BKSN

Pertemuan III: Lalang di Ladang Gandum – BKSN 2011

Kehilangan rasa aman dalam menjalani kehidupan adalah hal yang sering kita alami. Peristiwa-peristiwa seperti korupsi, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan berbagai kejahatan lainnya adalah hal-hal yang sering membuat kita merasa kehilangan rasa aman.

Dalam situasi ini, kita acap kali mempertanyakan kehadiran Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan putus asa keluar dari perbendaharaan hati kita seperti: Mengapa Tuhan membiarkan orang-orang jahat? Mengapa orang-orang itu tidak dimusnahkan saja?

Pertemuan Ketiga Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional 2011 mengajak kita untuk melihat bagaimana sikap Allah terhadap kenyataan hidup yang adalah adanya kebaikan dan adanya kejahatan.

Perumpamaan Lalang di Ladang Gandum (Mat. 13:24-30, 36-43) lebih cocok disebut sebagai alegori. Masing-masing unsur dari alegori menunjuk pada orang, barang atau realitas tertentu.

  • Orang yang menabur benih = Anak Manusia
  • Ladang = dunia
  • Benih = anak-anak Kerajaan
  • Lalang = anak-anak si jahat
  • Musuh = Iblis
  • Waktu menuai = akhir zaman
  • Para Penuai = Malaikat

Sang Penabur, menaburkan benih pada siang hari dan si jahat menabur Lalang pada malam hari. Lalang adalah sejenis tanaman beracun yang merusak tanaman gandum. Antara gandum dan lalang sulit dipisahkan pada waktu masih kecil atau ketika bibit mulai bertunas. Inilah yang menjadi alasan kuat bagi Sang Penabur untuk membiarkannya tumbuh bersama. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kesalahan dalam upaya menyingkirkannya. Menghindari agar gandum tidak ikut tercabut bersama lalang.

Pada saat panen, barulah pemisahan itu terjadi. Lalang dipisahkan dari gandum. Gandum dikumpulkan untuk mengisi lumbung, sedangkan lalang dikumpulkan untuk dibakar.

Persoalan yang digambarkan dalam alegori ini secara tepat memotret persoalan di zaman kita. Orang baik dan orang jahat hidup bersama. Keduanya gampang dibedakan tetapi sulit dipisahkan. Mengapa sulit dipisahkan? Bila orang-orang jahat dimusnahkan, misalnya melalui perang senjata, mestinya ada orang-orang baik yang ikut jadi korban.

Jika demikian, apakah yang perlu dilakukan? Bukankah sepintas perumpamaan ini membawa kita ke cakrawala berpikir pesimis atas kejahatan? Sikap Sang Pemilik Ladang dalam perumpamaan ini mengemukakan pemecahan masalah. “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Saat menuai, akan ada pengadilan”. Kejahatan akan dihukum dan kebaikan akan diberi tempat di kediaman Allah.

Pengadilan terakhir tidak bertujuan menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan umat beriman agar waspada terhadap pengaruh kejahatan yang ada di sekitar kita. Keyakinan kita adalah bahwa kejahatan tetap diadili di hadapan Allah. Tapi soal kapan waktu itu tiba, tidak ada yang tahu. Hanya Bapa yang tahu. Inilah misteri iman yang harus kita jawab dengan cara terus-menerus berbuat baik agar kita layak hidup bersama Allah kelak.

Secara berbeda dapat dijelaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah peristiwa keselamatan yang otomatis terjadi tanpa keterlibatan pihak manusia. Setiap manusia diundang untuk terlibat pada perjuangan menciptakan keselamatan dengan bertekun berbuat baik. Juga, Kerajaan Allah bukanlah peristiwa yang baru akan terjadi di masa datang, tetapi sudah mulai terjadi dan hadir dalam dunia ini di mana semua orang beriman hidup. Oleh karena itu, solusi lain adalah bahwa “pertobatan” merupakan kesempatan bagi orang jahat untuk memperbaiki diri. Dalam hal pertobatan, orang-orang baik pun dituntut keterlibatannya untuk mengajak mereke yang berdosa untuk bertobat. Pertobatan tidak membersihkan yang hitam menjadi putih secara langsung, tetapi membuat yang hitam berkurang dan pudar. Dengan pertobatan, kejahatan dapat berkurang walau tidak hilang seratus persen.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top