Frame

Spiritualitas Menjadi Pelayan Liturgi

Arti Kata Spiritual

Spiritualitas berasal dari bahasa Latin, dari akar kata Spiritus yang berarti Roh Kudus. Kata sifatnya spiritual yang berhubungan atau menunjuk kepada ‘yang rohani’ atau kepada Roh Kudus. Spiritual berarti juga penasehat dan/atau pembimbing rohani atau Bapa rohani. Spiritualitas pada umumnya diartikan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allahnya dan aneka perwujudannya dalam sikap dan perbuatan. Hubungan pribadi itu dibangun atas dasar rangkaian pengalaman iman seseorang dengan Allah dalam bimbingan atau dorongan Roh Kudus. Sehingga spiritualitas dapat dirumuskan juga sebagai ‘hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dan secara metodis mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih atau sebagai usaha mengembangkan segala segi kehidupan ke arah pola hidup yang bertumpu pada iman akan Yesus Kristus atau sebagai pengalaman iman Kristiani dalam situasi konkrit masing-masing orang.

Dokumen: Rm. Alex Dato’L, SVD

Dalam relasi pribadi dengan Allah seseorang mengalami kasih Allah yang begitu besar dan karena itu ia terpanggil untuk membagikan kasih Allah itu kepada orang lain. Allah lebih dahulu memberikan kasih-Nya dan kemudian memanggil orang iut untuk membagikannya kepada orang lain. Karena orang tidak akan mungkin memberikan apa yang dia tidak punya. Kata sebuah pepatah Latin, “Nemo dat quod non habet”. Ibarat upah, sebelum bekerja Allah sudah memberikan upah kepada orang yang ditawar untuk  bekerja di kebun anggur-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan dunia bisnis manusia di mana orang harus bekerja terlebih dahulu baru diberikan upah.

Kasih Tuhan amat sangat berbeda  dan tak dapat dibandingkan dengan segala yang lain. Segala yang lain mungkin pernah habis, kalau dibagi-bagikan atau diberikan kepada orang lain. Kasih Allah tidak. Semakin dibagi, semakin orang diberi sampai meluap-luap. Sehingga orang tidak bisa berhenti untuk membagikannya. Bahkan orang akan semakin bersemangat untuk membagikannya.

Relasi pribadi dengan Allah seperti itu akan menjiwai dan memberikan roh atau semangat kepada segala kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, khususnya yang yang bersifat rohani. Orang akan melakukan kegiatan apa saja dengan penuh gairah, sukacita dan terlebih dengan penuh kasih. Ibu Teresa pernah berkata, “Pada hari akhirat Tuhan tidak akan bertanya, berapa banyak kebaikan yang anda lakukan, tetapi berapa banyak kasihmu dalam apa yang anda lakukan.” Kasih membuat orang melakukan sesuatu dengan penuh sukacita.

Dipanggil Untuk Melayani

Pada perjamuan malam terakhir Yesus melakukan suatu tindakan yang sangat dramatis yakni membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan seperti itu biasanya dilakukan oleh para pelayan terhadap para tamu undangan dalam sebuah pesta perjamuan. Dengan melakukan tindakan seorang pelayan Yesus ingin memberikan pelayanan kepada para murid-Nya. Lewat tindakan seperti itu Yesus mau mengajarkan para murid-Nya untuk saling melayani. Tindakan nyata memang lebih meyakinkan daripada kata-kata (Verba movent exempla trahunt).

Di akhir pelayanan-Nya Yesus bersabda: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:14-15). Yesus mewajibkan para murid-Nya termasuk kita untuk saling melayani. Melayani adalah suatu keharusan bagi setiap orang yang mau menjadi murid Kristus. Karena kita menjadi murid Kristus yang telah datang ke dunia “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mt 20:28).

Kita dipanggil untuk menjadi murid Kristus. Itu berarti kita dipanggil untuk melayani seperti Kristus yang telah lebih dahulu melayani kita. Maka pertanyaan penting yang harus dijawab, “apakah Anda pernah mengalami dilayani Kristus?” Apakah Anda punya pengalaman pribadi dengan Kristus? Pengalaman relasi pribadi dengan Kristus itulah yang menjadi roh, jiwa dan semangat dari setiap tindakan pelayanan. Itulah yang dimaksudkan dengan spiritualitas pelayanan.

