BKSN

Pertemuan IV: Pengampunan – BKSN 2011

Pertemuan Keempat ini memberikan kepada kita gambaran bagaimana seharusnya mengampuni. Allah adalah Maha Pengampun. Oleh karena Dia telah mengampuni kita terlebih dahulu, maka kita pun harus mengampuni sesama kita.

Perumpamaan yang digunakan sebagai dasar permenungan pada pertemuan keempat ini adalah perumpamaan yang hanya terdapat pada Injil Matius (Mat. 18: 21-35) dan diberi konteks pertanyaan Petrus tentang “berapa kali orang harus mengampuni sesama yang bersalah kepadanya”.
Konteks pertanyaan Petrus ini adalah situasi yang telah hidup dalam tradisi Yahudi saat itu. Para rabbi Yahudi pada waktu itu mengajarkan bahwa batas wajib untuk mengampuni hanya tiga kali. Jika lebih dari tiga kali disebut sebagai keutamaan. Petrus dalam Injil sudah melebihkan jumlah kemungkinan untuk mengampuni, yaitu sampai tujuh kali. Namun Yesus menanggapinya dengan nasihat yang mengejutkan, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Artinya, pengampunan kita tidak terbatas.

Saudara-saudara terkasih,

Kemanusiaan kita memiliki kecenderungan balas dendam. Ada kecenderungan kita menginginkan orang yang berbuat salah kepada kita cepat-cepat mendapat hukuman. Bila hukuman dari Allah terlambat, kita cenderung ingin menghakimi sendiri. Bahkan ada kecenderungan kita senang bila orang yang berbuat salah itu mati saja dan lenyap dari muka bumi.

Tidaklah demikian bila kita mencari Kerajaan Allah. Allah menginginkan kita memiliki daya pengampunan sejati. Kita diharapkan memiliki kemurahan untuk mengampuni. Kita harus mengetahui bahwa Allah telah memperhitungkan semua ganjaran baik bagi orang baik maupun orang jahat. Jadi, kita sebagai ciptaan tidak boleh mengambil hak Allah untuk menghakimi sesama, karena kita adalah sama-sama ciptaan.

Semoga pendalaman kali ini semakin meneguhkan iman kita akan Allah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top