Ekaristi

Pentingnya Partisipasi Seluruh Umat Menyanyikan Lagu Pembukaan

Media Kairos
Kelompok Paduan Suara Misa 50 Tahun Paroki St. Maria Palangka Raya

Lagu dalam Perayaan Ekaristi merupakan bagian dari musik liturgi. Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat/liturgi, mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Dari pengertian di atas, diandaikan bahwa kita sudah memahami dengan benar apa pengertian liturgi. (Silahkan baca artikel: Pengetahuan Dasar Liturgi dan Pengertian Liturgi Secara Umum). Karena liturgi merupakan karya bersama, dibaktikan untuk kepentingan bersama dalam memuliakan Tuhan, maka lagu pembukaan sangat perlu dinyanyikan oleh seluruh umat.
Peranan petugas liturgi, secara khusus pemilih dan pemimpin lagu sangat menentukan. Seorang pemilih dan pemimpin lagu harus memahami secara benar tentang makna lagu pembukaan dalam perayaan yang dibaktikan bersama dan dilakukan secara bersama. Yang lebih sering terjadi adalah bahwa seluruh lagu dalam perayaan ekaristi, dari pembukaan hingga penutup hanya dinyanyikan oleh kelompok paduan suara yang duduk di salah satu tempat dalam gereja.
Kehadiran kelompok paduan suara tidak menjadi masalah karena mereka juga disebut sebagai pelayan liturgi. Kesalahan muncul apabila kelompok paduan suara mengabaikan keterlibatan seluruh umat dalam lagu liturgi. Kesuksesan sebuah perayaan liturgi bukan terletak pada kesuksesan kelompok paduan suara dalam melayani lagu liturgi tetapi terletak pada bagaimana seluruh umat yang hadir terlibat secara aktif dalam karya yang dibaktikan bersama itu.

Salah satu solusi yang tepat dalam memilih lagu pembukaan yang liturgis adalah dengan menggunakan lagu-lagu yang telah disediakan dalam Buku Nyanyian Liturgi seperti Madah Bakti, Kidung Agung, Puji Syukur dan buku nyanyian liturgi lainnya yang telah diakui oleh Gereja. Perlu diusahakan pula agar umat mengetahui lagu yang dipilih. Bila belum diketahui, perlu diselenggarakan pelatihan bersama untuk mengetahui lagu-lagu liturgi.
Ingat, makna liturgi lebih banyak hilang karena petugas liturgi ingin hasil yang cepat, tidak melalui prosedur yang perlu, misalnya sosialisasi lagu-lagu liturgi. Karena minimnya sosialisasi lagu liturgi, akhirnya kita mewariskan kesalahan yang sama sehingga liturgi yang kita rayakan semakin lama semakin hilang makna kebersamaannya.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top