Frame

Tema Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral Palangka Raya

Pada tahun 2012, setahun menjelang perayaan 50 Tahun Paroki Katedral, Pengurus Harian Dewan Pastoral Paroki Katedral telah membentuk Panitia Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral, yang diteguhkan dan diberkati oleh bapak Uskup dalam perayaan Ekaristi hari Minggu, 4 Maret 2012, bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Paroki Katedral yang ke-49. Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral direncanakan akan diselenggarakan selama enam bulan atau setengah tahun, yang dibuka pada tgl. 1 Maret 2013 dan berpuncak pada pesta Pelindung Paroki, hari Minggu tgl. 8 September 2013. Untuk mengarahkan rangkaian kegiatan sepanjang perayaan ini, Panitia merasa perlu menetapkan tema dan sub tema Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral. Tema perayaan 50 Tahun Paroki Katedral yang diusung Panitia diambil dari kata-kata inspiratif rasul Paulus: “Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13). Berdasarkan tema tersebut kemudian dirumuskan sub tema untuk mengoperasionalkan tema tersebut di atas yakni: “Satu Hati, Satu Komunitas, Satu Pelayanan Menuju Pemantapan Kedewasaan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya”.

Kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus kiranya menjadi cita-cita atau mimpi seluruh umat Paroki Katedral yang harus diwujudkan bersama. Cita-cita itu diwujudkan pertama-tama dengan membangun kesatuan yakni satu iman aneka wajah. Umat Paroki Katedral saat berasal dari aneka suku dan bahasa di tanah air dengan status sosial yang sangat bervariasi. Karena sangat diharapkan seluruh umat dapat saling merangkul dalam bingkai iman Katolik dengan merobohkan semua sekat yang memisahkan entah suku, budaya, status sosial atau sekat apa pun juga. Keanekaan wajah umat Paroki Katedral Palangka Raya harus diterima dengan penuh syukur sebagai anugerah Tuhan dan kiranya menjadi kekuatan dan modal atau aset berharga bagi paroki Katedral. Kesatuan umat Paroki Katedral dalam keanekaan wajah merupakan buah dan sekaligus indikator kedewasaan iman umat paroki Katedral.

Tahun persiapan 2012 dan tahun pelaksanaan pesta emas Paroki 2013, kiranya menjadi kesempatan emas bagi seluruh warga Paroki untuk secara aktif membangun iman agar semakin mantap, sehingga menghasilkan buah dalam aneka bentuk yakni semakin mantap persatuan dan kesatuan sebagai satu komunitas, semakin aktif dan kreatif dalam pelayanan baik dalam kehidupan menggereja mulai dari Lingkungan sampai tingkat Paroki maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kita berharap kesadaran iman umat akan mendorong semakin banyak orang yang mau terlibat dalam pelayanan. Kita mendengar keluhan tentang kurangnya orang yang mau terlibat dalam kegiatan koor pada perayaan Ekaristi di gereja. Misa hari Minggu sore sering dianaktirikan karena absennya petugas liturgi seperti lektor dan pemazmur. Padahal misa hari Minggu sore itu sama dengan misa pagi untuk memuji dan memuliakan Allah. Kurangnya motivasi iman menyebabkan orang begitu mudah melalaikan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ini menjadi tantangan bagi kita semua yang harus kita atas bersama.

Dalam lingkaran satu iman aneka wajah itu, seluruh umat berjuang membangun sebuah komunitas yang solid guna meningkatkan pelayanan / pengabdian kepada Gereja dan masyarakat sehingga Gereja Katedral St. Maria dapat menjadi tanda dan sarana keselamatan yang efektif. Tiga aspek ini kiranya menjadi indikator untuk mengukur kemantapan kedewasaan Paroki atau Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya.

Sub tema dari Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral adalah “Satu Hati, Satu Komunitas, Satu Pelayanan Menuju Pemantapan Kedewasaan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya”. Rasul Yohanes mengungkapkan refleksi imannya atas peristiwa inkarnasi dengan mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Rasul Yohanes meyakini bahwa Yesus adalah Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan dengan cara itu Allah dalam diri Yesus Kristus dapat tinggal di tengah kita manusia. Yesus datang untuk merajut kembali kebersamaan yang telah tercabik-cabik oleh dosa manusia pertama, Adam dan Hawa. Yesus datang untuk memulihkan relasi cinta dengan Allah dan merangkul seluruh umat manusia dalam bingkai kesatuan sebagai satu keluarga, satu komunitas dan satu kerajaan yakni Kerajaan Allah yang dijiwai oleh kasih persaudaraan. Dalam kesatuan kasih persaudaraan dan lewat kesatuan kasih persaudaraan kita mewujudkan kebahagiaan bersama.

