Katekese

Victorinus Raja Odja, BKSN 2016 (3): Bersaksi dan Mewartakan dalam Gereja [Kis. 18:1-8]

Tanpa terasa kita telah memasiki pekan ketiga dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Tema yang akan direnungkan dalam pertemuan ketiga ini yaitu: Bersaksi dan Mewartakan dalam Gereja. Tema tersebut merupakan kelanjutan dari tema-tema pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan pertama dengan tema “Yesus Model Pewarta Sejati”, kita diajak untuk melihat dan menjadikan Yesus sebagai model dan pusat pewartaan kita di tengah dunia. Pertemua kedua dengan tema “Bersaksi dan Mewartakan dalam Keluarga”, kita diajak untuk menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing, sehingga mampu menjadi teladan yang menghadirkan dan mewartakan Kristus di dalam keluarga.

Dalam pertemuan ketiga ini, kita diajak untuk bersama-sama merenungkan kisah pelayanan dan pewartaan Paulus di Korintus melalui teks Kitab Suci yang diambil dari Kis. 18:1-8. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah pewartaan yang dilakukan Paulus di Korintus. Paulus dapat kita jadikan teladan dalam bersaksi dan mewartakan Kristus di tengah dunia. Situasi Korintus pada jaman Paulus mungkin berbeda dengan situasi saat ini, namun semangat pewartaan Paulus dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk memberikan kesaksian dan pewartaan kepada sesama. Ada pun hal-hal yang dapat diteladani dari pelayanan dan pewartaan Paulus, antara lain:

1. Sadar akan panggilan sebagai pewarta.
Fakta yang dapat ditangkap dari situasi umat beriman saat ini yaitu kurangnya kesadaran akan panggilan dan tanggung jawabnya sebagai pewarta kabar sukacita. Umat beriman sering kali beranggapan bahwa tugas untuk mewartakan hanyalah tanggung jawab para klerus, biarawan-biarawati dan katekis. Kalau pun ada umat awam yang terlibat dalam pelayanan hanya sebatas agen pastoral terstuktur, seperti Dewan Pastoral Paroki (DPP), Tim Pastoral Lingkungan (TPL), Ketua Lingkungan, dan lain sebagainya. Akhirnya, umat beriman kurang memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk mewartakan dan bersaksi tentang Kristus. Seharusnya setiap umat beriman yang telah dipersatukan dan diteguhkan melalui sakramen baptis dan krisma, berusaha mewujudnyatakan dan menghidupi rahmat Roh Kudus yang telah diterima. Setiap umat beriman dituntut untuk  membantu karya misi Gereja dengan mewartakan dan bersaksi tentang Kristus di mana saja berada. Kesadaran ini harus tumbuh dari dalam diri setiap individu. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam menumbuhkan kesadaran untuk bersaksi dan mewartakan Kristus.

2. Pewaertaaan dimulai dari dalam Komunitas (Keluarga)
Komunitas (keluarga) merupakan tempat berhimpunnya orang-orang beriman yang menjadi rekan untuk menimba pengalaman, kekuatan dan kehidupan rohani. Inilah yang dialami oleh Paulus, ketika Paulus ingin memulai pewartaan dan kesaksiannya di tengah jemaat Korintus, ia menumpang di rumah keluarga Akwila dan Priskila. Paulus menumpang di rumah keluarga ini karena mereka seiman dan seprofesi sebagai tukan tenda. Tentu hal ini memudahkan Paulus untuk memperoleh kekuatan rohani dan bantuan finansial sebab mereka bekerja bersama. Kita sebagai umat beriman yang pada umumnya hidup dan dibesarkan dalam keluarga tentu telah memperoleh kekuatan iman yang baik melalui orang tua dan saudara-saudara kita lainnya. Kita juga memporoleh dukungan finansial yang cukup untuk kehidupan kita. Oleh karena itu, merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk dapat menjadi pewarta dan bersaksi tentang Kristus kepada sesama.

3. Pelayanan tanpa upah
Paulus memberikan contoh dan teladan yang baik bagi kita dalam pelayanan dan pewartaannya di Korintus. Paulus sama sekali tidak ingin membebani orang lain dengan kedatanganya untuk mewartakan Kristus. Ia berusaha untuk terus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan maksudnya untuk tinggal di rumah Akwila dan Priskila adalah agar dapat bekerja bersama karena mereka seprofesi sehingga ia tidak membebani orang lain. Paulus pun mempunyai misi untuk mewartakan dan bersaksi tentang Yesus tanpa upah. Semangat Paulus ini tentu dapat kita teladani dalam menjalankan tugas pewartaan kita di tengah umat beriman. Jangan sampai tanggung jawab kita sebagai umat beriman untuk mewartaan dan bersaksi tentang Kristus dihalangi oleh kesibukan untuk mencari harta dunia. Jangan sampai pula pelayanan dan perwartaan yang kita lakukan hanya bertujuan untuk menumpuk kekayaan sehingga membebani orang lain dan menyulitkan orang lain.

4. Tidak pernah putus asa
Dalam menjalankan misi pewartaanya di Korintus, Paulus juga mengalami penolakan oleh jemaat setempat. Namun, Paulus tidak pernah putus asa, ia keluar dari rumah ibadat tersebut dan kembali mencari tempat lain yang dekat dengan tempat ibadah sehingga ia dapat mewartakan dan bersaksi tentang Kristus. Kegigihan dan semangat pantang menyerah Paulus ini patut diteladani. Dalam melakukan karya pelayanan dan pewartaan pasti akan ada pro dan kontra. Ada orang yang mungkin menolak karena iri hati. Ada orang yang mungkin membuang kata-kata yang kurang mengenakan kepada kita. Tentu ini semua merupakan tantangan yang bukan untuk dihindari tetapi harus dihadapi mungkin dengan metode dan cara pewartaan yang berbeda. Tuhan pasti punya rencana yang baik agar karya pewartaan-Nya terus berlanjut. Dalam keadaan sulit dan mengalami penolakan berarti usaha dan semangat kita diuji untuk memperoleh ketahanan yang lebih dan melihat besarnya karya Tuhan dalam pelayanan dan pewartaan.

Berkaitan dengan pewartaan dan kesaksian iman tentu Allah tidak pernah tinggal diam. Dia melihat semua usaha dan perjuangan kita dalam bersaksi dan mewartakan Kristus kepada semua bangsa. Ia akan memberikan ganjaran yang setimpal yaitu dengan hadirnya bantuan-bantuan dan semakin banyaknya orang-rang yang menerima dan meymberikan diri untuk melayani Kristus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top