Katekese

Rosario: Kenal tapi Tidak Mengerti

Beberapa hari yang lalu, KAIROS mengajak untuk berbagi pengalaman seputar pengalaman berdoa rosario. Dengan bermodal semangat ingin berbagi, saya melayangkan jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh KAIROS.

Jujur saya sendiri mengenal yang namanya Doa Rosario itu saat baru masuk Sekolah Menegah Atas (SMA).  Dulu di kampung tempat orang tua saya bekerja, tidak ada satupun tenaga pengajar bahkan umat yang beragama Katolik baik ketika saya belajar di tingkat SD hingga SMP. Umat Katolik saat itu yang saya kenal hanyalah orang tua saya. Situasi mengkondisikan saya untuk belajar pendidikan agama Islam saat duduk di bangku SD (kelas 1-2). Sesudah itu, beralih lagi ke pendidikan agama Kristen Protestan. Hingga akhirnya saya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA di kota kabupaten barulah ada tenaga pengajar pelajaran Agama Katolik, dari situ saya belajar dan bahkan ke Gereja setiap minggunya, terkadang saya ikut teman berdoa di lingkungan.

Semangat untuk ikut berdoa sudah mulai tumbuh. Namun, semangat itu sesungguhnya adalah karena ingin rame-rame bersama teman-teman. Bulan Maria dan Bulan Rosario menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama teman-teman, dan bersama umat lainnya di Lingkungan. Saat itu, saya mulai mengenal DOA ROSARIO, tapi tidak mengerti sejatinya DOA ROSARIO ITU.

Saya pernah berpendapat bahwa DOA ROSARIO ini menyita waktu saja. Terutama setelah saya masuk dalam kesibukan khusus, yang waktu itu terbebani tugas belajar dan lain sebagainya. Perubahan ini membuat saya hadir bagai kunang-kunang malam dalam doa rosario. Rasa bosan mulai tumbuh. Menganggapnya sebagai sebuah rutinitas terlebih pada bulan-bulan yang dikhususkan untuk doa rosario. Saya sadari, beberapa pengalaman saya ini dilatar-belakangi oleh kekurangan saya dalam memahami doa rosario. Inilah yang saya sebut dengan istilah “Kenal tapi tak mengerti”. 

Ketika giliran doa, dilaksanakan bertepatan di tempat tinggal saya, dari situlah pemahaman saya tentang sebuah doa mulai berubah. Setelah doa rosario, ada saja yang bersharing dengan menyebut-nyebut “doaku sudah dijawab”, “doaku terkabulkan” dan banyak lagi istilah-istilah baru yang baru saya dengar dalam doa rosario saat itu. Sharing pengalaman ini membuat saya penasaran dan akhirnya mencoba untuk berdoa lebih serius dan memahami doa lebih mendalam.

Sejak saat itu, pandangan saya terhadap doa rosario berubah. Dulunya saya anggap tidak ada gunanya. Setelah diperkuat dengan sharing pengalaman dan juga pengalaman saya sendiri, akhirnya saya pun berani mengatakan bahwa berdoa rosario luar biasa manfaatnya. Bahkan sejak saat itu, saya juga mulai mengenal Novena Salam Maria.

Jatuh-bangun dalam berdoa, saya pikir hampir semua orang mengalaminya. Terutama bila hal itu dipandang dari segi permasalahan yang sedang dihadapi. Saya juga merasakan hal yang sama. Sebagai orang muda, kadang-kadang logika mengalahkan segalanya. Banyak alasan untuk tidak mau berdoa. Yah, kadang pemikiran muncul: saat ingin ditolong, yah, berdoa; setelah ditolong, eh…, lupa berdoa. Inilah warna-warni pengalaman saya seputar doa rosario. Ketika jatuh, saya semangat berdoa. Tapi ketika keadaan stabil, santai saja.

Ternyata, orang lain dapat menjadi penyemangat kita dalam doa. Setelah bergabung dalam Komuntias Orang Muda Katolik, saya merasa bahwa saya disemangati oleh teman-teman. Seluruh pandangan saya tentang doa, yang sebelumnya dapat dirasionalisasi, kini berubah. Belum sampai pada puncak kesempurnaannya, namun boleh saya katakan, saya mengalami perubahan itu. Semangat berdoa mulai tumbuh dalam kebersamaan. Selama bulan rosario ini, OMK pernah melaksanakan doa rosario yang dihadiri oleh 3 orang saja. Ketidakhadiran teman-teman tidak menjadi penghalang untuk tidak melaksanakan doa rosario. Dan inilah yang merupakan perkembangan baru yang saya alami. Dulu, kalau tidak rame, tidak berdoa rosario. Sekarang, rame tidak rame, doa rosario tetap jalan.

Sharing ini saya layangkan bertepatan dipengujung bulan rosario ini. Kami, OMK, masih tetap membutuhkan pencerahan, terutama dalam hal-hal yang berhubungan dengan doa. Oleh karena itu, sharing kami ini menuntut pencerahan iman dari orang tua kami, para tokoh umat, agar kami tetap berada di jalur yang benar. Bagi rekan-rekan kaum muda, jangan segan dan malu berbagi pengalaman. Dengan kita berbagi, kita pasti menerima. **Nickjer Silvanus Pasaribu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top