Dialog

Tanya Jawab: Musik Gereja

Pertanyaan:
Akhir-akhir ini saya merasakan suatu krisis sedang terjadi dalam Musik Liturgi. Apakah hal ini disebabkan oleh rasa bosan, tidak bersemangat atau ada hal lain yang mempengaruhi kemerosotan jiwa Musik Liturgi kita? Kadang-kadang, petugas kor dan organis melaksanakan tugas alakadarnya. Adakah hal-hal yang perlu dibenahi untuk menghidupkan kembali Musik Liturgi?

LD, Lingk. St. Arnoldus

Jawaban:
Saudara LD, pertanyaan yang sangat menarik dan sangat bermanfaat. Memang, krisis dalam Musik Liturgi tidak terjadi hanya di tempat kita ini. Terjadi hampir di seluruh dunia. Kami mengutip pendapat PML (Pusat Musik Liturgi – Yogyakarta) tentang sebab-sebab krisis dalam Musik Liturgi.

  1. Petugas kurang bersemangat, apalagi kalau itu hanya Minggu Biasa dan bukan Hari Raya. Lebih parah lagi kalau itu Misa Sore dan bukan Misa Pagi yang biasanya banyak umat. Para petugas melaksanakan tugas sebagai rutinitas saja, tanpa penghayatan.
  2. Para petugas memiliki pengetahuan yang sangat terbatas berhubungan dengan Musik Liturgi. Petugas kor, dirigen dan organis adalah sukarelawan saja. Kebetulan mereka bisa karena bakat, mereka menyumbangkannya sebagai persembahan pada Tuhan. Namun, mereka ini agak susah untuk dituntut berlatih karena sesungguhnya bukanlah itu tugas utamanya.
  3. Musik Liturgi kehilangan dayanya, kehilangan sifat sakralnya. Kita jatuh dalam perangkap sekularisasi atau anggapan bahwa kita dapat membuat diri kita selamat.
  4. Tekanan pada peraturan-peraturan yang mematikan semangat para petugas musik liturgi maupun umat.[1]
Beberapa hal yang disebutkan di atas adala pendapat PML dalam mencermati perkembangan Musik Liturgi dewasa ini. Oleh karena itu, bila Saudara LD mempertanyakan hal ini, kami pikir sangatlah wajar dan penilaian saudara sangat tepat.
Mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan kembali Musik Liturgi, berikut ini dapat disebutkan beberapa hal:
  1. Adanya niat dan keinginan para petugas untuk menjadikan liturgi bersuasana hidup dan bersemangat. Bukan dengan menirukan gerakan Kharismatik, tetapi dengan berusaha agar Tuhan menyentuh hati. Liturgi harus diperkaya dengan saat-saat hening. Kita harus membiarkan Tuhan menyentuh kita dalam keheningan. Meriah bukan berarti hidup dan bersemangat. Kita harus bisa membedakan kedua istilah ini. Liturgi sangat membutuhkan keheningan agar pengendapan segala sabda Tuhan lebih mudah.
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang musik liturgi dan ketrampilan sebagai dirigen, penyanyi, organis, pemazmur. Latihan-latihan sangat dibutuhkan untuk ini. Kita harus melawan anggapan ‘saya sudah cukup terlatih’ atau dengan kata lain: karena malas. Semangat tidak jatuh dari langit, tetapi perlu persiapan seperti teknik nyanyi, ketrampilan jari dan sebagainya.
  3. Memperdalam dan meningkatkan faham tentang Allah. Hanya kalau kita punya faham tinggi tentang Allah, liturgi kita akan berarti dan hidup kita akan berubah. Hanya dari Tuhan nyanyian kita akan memperoleh ‘isi’ atau ‘hidup’ dan akan menjadi pewartaan sejati.
  4. Memahami bahwa yang bertugas bukanlah ‘aku’, ‘saya’, tetapi yang bertugas adalah ‘kami’ atau ‘kita’. Di dalamnya harus ada unsur kebersamaan sehingga tanggung jawab ini menjadi tanggung jawab bersama.
  5. Meningkatkan pengetahuan tentang lagu-lagu inkulturasi yang merupakan kekayaan tersendiri, khususnya Gereja Indonesia. 
Kesadaran untuk berliturgi di antar umat semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang sangat kurang tentang liturgi. Oleh karena itu, yang menjadi pionir untuk memperkenalkan liturgi yang baik kepada umat adalah para Pastor, Diakon, Guru Agama dan Katekis.[2]
Karena begitu pentingnya peranan Musik Liturgi dalam Gereja, maka ada sebuah Lembaga Khusus yang menyediakan pelatihan untuk musik liturgi. Adanya pengalokasian waktu khusus untuk itu adalah pertanda bahwa musik liturgi tidak dapat dipandang sebelah mata saja atau dianggap sepele. Musik liturgi harus ditata dan dikoordinir dengan baik, dan tentunya sangat berhubungan dengan manajemen stasi atau paroki.
Secara khusus untuk Saudara LD, dengan jawaban ini, kami menghimbau dan mencoba menumbuhkan ketertarikan terhadap musik liturgi. Alangkah baik bila semua umat tertarik untuk memperhatikan hal ini. Tapi tentu hanya sebagian yang memiliki minat dan bakat khusus sebagai profesional di bidang ini. Siapa tau, Saudara LD termasuk di antaranya, kami sangat mendukung. Semoga jawaban ini menjawab pertanyaan di atas. **Kairos
[1]Buku Latihan Dirigen, PML 2013
[2]Ibid
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top