Gereja dan Politik

Politik: Realitas Hidup Kita Sehari-hari

P. Silvanus Subandi, Pr
Vikjen Keuskupan Palangka Raya

Awal bulan November yang lalu, Redaksi Kairos melayangkan sebuah e-mail kepada saya yang berisi “Ajakan untuk berbagi tentang pandangan Gereja terhadap politik”. Saya pikir ini tema yang sangat menarik. Oleh karena itu, saya menyampaikan sedikit pendapat saya tentang tema ini.

Hidup Kita Tidak Lepas dari Politik

Dunia politik adalah realitas dunia yang kita hidupi dan kita hadapi sehari hari. Kita tidak bisa menghindarkan diri dalam dan dari pemikiran-pemikiran politik. Setiap hal yang kita lakukan dengan tujuan tertentu di tengah masyarakat dan melibatkan serta bersama masyarakat, dengan mengatur strategi tertentu supaya program kita di tengah masyarakat dapat berhasil baik, itu sudah merupakan tindakan politik. Kita menyadarkan masyarakat supaya tidak menjual tanah kepada perusahaan yang didukung pemerintah itu juga sudah merupakan tindakan politik. Jadi kita/Gereja tidak bisa keluar dan menjauhkan diri dari politik.

Bagaimana sikap Gereja terhadap realitas di atas? Gereja harus masuk dalam dunia politik untuk memberi warna kristiani dalam dunia politik. Artinya kehadiran kita orang beriman kristiani dalam dunia politik dapat menggarami dunia politik supaya berwajah manusiawi. Para Bapak Konsili Vatikan II dalam dokumen Gaudium et Spes menekankan peran orang kristiani supaya terlibat dalam politik. Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Christifideles Laici (tentang kerasulan awam) menekankan peran penting kaum awam dalam dunia politik. Ya, sekali lagi, tujuannya harus tetap diingat yakni untuk menggarami dan mewartakan kabar keselamatan dalam dunia yang sudah serba sekular ini.

Larangan Politik Praktis

KAIROS dalam Editorialnya sudah menulis tentang hal ini. Di sini, saya menegaskannya kembali. Yang dimaksud dengan politik praktis adalah orang yang terjun secara langsung dalam dunia politik dengan menjadi anggota partai tertentu dan menjadi anggota dewan. Ini adalah kompetensi awam. Kami para imam tidak boleh lagi terlibat karena berdampak pada perpecahan umat yang sudah terpolarisasi dalam partai-parta politik. Tidak terlibat, bukan berarti bahwa imam dan biarawan-biarawati lalu meninggalkan dunia politik. Itu juga tidak benar. Dalam pengertian ini, para pemimpin agama memainkan peran politiknya dalam apa yang disebut dengan politik kenabian, dengan menyerukan seruan moral dan mengkritisi situasi dunia dalam terang iman.

Dukungan Gereja

Gereja memberi dukungan kepada umat untuk terlibat dalam dunia politik karena itu adalah medan pewartaan dan kesaksian iman. Soal membela kebenaran, memang gereja harus menunjukkan sikap yang tegas dan konsisten, tidak boleh bersikap abu-abu. Kalau yang dimaksud dengan dukungan Gereja hanya pada partai politik tertentu, maka sekali lagi itu tidak bisa dibenarkan karena itu berarti pimpinan gereja bersikap pilih kasih. Pimpinan Gereja harus netral supaya semua bisa terlayani.

Saya, sebagai seorang Imam, berpesan kepada kaum awam agar tetap bersemangat dan terlibat dalam dunia politik. P. Frans Magnis Suseno, seorang Guru Besar Filsafat Politik pernah mengatakan bahwa umat Katolik tidak boleh abstain dalam dunia politik. Pesan ini, lebih-lebih ditujukan kepada kaum awam. Tetapi, perlu tetap diingat bahwa tujuannya adalah menggarami dunia politik dengan memberi warna kristiani. **Rm. Silvanus Subandi, Pr 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top