Kebersamaan atau persaudaraan harus diyakini sebagai perangkat perkasa untuk membuat semua impian menjadi kenyataan. Ibarat sapu lidi. Dengan satu batang sapu lidi orang bisa menyapu membersihkan sesuatu yang kotor, namun kurang efektif dibandingkan dengan banyak lidi yang diberkaskan dengan ikatan kuat menjadi satu berkas. Dengan satu berkas sapu lidi orang dapat menyapu jauh lebih bersih dan lebih efektif. Kita dapat juga mengggunakan perbadingan lilin bernyala. Satu lilin bernyala dapat menerangi satu ruangan yang gelap gelita. Namun cahaya dalam ruangan itu akan lebih cemerlang bila banyak lilin yang dinyalakan bersama dalam satu kebersamaan. Demikian juga kita sebagai satu persekutuan / komunitas umat beriman. Secara individual kita dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama, tapi pasti jauh lebih efisien dan efektif kalau kita dapat berbuat sesuatu bersama-sama dan bersama-sama berbuat sesuatu.

Kebersamaan dalam perbandingan seperti disebut di atas selalu membuat sesuatu menjadi lain dan punya nilai lebih. “Together to make difference”. Sebuah semboyan yang sangat inspiratif. “ “Bersama Mewujudkan Perubahan”. Dalam kebersamaan pasti dapat tercipta sebuah perubahan. Perubahan menjadi sebuah jargon yang selalu menjadi tema yang menarik dalam kampanye pemilihan presiden. Kita masih ingat kampanye presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengusung perubahan sebagai tema yang berhasil menggerakkan hati banyak pemilih untuk menjatuhkan pilihannya pada beliau. Dan yang masih amat segar dalam ingatan kita adalah kemenangan Barack Obama yang juga mengusung tema perubahan dan secara cemerlang telah menjadikan Obama sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat. “Change we believe in”.

Kalau kita mau agar terjadi perubahan dalam Paroki Katedral yang tercinta ini, tidak bisa tidak kita harus mulai dengan “membangun kebersamaan” (sense of belonging). Rasul Paulus mengajak umat di Filipi dan tentu juga umat Paroki Katedral untuk membangun kebersamaan, satu hati, satu komunitas dan satu pelayanan dengan kata-kata indah “….hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Flp 2:2-4).

Hal pertama, harus ditumbuhkan kesadararan (konsientisasi) bahwa setiap kita adalah bagian dari perubahan itu. Di saat kita mengikatkan diri dalam kebersamaan sebagai satu Lingkungan dan satu Paroki, saat itu perubahan sudah mulai terjadi. Kesadaran itu harus disusul dengan komitmen untuk aktif berpartisipasi dalam bingkai kebersamaan sesuai kemampuan atau talenta yang kita terima dari Tuhan.  Sebuah ungkapan mengatakan, “Kalau komitmen 100% hasilnya pun 100%”. Selanjutnya seperti efek domino, satu perubahan akan menggerakkan perubahan berikutnya dan seterusnya.

Perubahan itu sedang terjadi dan perlu kita tingkatkan dalam segala aspek kehidupan menggereja yakni pewartaan (kerugma), liturgi (liturgia), pelayanan (diakonia) dan persekutuan (koinonia / martiria). Keempat bidang pokok itu merupakan soko guru Gereja yang akan menopang seluruh kehidupan Gereja. Perubahan dalam keempat bidang itu akan menjadi lokomotif yang membawa Paroki Katedral terus berubah dan Paroki Katedral betul-betul tampak beda karena kebersamaan kita. Kita percaya, perubahan itu bisa terjadi karena kebersamaan kita. “Together to make difference! Change we believe in!” “Bersama mewujudkan perubahan!” “Kita yakin akan perubahan!” Satu hati, satu komunitas, satu pelayanan! Semoga ! ** P. Alex Dato’L, SVD

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top