BKSN

Pertemuan II: Bulan Kitab Suci Nasional 2011

Pada pertemuan II ini, kita akan mendalami bagaimana Allah itu adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Dalam perumpamaan ANAK YANG HILANG (LUK. 15: 11 – 32), seorang Ayah menggambarkan Allah Bapa yang berlimpah pengampunan, Anak sulung menjadi lambang bagi begitu banyak orang yang merasa diri sudah bersih dan merasa berhak mengadili dan menghukum orang lain yang dia anggap berdosa. Anak bungsu dihadirkan sebagai teladan pertobatan untuk mendapatkan belas kasih Allah.

Kita bisa mencatat beberapa tahap penting dalam perumpamaan ini:

  1. Anak bungsu meminta warisan;
  2. Pergi dan memboroskan warisan;
  3. Proses pertobatan dan pertobatan itu sendiri;
  4. Kembali ke rumah Bapa;
  5. Bapa yang baik;
  6. Sikap anak sulung.

Latar belakang dari perumpamaan di atas adalah Keangkuhan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang dengan kesombongan spiritua, mereka mengkritik sikap Yesus yang menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. SikapYesus merupakan hal yang bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Bagi mereka, menerima dan makan bersama dengan orang berdosa adalah najis. Karena dengan berbagai cara mereka mengkritik Yesus, akhirnya Yesus mengajar dalam bentuk perumpamaan di atas.

Untuk menanggapi kritikan dari kaum Farisi dan ahli Taurat, Yesus mengajar dengan beberapa perumpamaan. Anak Yang Hilang adalah perumpamaan ketiga setelah perumpamaan: DOMBA YANG HILANG dan DIRHAM YANG HILANG. Perbedaan antara perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah bahwa perumpamaan ANAK YANG HILANG tidak mengatakan bahwa Bapa mencari anaknya yang hilang, tetapi menunggu kedatangannya kembali.

Tindakan meminta warisan saat orang tua masih hidup adalah suatu tindakan durhaka dalam tradisi Yahudi. Inilah letak keberdosaan anak bungsu. Terlebih lagi, setelah mendapat warisan, dia pergi dari rumah, menghabiskan warisan itu dengan berfoya-foya, judi, minum-minum dengan para pelacur dan lain sebagainya.

Setelah warisan yang dia miliki habis, penderitaan mulai tiba. Kelaparan dan haus menjadi teman hariannya. Dalam keadaan itu, anak bungsu sadar bahwa di rumah Bapa berlimpah kebaikan dan makanan. Dan akhirnya memutuskan untuk kembali walaupun tidak akan disebut sebagai anak lagi. Dia siap menjadi hamba atau budak di rumah Bapa yang berlimpah kebaikan itu.

Bapa yang baik hati, malah bersikap di luar dugaan anak bungsu. Bapa mengadakan pesta besar menyambut kedatangan anaknya kembali. Adalah sebuah suka cita bagi Bapa ketika anak yang hilang kembali dengan sendirinya berdasarkan pada kesadarannya. Beda dengan anak sulung, yang merasa diri sudah benar, tidak berdosa, marah melihat sikap Bapa yang baik itu dan jengkel kepada adiknya yang tidak tau diri. Anak sulung menunjukkan dua sikap dasar yakni benci pada Sikap Baik Sang Bapa karena kecemburuan, dan juga pada Sikap Adiknya Yang Tidak Tahu Diri.

Apa yang menjadi kesimpulan pada pertemuan kedua ini? Yesus sendiri tidak memberikan kesimpulan atas perumpamaan ini. Yesus menyerahkan kepada pendengarnya untuk menarik kesimpulan sendiri. Dan kepada kita pun pada zaman sekarang, kesempatan itu diberikan oleh Yesus. Oleh karena itu, dalam pertemuan kedua, telah disediakan beberapa pertanyaan penununtun agar kita yang mendengarkan Tuhan Bercerita sanggup menempatkan diri dalam setiap alur cerita Tuhan.

  1. Andaikan aku adalah anak bungsu yang hilang seperti dalam perumpamaan tadi, bagaimana sikap dan tindakanku?
  2. Andaikan aku adalah anak yang sulung seperti dalam perumpamaan tadi, hal apa saja yang perlu aku perbaiki?
  3. Berani dan mampukah saya bertindak seperti sang ayah dalam perumpamaan tadi?
  4. Sebagai umat Katolik, apa saja yang harus saya perbaiki dalam hidupku setelah mendengar perumpamaan tadi?

Semoga kita semua sanggup menarik kesimpulan yang bermanfaat dalam pertumbuhan hidup iman kita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top