Dipanggil Untuk Melayani Sebagai Lektor, Pemazmur, Dirigen dan Organis

Tindakan pelayanan dapat dilakukan dalam bentuk apa saja dan di mana saja. Namun Anda dipanggil untuk memberikan pelayanan secara khusus yakni sebagai lector, pemazmur, dirigen dan organis. Untuk itu perlu disadari bahwa panggilan untuk pelayanan khusus seperti ini tidak direncanakan Tuhan dari kemarin, melainkan semenjak dari dalam kandungan, bahkan semenjak dari kekal. Tuhan punya sebuah rencana atau bisa dikatakan sebuah visi tentang diri setiap kita. Untuk itu semenjak dari dalam kandungan Tuhan telah melengkapi setiap orang dengan bakat atau talenta serta kemampuan agar terealisasi visi-Nya itu. Talenta itu diberikan Tuhan semata-mata karena kemurahan hati-Nya dan bukan karena hak kita untuk mendapatkannya. Karena itu manusia tidak punya alasan untuk menggugat Tuhan dan untuk merasa irihati. Sebaliknya manusia harus bersyukur atas apa yang diterimanya dan berusaha mengembangkannya serta memanfaatkannya untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Tuhan mempunyai sebuah visi atau mimpi tentang Anda yakni anda menjadi seorang lector, pemazmur, dirigen yang handal di Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya. Untuk itu Tuhan telah memberikan talenta itu untuk Anda. Anda harus bersyukur dan wajib Anda kembangkan serta manfaatkan untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesame. Kalau Anda simpan untuk diri sendiri, Anda tahu konsekuensinya seperti terungkap dalam perumpamaan tentang talenta (Mt 25:14-30) yakni hidup yang tidak bahagia. Sebaliknya, kalau Anda memperkembangkannya dan memanfaatkannya semaksimalnya untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama, Anda akan diberi kepercayaan yang lebih besar lagi sekarang ini di dunia dan nanti di akhirat. Siapa tahu di akhirat Anda pun terpilih menjadi lector, pemazmur, dirigen dan organis di surga. Karena di surga hanya ada liturgi.

Komitmen Untuk Melayani

Bunda Teresa pernah berkata, “Pada hari akhirat Tuhan tidak akan bertanya, apakah Anda sukses (sebagai lektor, pemazmur, dirigen atau organis), tetapi apakah Anda setia?”  Menjadi seorang lektor, pemazmur, dirigen dan organis yang terkenal itu baik, namun yang terpenting adalah komitmen atau kesetiaan untuk melayani. Untuk itu perlu disadari penyakit keturunan kita yakni cepat loyo atau kurang darah atau kehilangan semangat untuk melayani, cepat kecewa dan mutung atau ngambek. Kita kurang atau tidak bertanggungjawab atas apa kepercayaan yang telah diberikan kepada kita.

Orang mengatakan, kita menjalani hidup ini atau sebagai orang yang bertanggungjawab atau sebagai korban; sebagai lokomotif atau gerbong. Orang yang bertanggungjawab adalah orang yang tahu dan menyadari nilai dari sebuah pelayanan. Nilai pelayanan itulah yang direspons dalam setiap tindak pelayanannya sebagai lektor, pemazmur, dirigen dan organis.  Nilai pelayanan menjadi panglima atau pengarah utama sikap dan perilaku hidupnya. Perilaku hidupnya tidak ditentukan oleh orang lain, situasi dan kondisi tertentu. Orang yang bertanggungjawab pasti akan berusaha agar pelayanan itu dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya dan tidak ada alasan apa pun yang dapat menghambatnya seperti hujan, panas, kemacetan dlsb.

Komitmen atau kesetiaan dalam pelayanan harus dibangun atas dasar kesadaran dan keyakinan akan nilai dari sebuah pelayanan. Nilai dari sebuah pelayanan terletak dalam kasih Kristus dan kasih akan Kristus. Kasih Kristus dan kasih akan Kristus harus membakar hati dan pikiran kita, sehingga kita komit dan setia kepada pelayanan yang dipercayakan kepada kita. Dalam komitmen untuk melayani kita menjadi pelayan yang luarbiasa.

