Slides

Pesan Paus Fransiskus Menjelang Akhir Ramadhan

Pada tanggal 10 Juli 2013 yang lalu, Bapa Suci, Paus Fransiskus I menyampaikan pesan kepada Umat Muslim dalam rangka berakhirnya bulan Ramadhan. Pesan ini merupakan bukti bahwa hidup kita di dunia ini adalah “Hidup dalam Persaudaraan, persaudaraan universal” tanpa membedakan suku, agama, ras dan budaya. Pesan ini juga menegaskan kembali alasan mendasar Bapa Suci memilih nama seorang santo, yakni Fransiskus dari Assisi yang merupakan sosok pencinta Allah dan Alam semesta dalam Persaudaraan Sejati.

Sebagai konsekuensi sebuah Persaudaraan, Bapa Suci menekankan sebuah sikap “Saling menghargai satu sama lain”. Dan cara untuk menanamkan sikap ini adalah melalui pendidikan. Mengenai hal ini, Bapa Suci mengatakan: “Mengenai pendidikan orang muda Muslim maupun Kristiani, kita harus membawa orang-orang muda kita untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat tentang agama-agama lain dan para pengikut mereka, dan untuk menghindari sikap mengejek atau merendahkan keyakinan dan praktik keagamaan orang lain”.

Dalam pesan itu, Bapa Suci juga menyampaikan bahwa dalam pandangan sosial dan kekeluargaan – dua dimensi yang penting bagi umat Muslim dan yang mana, sesuai penekanan Bapa Suci, dapat dilihat “paralel” dengan “iman dan praktik agama Kristen”, yaitu: “kita dipanggil untuk menghormati dalam pribadi setiap orang terutam hidupnya, integritas fisiknya, martabatnya dan hak-haknya, reputasinya, kepemilikannya, identitas etnis dan budayanya, ide-idenya dan pilihan-pilihan politiknya. Dengan kata lain, kata Paus, “kita dipanggil untuk berpikir, berbicara dan menulis tentang orang lain dengan penuh hormat, bukan saja di hadapannya, tetapi selamanya dan di mana pun, menghindari kritik-kritik yang tidak adil atau fitnah”. Dan di sini, Paus menegaskan, ada peranan dan tanggung-jawab yang besar dari para keluarga, sekolah-sekolah, pendidikan agama dan media.

Sikap saling menghargai hanya dapat terwujud bila hal itu terjadi secara mutual”, artinya ini tidak hanya satu arah, tetapi harus dilakukan bersama oleh kedua belah pihak. Tentu saja hal ini tidak berlaku hanya untuk Kristen-Muslim tapi juga untuk saudara-saudara kita yang lain. Hanya dengan sikap saling menghargai parsaudaraan yang tulus dan abadi dapat tumbuh.

Dari pesan Bapa Suci di atas, kita semua dapat belajar bagaimana harus hidup berdampingan dengan saudara-saudara yang berbeda dengan kita dari segi latar belakang, pendidikan, keyakinan dan budaya. Pendidikan kita harus lebih terarah kepada ajaran-ajaran yang dapat membangun persahabatan, bukan membangung jurang perbedaan satu sama lain. Barangkali, pesan ini dapat menjadi perhatian khusus bagi kita yang hidup di Indonesia. Bila membaca dan merenungkan lebih dalam pesan Bapa Suci ini, kita dapat melihat solusi yang baik dalam menyelesaikan masalah-masalah “intoleransi” yang akhir-akhir ini terjadi dan ditandai dengan beberapa peristiwa yang sangat menyedihkan dan memalukan. Bila ingin membaca pesan ini secara lengkap, anda dapat melihat di sini. **Kairos

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top