Dialog

Tanya Jawab: Anak Kecil Menerima Komuni

Pertanyaan:
Apakah anak kecil boleh terima Komuni? Kapan seorang anak boleh terima komuni? Anak usia berapa sudah boleh menerima Komuni?”

Jawaban:

Gambar dari: pandu.katolik.or.id

Saya memulai jawaban untuk pertanyaan tersebut di atas dengan sebuah ceritera. Ceritera ini saya ambil dari Majalah Liturgi (Komisi Liturgi KWI). Orang Katolik di sebuah desa pedalaman membangun sebuah kapel atau rumah ibadat. Karena belum mampu untuk membeli peralatan liturgi yang baik, mereka menggunakan peralatan seadanya. Tabernakel dibuat dari kayu yang sederhana. Sebagai pengganti sibori mereka menggunakan plastik kue.  Alkisah di kapel itu tinggal seekor tikus. Suatu malam tikus itu kelaparan dan mencari makanan. Rupanya tercium oleh tikus itu di dalam tabernakel ada sesuatu yang bisa dimakan. Maka tikus itu menggerogoti tabernakel itu dan menemukan hosti (sudah dikonsekrir) dalam plastik. Hosti itu dimakan habis oleh tikus. Nah, pertanyaannya, apakah tikus itu menyambut komuni seperti orang Katolik menyambut Komuni waktu menghadiri perayaan Ekaristi? Jelas, tikus itu tidak menyambut komuni alias bukan tikus Katolik. Karena, tikus itu samasekali tidak tahu bahwa hosti itu sudah menjadi Tubuh Kristus dan lagi tikus itu samasekali tidak mengimaninya. Tikus itu makan hosti sama seperti ia makan makanan yang lain. Dengan demikian hosti itu tidak punya nilai dan makna iman untuk tikus itu.

Seorang anak kecil belum/tidak tahu tentang hakekat hosti yang oleh kata-kata konsekrasi telah berubah menjadi Tubuh Kristus dan karenanya juga belum mengimaninya. Oleh sebab itu kalau kepada seorang anak kecil diberi hosti, ia bukan menyambut Komuni atau menerima Tubuh Kristus, tetapi ia hanya menerima hosti dan makan hosti. Maka nilainya kurang lebih sama dengan hosti yang dimakan tikus, yang diceriterakan di atas. Kalau demikian halnya, pemberian hosti kepada anak kecil merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap Tubuh Kristus. Karena kita merendahkannya hanya sebagai sesuatu yang bisa dimakan sama seperti biskuit atau mendesakralisasikan hosti. Kadang ada orangtua yang memberikan sepotong hosti yang disambutnya kepada anaknya yang merengek memintanya. Perbuatan orangtua seperti itu jelas sebuah pelecehan dan penghinaan terhadap Tubuh Kristus serta berpotensi melukai rasa keagamaan orang lain. Itu sebabnya di NTT pelaku pelecehan hosti sulit ditolerir orang Katolik. Pemberian hosti kepada anak kecil yang belum berhak menerimanya termasuk dosa sakrilegi yakni dosa penghinaan  barang suci.

Dengan pertimbangan seperti di atas komuni belum diberikan kepada seorang anak. Dalam sejarah Gereja pemberian komuni kepada seorang anak dimulai dengan keputusan Paus Pius X. Paus Pius X memutuskan pemberian komuni kepada anak berusia 7 tahun dan juga penerimaan komuni setiap hari. Dasar keputusan Paus Pius X adalah sabda Yesus sendiri: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu, sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan Surga” (Mat 19:14). Penerapan keputusan itu diberbagai tempat cukup bervariasi. Di paroki-paroki di NTT komuni pertama diberikan kepada anak usia kelas V SD atau VI SD. Di Paroki Katedral komuni pertama biasanya diberikan kepada anak usia kelas IV SD, karena banyak guru agama mengalami kesulitan untuk mempersiapkan anak usia kelas III SD.

Mengingat ada anak yang berperilaku merengek ingin tahu hosti yang diterima orangtuanya, para orangtua dimohon dengan sangat pengertiannya untuk tidak mencuil hosti yang diterimanya dan memberikannya kepada anaknya. Jangan sampai orangtua yang melakukan hal itu, sebetulnya sama dengan anaknya yakni hanya makan hosti dan tidak menyambut komuni atau menerima Tubuh Kristus. Jangan sampai banyak umat kita yang demikian kondisi imannya. Marilah kita membaharui iman kita akan Ekaristi. Semoga! **P. Alex Dato’ L., SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top