Masa Adven

PIMA (I): Hidup Bersama Sebagai Keluarga Beriman Kepada Allah

Pendalaman Iman Masa ADVEN 2015 untuk pertemuan pertama mengetengahkan tema “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Beriman Kepada Allah”. Pada pertemuan pendalaman Iman Bulan Kitab Suci Nasional 2013 yang lalu, khususnya pada pertemuan pertama, Kairos telah menulis artikel juga dengan judul “BKSN 2013 (I): Keluarga yang Beriman“. Perbedaan dari tema BKSN dengan tema PIMA (Pendalaman Iman Masa Advent) adalah terletak pada teks kitab suci yang dijadikan bahan permenungan. Namun, keduanya memilih tokoh yang sama yakni Abraham sebagai bapak segala orang beriman.

Oleh karena itu, selain mengulangi dan mengajak pembaca untuk melihat kembali tulisan pada BKSN 2013 seperti tersebut di atas, Kairos menambahkan beberapa point yang kiranya menjadi inti permenungan kita bersama dalam pertemuan pertama PIMA 2015 ini.

Pertemuan pertama akan menggunakan Kitab Kejadian 15: 1-21 sebagai bahan pendalaman. Dalam Kejadian 15:4 berbunyi: Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”
Sesungguhnya, Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abraham adalah anak kandung Abraham sendiri, dan bukan hambanya.
Kalau Allah sendiri menginginkan bahwa yang menjadi pewaris Abraham adalah anak kandungnya, bagaimana dengan Kerajaan Allah? Siapa yang dikehendaki Allah menjadi pewaris kerajaan-Nya.
Sebagai umat beriman, kita patut bersyukur bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan akan menjadi pewaris kerajaan-Nya.

Inilah yang menjadi inti permenungan kita selama masa Advent ini. Kita telah menjadi keluarga Allah. Kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya. Anak-anak Allah harus berbuat dan hidup seturut kehendak Allah. Setia menjadi anak Allah, kita akan mencapai kehidupan sejati. Kehidupan sejati tidak bisa dicapai hanya dengan mengejar kemajuan material saja, tetapi juga harus diimbangi dengan kemajuan rohani.

Karenanya, masa Adven ini adalah masa khusus bagi kita untuk memupuk kembali kehidupan rohani kita sehingga kita layak disebut sebagai Anak Kandung Allah, dan bukan lagi sebagai hamba. Dengan demikian, kita akan layak ikut bersama-sama dalam perayaan iman, menyambut kedatangan Juruselamat kita, baik pada hari Natal nanti, maupun pada akhir zaman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top