Katekese

Victorinus Raja Odja, BKSN 2016 (4): Bersaksi dan Mewartakan di Tengah Masyarakat [Matius 5:13-16]

Tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2016 adalah Keluarga yang Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah. Tema umum ini akan ditutup dengan sub tema pada pertemuan terakhir yaitu Bersaksi dan Mewartakan di Tengah Masyarakat. Tugas utama seorang murid Kristus adalah ikut ambil bagian dan dalam tugas pewartaan kabar gembira di tengah masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita dalami tema ini bersama melalui teks Kitab Suci yang diambil dari Injil Matius 5:13-16, yaitu tentang Garam dan Terang Dunia. Pesan Yesus dalam perikop ini sangat sederhana, namun mengandung makna yang sangat mendalam. Yesus mengharuskan kita semua sebagai murid-murid-Nya untuk menjadi garam dan terang dunia.

Menjadi garam dunia. Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita sudah akrab dengan garam. Garam mengandung banyak fungsi yang membawa kebaikan. Garam biasa digunakan sebagai bumbu dasar untuk memberi rasa yang enak pada masakan. Garam bisa digunakan untuk mengawetkan bahan makanan. Dalam Kitab Suci ditunjukkkan juga berbagai fungsi dari garam, antara lain: Garam menjadi bahan utama dalam persembahan (Im. 2:13 dan Yeh. 43:24). Garam disebut dalam “pernjanjian garam” (Bil. 18:19; Im. 2:13; 2Taw. 13:5), hal ini berkaitan dengan fungsi garam sebagai pengawet dan membuat makanan bertahan lama. Garam berguna untuk menyucikan air (2Raj. 2:19-23). Garam juga dihubungkan dengan perdamaian (Mrk. 9:50), hal ini berhubungan dengan perjanjian garam, orang diikat dalam janji untuk saling setia. Mungkin masih banyak fungsi lain yang belum kita ketahui dalam penggunaan garam. Dalam konteks kemuridan Yesus, menjadi garam dunia berati berani menunjukkan identitas sebagai murid Yesus kepada masyarakat luas. Setiap murid Yesus harus menjadi tanda kehadiran Tuhan dan menghantar orang kepada untuk semakin dekat Tuhan.

Menjadi terang dunia. Terang bisa dikatakan menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kita tidak akan bisa melakukan banyak hal bisa berada dalam kegelapan. Semua orang menginginkan dan membutuhkan terang dalam hidupnya agar dapat melakukan banyak hal yang berguna. Kitab Suci juga sering kali mengunakan kata terang. Terang menjadi ciptaan pertama yang diciptakan Tuhan (Kej. 1:3). Ketika di padang gurun, Tuhan datang dalam bentuk tiang api untuk menerangi dan menuntun umat Israel (Kel. 13:21). Ketika dalam kekelaman, umat Israel juga dijanjikan raja damai yang akan lahir sebagai terang yang besar (Yes. 9:1). Injil Yohanes juga secara eksplisit menyebut Yesus sebagai Terang (Yoh. 1:9). Terang memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Terang mampu membuat kita melihat segala sesuatu. Esensi dari terang adalah menampakkan hal-hal yang tersembunyi. Terang membuat kegelapan sirna. Terang bisa menjadi penuntun dalam kegelapan. Orang yang berada dalam kegelapan akan mencari penerangan yang dapat menuntun mereka kepada tujuan yang benar. Dalam konteks sebagai murid Yesus, menjadi terang dunia berarti berani memberikan kesaksian hidup yang baik, yang jauh lebih berdaya guna dari pada kata-kata. Tindakan dan praktek hidup yang ditunjukan harus mampu membawa orang lain kepada keselamatan.

Yesus berharap agar kita sebagai pengikut-Nya dapat menjadi garam dan terang di tengah dunia. Jangan sampai garam menjadi tawar dan terang yang kita miliki ditempatkan di bawah gantang. Esensi dari garam adalah asin. Jika garam menjadi tawar tentu akan kehilangan rasa asin, berarti kehilangan identitasnya. Penginjil memakai kata moraino untuk menggambarkan garam yang menjadi tawar. Selain berarti “menjadi hambar” kata moraino juga berarti “menunjukkan kebodohan” atau “menjadi bodoh.” Seorang pengikut Kristus yang tidak menjadi garam di tengah dunia sama dengan orang yang “menjadi bodoh” dan kehilangan identitas kemuridannya. Dalam hal terang, Yesus mengambarkannya dengan pelita yang bernyala. Sangat ironis jika pelita yang bernyala diletakan di bawah tempayan. Yesus menggunakan kata modios untuk mengambarkan tempayan. Modios biasa digunakan sebagai tempat untuk mengukur gandum. Meletakan pelita di bawah modios merupakan sebuah tindakan yang bodoh karena tidak membawa kegunaan apa pun. Pelita akan berguna jika diletakan di atas kaki pelita dan menerangi seluruh isi rumah. Inilah yang Yesus harapkan dari para pengikut-Nya.

Pada akhir perikop, Yesus memberi kesimpulan atas wejangannya dengan mengatakan: “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat.5:16). Ada dua hal yang dapat dipetik dari kesimpulan Yesus tersebut. Pertama, menjadi garam dan terang dunia harus diwujudkan dalam bentuk perbuatan baik. Setiap orang adalah orang yang baik. Perbuatan baik harus ditampakkan kepada sesama. Menjadi pengikut Yesus berarti berani menunjukkan dan mempromosikan perbuatan-berbuatan baik yang telah diajarkan Yesus. Jika semua orang menunjukkan kebaikan tentu dunia akan terasa damai dan menenangkan. Sebaliknya jika kebaikan yang dimiliki tidak ditampakkan maka dunia akan terasa suram, penuh kecurigaan dan kejahatan. Kedua, ketika seorang pengikut Kristus mampu setia dalam menunjukkan perbuatan baik kepada sesama, maka orang yang melihat dan merasakannya akan memuliakan Bapa yang di surga. Tujuan dari menjunjukkan kebabaikan adalah agar orang semakin merasakan kasih dan kebaikan dari Bapa sendiri, sehingga nama Bapa semakin dimuliakan. Sebagai pengikut Kristus, kita telah menerima kebaikan yang bagitu besar dari-Nya oleh karena itu kita harus memantulkan cahaya kebaikan itu kepada semua orang. Inti dari perumpamaan garam dan terang dunia yaitu bagaimana keterlibatan kita sebagai pengikut Kristus dalam mewujudkan kebaikan dan nilai cinta kasih di tengah dunia. Tuhan memberkati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top