Faktor-faktor Pendukung Komitmen

Sekarang Anda berada pada jalan yang bercabang. Cabang yang satu yakni “menjadi  pelayan yang biasa-biasa saja”. Dan cabang yang lain yakni “menjadi pelayan yang luar biasa”. Anda dipersilakan untuk memilih jalan cabang yang mana. Orang harus memilih secara bebas agar tidak mengalami konflik batin antara apa yang ia lakukan dan apa yang harus ia lakukan. Menjadi apa dan siapa kita harus jadi pilihan kita sendiri. Dwight D. Eisenhower pernah mengatakan: “Sejarah orang bebas tidak pernah ditulis secara kebetulan. Sejarah itu ditulis dengan pilihan – yaitu pilihan mereka sendiri”. Setiap kita harus memilih sejarah macam apa yang mau kita tulis tentang diri kita sendiri.

Anda bisa memilih jalan cabang yang namanya “menjadi pelayan yang biasa-biasa saja”. Pilihan seperti itu memang syah-syah saja. Namun dengan memilih jalan cabang yang satu ini kita sebetulnya mematikan suara panggilan Tuhan dalam hati kita masing-masing. Tuhan sebetulnya memberikan kepada setiap kita talenta, bakat atau kemampuan untuk memilih arah kehidupan yang mengarah kepada hidup yang agung, hebat dan memberikan sumbangan atau kontribusi sebesar-besarnya untuk Tuhan dan sesama. Ingat perumpamaan Yesus tentang talenta (Mat 25:14-30).

Kiranya menjadi sebuah kebanggan bagi kita bahwa kita berani memilih jalan cabang yang baru. Kita tidak mau “menjadi pelayan yang biasa-biasa saja”. Menjadi pelayan yang luar biasa harus menjadi visi, mimpi, cita-cita setiap kita yang harus kita perjelas secara pribadi. Visi berarti dengan mata batin melihat kemungkinan yang terdapat dalam diri sendiri, orang lain, organisasi dlsb. Dengan mata batin saya melihat secara jelas kemungkinan yang begitu besar dalam diri bapa dan ibu untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang handal seprti yang dikehendaki Tuhan.

Dan untuk mewujudkan visi itu dibutuhkan disiplin . Disiplin itu harga yang harus dibayar untuk sebuah visi. Disiplin berarti kemampuan untuk mengalahkan suatu yang baik demi sesuatu yang lebih baik. Untuk melaksanakan disiplin dengan baik dibutuhkan gairah. Gairah itu api, hastrat berkobar-kobar untuk mempertahankan disiplin agar terus berjuang guna mencapai visi. Gairah itu tumbuh dari pertemuan antara kebutuhan dan kemampuan. Kita melihat kebutuhan Gereja Katolik akan  pelayan-pelayan yang handal dan anda memiliki kemampuan untuk menjadi seperti itu. Kita masih butuh kekuatan lain yakni nurani untuk mendayagunakan disiplin dan gairah guna mewujudkan visi. Kita tekun dan punya komitmen untuk mewujudkan visi itu karena kesadaraan moral bahwa apa yang kita lakukan itu baik dan benar.

Albert Schweitzer pernah mengatakan: “Dalam hidup setiap orang, pada suatu saat, padamlah api dalam diri. Api itu kembali menyala karena pertemuan dengan orang lain. Kita semua seharusnya berterima kasih kepada orang-orang yang kembali mengobarkan semangat dalam diri kita.”  Setiap kita suatu saat mungkin berkobar-kobar untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang luarbiasa, namun harus kita sadari bahwa api itu bisa padam. Kita butuh orang lain untuk menyalakan kembali api itu dalam diri kita. Itu perlu pertemuan berkala untuk saling meneguhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan kita menjadi palayan-pelayan Tuhan yang handal.

Penutup

Perlu kita sadari factor-faktor yang dapat melemahkan komitmen kita untuk menjadi pelayan yang luabiasa. Faktor-faktor penghambat itu akan berkurang dampaknya, kalau kita mengembangkan factor-faktor pendukung tersebut di atas. Kita manusia tidak akan pernah berhenti berdosa. Maka hal yang terpenting adalah perbanyak perbuatan kasih, supaya dosa kita berkurang. Semoga lewat pelayanan kasih yang kita berikan sebagai lector, pemazmur, dirigen dan organis, kita mengurangi dosa yang ingin bercokol dalam diri kita. Semoga!

P. Alex Dato’L, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top