak tadi memilih idolanya, mari kita melirik sejenak apa yang sedang terjadi.

Dari sekian banyak acara Televisi yang disuguhkan, kita susah menemukan acara yang mengajarkan tentang semangat patriotisme, wawasan nusantara, tokoh-tokoh pembela kebenaran yang real dalam sejarah dan acara-acara yang langsung menyentuh perkembangan pribadi anak. Kita lebih banyak disuguhkan dengan masalah-masalah yang didramatisir berlebihan, masalah putus cinta dan sambung lagi, masalah cerai kawin dan kawin lagi, masalah tipu muslihat yang susah masuk logika. Bintang publik kita mulai didominasi oleh pelakon pria-wanita. Program suguhan bagi pemirsa lebih bertujuan ke hal-hal  euphoria semata tanpa memperhitungkan nilai pendidikan apa yang disampaikan. Secara tegas bahwa televisi kita tidak memiliki ideologi sehingga membangun karakter bangsa yang hancur lebur. Sanggup melarang anak untuk tidak menonton?

Dalam gambaran di atas, mampukah sang anak menemukan idolanya? Di saat kita susah menyebutkan nama seorang tokoh yang dikenal oleh anak, acara televisi kita sudah berlomba masuk lebih duluan. Di saat kita mengalami ambiguitas menyebutkan tokoh sejarah bangsa ini, tokoh-tokoh baru bermunculan dengan berbagai penyimpangan. Di saat kita sedang berteriak tentang budi pekerti, kejujuran, moral dan sebagainya, pelaku-pelaku pelanggaran pun tampil mengaburkan segala makna pendidikan kita. **Fidelis Harefa

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top